Medan (Humas) — Penyuluh Agama Buddha Kementerian Agama Kota Medan, Ari Suryana, terus memberikan pembinaan keagamaan kepada generasi muda melalui kegiatan penyuluhan yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Salah satunya dilaksanakan kepada siswa tingkat SMP di Sekolah Minggu Buddha (SMB) Prasadha Jinadhammo Mahathera, Minggu (6/9/2026). Dalam kegiatan tersebut, siswa mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya membangun hubungan pertemanan yang sehat, saling menghargai, serta dilandasi kesadaran dalam berpikir, berbicara, dan bertindak.
Penyuluhan tersebut mengajak para siswa memahami bahwa pertemanan merupakan bagian penting dalam proses tumbuh dan berkembang, sehingga perlu dibangun dengan sikap saling menghormati dan memberikan ruang kepada setiap individu. Ari menjelaskan bahwa hubungan yang sehat tidak seharusnya didasari keinginan untuk mengatur, mengekang, ataupun memaksakan kehendak kepada teman. Nilai-nilai Dhamma diharapkan dapat menjadi pedoman bagi siswa dalam membangun hubungan sosial yang harmonis, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
“Pertemanan yang baik bukan tentang memiliki atau menguasai teman, tetapi bagaimana kita dapat saling menghargai, memberikan kepercayaan, dan memberikan ruang kepada teman untuk menjadi dirinya sendiri. Ketika kita mampu melepaskan keinginan untuk mengatur orang lain, hubungan pertemanan akan menjadi lebih nyaman dan sehat,” ujar Ari.
Lebih lanjut, Ari mengingatkan para siswa mengenai pentingnya menjaga ucapan ketika berkomunikasi dengan teman maupun orang lain. Menurutnya, perkataan yang disampaikan tanpa kesadaran dapat menimbulkan salah paham, melukai perasaan, bahkan menjadi pemicu konflik dalam hubungan pertemanan. Karena itu, setiap siswa perlu belajar mempertimbangkan perkataan sebelum disampaikan, terutama ketika sedang berada dalam kondisi emosi.
“Sebelum berbicara, kita perlu menyadari apa yang akan kita sampaikan, kepada siapa kita berbicara, dan bagaimana dampak perkataan tersebut terhadap orang lain. Biasakan berbicara dengan sopan dan penuh perhatian, karena ucapan yang baik dapat menjaga hubungan, sedangkan ucapan yang tidak dipikirkan dapat menimbulkan masalah,” jelasnya.
Selain menjaga ucapan, kegiatan tersebut juga memberikan pemahaman mengenai mindfulness atau kesadaran penuh dalam menjalani setiap aktivitas. Ari menjelaskan bahwa kesadaran penuh membantu seseorang mengenali kondisi batin dan mengendalikan respons sebelum mengambil tindakan. Dengan demikian, siswa diharapkan tidak mudah terbawa emosi ketika menghadapi perbedaan pendapat, kekecewaan, atau persoalan yang muncul dalam pertemanan.
“Mindfulness mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, menyadari kondisi batin, kemudian mempertimbangkan akibat sebelum melakukan sesuatu atau mengucapkan sesuatu. Dengan kesadaran, kita dapat memilih tindakan yang lebih bijaksana dan tidak mudah bereaksi hanya karena emosi sesaat,” tuturnya.
Ari juga mengajak siswa memahami bahwa hubungan yang baik membutuhkan kepercayaan, penghargaan, serta kesediaan untuk saling memberikan manfaat. Menurutnya, kemampuan menjaga pertemanan dengan baik merupakan salah satu bentuk penerapan nilai-nilai Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Sikap saling menghargai dan tidak memaksakan kehendak juga dapat membantu menciptakan lingkungan pergaulan yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan setiap individu.
“Kita belajar untuk saling menghargai, berbicara dengan sopan, dan menyadari setiap perkataan maupun perbuatan, sehingga hubungan yang kita bangun dapat tetap sehat dan memberikan manfaat bagi satu sama lain. Jangan menjadikan pertemanan sebagai alasan untuk menguasai atau membatasi orang lain,” katanya.
Kegiatan penyuluhan tersebut diharapkan dapat memberikan bekal positif bagi siswa SMB Prasadha Jinadhammo Mahathera dalam membangun hubungan sosial yang sehat dan harmonis. Pemahaman mengenai pentingnya memberikan ruang, kepercayaan, serta menghormati pilihan orang lain diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, latihan untuk menyadari pikiran, ucapan, dan tindakan diharapkan membantu siswa tumbuh menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan mampu mengelola emosi dengan baik.
Melalui kegiatan pembinaan tersebut, Penyuluh Agama Buddha Kemenag Kota Medan terus berupaya menghadirkan nilai-nilai Dhamma yang relevan dengan kehidupan generasi muda. Pembinaan tidak hanya diarahkan pada pemahaman keagamaan, tetapi juga pada pembentukan karakter, kesadaran diri, dan kemampuan membangun hubungan yang positif dengan sesama. Dengan bekal tersebut, para siswa diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai Dhamma dalam kehidupan sehari-hari serta menjadi generasi yang penuh kesadaran, saling menghargai, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

