Penyuluh KUA Medan Sunggal Sampaikan Keutamaan Akal kepada Korban NAPZA Kiki Alam Jaya

Medan (Humas) — Penyuluh agama merupakan seseorang yang diberi tugas, tanggung jawab, dan wewenang oleh pemerintah untuk melaksanakan bimbingan dan penyuluhan keagamaan serta pembangunan masyarakat melalui bahasa agama. Peran tersebut diwujudkan Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Drs. H. Fuji, MA, melalui bimbingan keagamaan kepada pasien korban NAPZA di Pusat Rehabilitasi Kiki Alam Jaya, Jalan Seroja Raya, Kelurahan Tanjung Selamat, Kota Medan, Senin (7/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, Fuji mengangkat tema “Akal Menurut Islam.”

Fuji menjelaskan bahwa akal merupakan salah satu karunia Allah SWT yang sangat penting bagi manusia. Dengan akal, manusia diberikan kemampuan untuk berpikir, memahami berbagai persoalan, serta membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Menurutnya, akal juga menjadi sarana bagi manusia untuk menentukan pilihan dalam menjalani kehidupan agar tidak mudah terjerumus ke dalam perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. “Akal dalam Islam adalah potensi atau cahaya rohaniah yang diberikan Allah kepada manusia untuk berpikir, memahami, serta membedakan antara kebenaran atau hak dan kebatilan,” ujar Fuji.

Lebih lanjut, Fuji menerangkan bahwa secara bahasa kata al-‘aql memiliki makna ikatan atau tali pengikat. Makna tersebut menggambarkan fungsi akal yang mampu mengikat dan mencegah seseorang dari perbuatan buruk, penyimpangan, maupun kesesatan. Karena itu, menurutnya, penggunaan akal secara benar harus senantiasa diarahkan kepada hal-hal yang mendatangkan kebaikan serta mendekatkan manusia kepada Allah SWT. “Akal berfungsi mengikat dan mencegah pemiliknya dari perbuatan buruk atau sesat,” jelasnya.

Fuji kemudian memaparkan beberapa fungsi utama akal dalam perspektif Islam. Pertama, akal menjadi alat untuk memahami ilmu dan sarana menelaah ayat-ayat Allah SWT, baik yang tertulis dalam Al-Qur’an maupun yang tersirat melalui berbagai fenomena di alam semesta. Kedua, akal berfungsi sebagai pemilah moral yang membimbing manusia dalam menentukan perbuatan yang baik dan buruk serta membedakan antara yang benar dan salah. Ketiga, akal menjadi pengendali hawa nafsu sekaligus benteng pertahanan agar manusia tidak mudah dikuasai oleh dorongan yang dapat menyesatkan.

Dalam bimbingan tersebut, Fuji mengajak para pasien korban NAPZA untuk kembali mengoptimalkan akal dalam menentukan arah kehidupan. Menurutnya, masa rehabilitasi hendaknya dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan introspeksi, memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, serta membangun tekad meninggalkan kebiasaan buruk. Akal yang digunakan dengan baik, disertai keimanan dan ketakwaan, diharapkan dapat menjadi kekuatan dalam proses perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Sementara itu, Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., memberikan dukungan terhadap kegiatan bimbingan keagamaan yang secara istiqomah dilaksanakan para penyuluh agama Islam, khususnya kepada pasien korban NAPZA. Ia berharap materi keagamaan yang disampaikan dapat memberikan pengetahuan, motivasi, dan penguatan spiritual bagi para pasien selama menjalani proses rehabilitasi. “Kami terus men-support penyuluh agama Islam yang istiqomah menyampaikan bimbingan kepada umat, terutama kepada pasien korban NAPZA. Harapannya, apa yang disampaikan dapat menjadi ilmu pengetahuan sekaligus jalan menuju taubat kepada Allah SWT,” ujar Agus Salim.

Bimbingan tentang keutamaan akal memberikan pesan bahwa manusia harus menggunakan akalnya sebagai anugerah Allah SWT untuk memahami kebenaran, mengendalikan hawa nafsu, dan menentukan pilihan hidup yang baik. Bagi pasien korban NAPZA, pemanfaatan akal yang sehat dan dibarengi dengan penguatan iman diharapkan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan, perubahan perilaku, serta membangun kehidupan baru yang lebih dekat kepada Allah SWT.(Paidi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *