Medan (Humas) — Pembinaan hafalan Al-Qur’an bukan sekadar proses mengingat teks ayat suci, tetapi juga menjadi sarana membentuk karakter, akhlak mulia, kedisiplinan, serta kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an. Hal tersebut dilakukan Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Drs. H. Fuji, MA, melalui kegiatan pembinaan kepada para santri Tahfidz Qur’an Ma’had An-Najah yang beralamat d Srigunting Residence. Jalan Setia Kata, Kecamatan Sunggal, Senin (7/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Fuji memberikan motivasi kepada para santri agar bersungguh-sungguh dalam menghafal Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa menjadi seorang hafidz bukanlah perkara mudah karena membutuhkan kesabaran, ketekunan, kedisiplinan, serta pertolongan Allah SWT. “Untuk menjadi seorang tahfidz itu tidak semudah seperti yang orang lain bayangkan. Menghafal Al-Qur’an merupakan rahmat Allah bagi orang-orang yang mampu menghafalnya. Hanya orang-orang tertentu yang mendapatkan hidayah dan inayah Allah SWT sehingga mampu menjaga hafalan Al-Qur’an,” ujar Fuji.
Selain memberikan motivasi, Fuji juga membagikan sejumlah kiat dan metode yang dapat diterapkan para santri dalam menghafal Al-Qur’an. Menurutnya, metode yang tepat akan membantu santri menghafal secara lebih terarah dan efektif. Metode pertama adalah wahdah, yaitu menghafalkan ayat pertama secara berulang hingga lancar, kemudian dilanjutkan ke ayat berikutnya dan menggabungkan ayat-ayat tersebut. Metode kedua adalah kitabah, yakni menuliskan ayat yang hendak dihafalkan sehingga memori visual dan motorik dapat bekerja secara bersamaan.
Selanjutnya, Fuji menjelaskan metode tikrar atau pengulangan, yaitu mengulang satu ayat atau satu halaman dengan jumlah tertentu hingga benar-benar melekat dalam ingatan. Kemudian metode sima’i, yakni mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari qari atau rekaman audio secara berulang-ulang sebelum menirukan dan menghafalkannya. Ia juga mengingatkan santri untuk konsisten menggunakan satu mushaf agar posisi dan letak ayat pada setiap halaman tetap familiar dalam ingatan. “Jangan lupa melakukan murojaah secara rutin. Sisihkan waktu khusus setiap hari untuk mengulang hafalan lama agar hafalan yang sudah dimiliki tidak mudah lupa,” pesan Fuji di hadapan para santri.
Fuji menambahkan, keberhasilan menghafal Al-Qur’an tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengingat, tetapi juga oleh konsistensi dalam menjaga hafalan. Karena itu, para santri diharapkan memiliki jadwal yang teratur antara menambah hafalan baru dan melakukan murojaah. Menurutnya, kedisiplinan tersebut sekaligus menjadi latihan membangun karakter yang akan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Fuji yang telah memberikan perhatian terhadap regenerasi Qur’ani melalui pembinaan para santri Ma’had An-Najah. “Saya sangat berterima kasih kepada Penyuluh Agama Islam yang mau memperhatikan regenerasi Qur’ani dan membagikan trik dalam menghafal Al-Qur’an. Pak Fuji sebagai penyuluh agama Islam merupakan seorang tahfidz Al-Qur’an 30 juz dan juga menjadi imam tetap di Masjid Al-Mushabbihin Komplek Tasbih Medan. Ilmu hafalan Al-Qur’annya luar biasa dan saya sangat berterima kasih karena ilmunya dapat diberikan kepada generasi selanjutnya melalui bimbingan di Ma’had An-Najah,” ujar Agus Salim.
Kegiatan pembinaan tersebut menjadi bagian dari upaya KUA Medan Sunggal dalam mendukung lahirnya generasi Qur’ani yang tidak hanya memiliki hafalan Al-Qur’an, tetapi juga berakhlak mulia, disiplin, dan mampu menjaga hafalannya secara konsisten. Melalui pendampingan penyuluh agama, para santri diharapkan semakin termotivasi untuk mencintai, menghafal, memahami, serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.(Paidi).

