Medan (Humas) — Proses penyembuhan pasien di rumah sakit tidak hanya membutuhkan tindakan medis, tetapi juga penguatan mental dan spiritual. Sakit merupakan salah satu bentuk ujian yang membutuhkan kesabaran, ketenangan, dan optimisme. Hal inilah yang dilakukan Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., saat memberikan bimbingan dan penyuluhan rohani kepada pasien rawat inap di RSP CPL USU Medan, Jalan Dr. Mansyur Nomor 66, Kelurahan Merdeka, Kota Medan, Senin (7/9/2026). Dalam kegiatan tersebut, Paidi didampingi Penyuluh Agama Islam KUA Medan Amplas, Eliza Purba. Adapun tema yang disampaikan adalah pentingnya senantiasa berdoa kepada Allah SWT.
Dalam memberikan bimbingan, Paidi menyampaikan penyuluhan kepada pasien yang beragama Islam, sedangkan pasien yang beragama lain mendapatkan pelayanan rohani sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Kegiatan dilakukan dengan mendatangi pasien dari satu ruangan ke ruangan lainnya secara bergantian. Kehadiran penyuluh diharapkan dapat memberikan ketenangan batin sekaligus dukungan moral kepada pasien yang sedang menjalani proses pengobatan dan pemulihan.
Selain memberikan dukungan dan semangat, Paidi mengajak para pasien untuk senantiasa berdoa kepada Allah SWT. Menurutnya, doa merupakan bentuk permohonan seorang hamba kepada Allah SWT yang memiliki kedudukan sangat mulia dan menjadi bagian penting dalam ibadah. “Doa adalah bentuk permohonan hamba kepada Allah SWT yang memiliki kedudukan sangat mulia dan merupakan inti dari ibadah. Allah SWT berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian,’” ujar Paidi.
Lebih lanjut Paidi menjelaskan sejumlah keutamaan doa dalam kehidupan seorang Muslim. Pertama, doa merupakan ibadah karena menunjukkan ketundukan dan ketergantungan manusia kepada Allah SWT. Kedua, doa merupakan perintah langsung dari Allah SWT yang disertai janji pengabulan bagi hamba-Nya yang memohon, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Mu’min ayat 60. Ketiga, doa menjadi salah satu ikhtiar seorang Muslim dalam memohon perlindungan dari berbagai bencana dan musibah. Keempat, doa merupakan wujud tawakal, karena seorang hamba menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah SWT setelah melakukan ikhtiar. “Dengan berdoa, kita menunjukkan bahwa setelah berikhtiar, kita tetap menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT,” tambah Paidi.
Paidi menegaskan bahwa doa tidak boleh dipisahkan dari usaha untuk mendapatkan kesembuhan. Pasien tetap harus mengikuti pengobatan dan anjuran tenaga medis, sementara doa menjadi penguat spiritual dalam menjalani proses tersebut. “Selain obat yang diberikan oleh dokter, doa juga menjadi penguat bagi kita. Kita memohon kepada Allah SWT agar diberikan kesembuhan, kekuatan, kesabaran, dan keteguhan dalam menghadapi penyakit,” tegas Paidi.
Sementara itu, Eliza Purba turut memberikan penguatan kepada para pasien agar tidak larut dalam kesedihan ketika menghadapi penyakit. Ia mengingatkan bahwa sakit dapat menjadi ujian yang mengajarkan manusia untuk lebih dekat kepada Allah SWT. “Ketika kita diuji dengan penyakit, yang pertama adalah ikhlas menerima takdir Allah SWT, kedua harus bersabar, ketiga senantiasa berdoa dan bertawakal kepada Allah SWT. Jangan pernah kehilangan semangat untuk sembuh,” ujar Eliza Purba.
Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., mengapresiasi semangat para penyuluh agama dalam memberikan bimbingan kepada umat, khususnya kepada pasien rawat inap yang sedang menghadapi ujian sakit. Menurutnya, kehadiran penyuluh agama di rumah sakit menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh kebutuhan spiritual masyarakat. “Kami selalu mengapresiasi penyuluh agama Islam yang tetap semangat membimbing umat, terutama pasien rawat inap yang sedang mendapat ujian dari Allah SWT. Kehadiran penyuluh agama di tengah pasien diharapkan dapat memberikan ketenangan, semangat, dan penguatan untuk menjalani proses kesembuhan,” ujar Agus Salim.
Bimbingan rohani kepada pasien menjadi pelengkap penting dalam mendukung proses penyembuhan secara menyeluruh. Melalui doa, kesabaran, ikhtiar, dan tawakal, pasien diharapkan memiliki kekuatan spiritual untuk menghadapi ujian sakit dengan lebih tenang dan optimis, sembari tetap menjalani pengobatan medis secara maksimal.(Paidi).

