Penyuluh KUA Medan Sunggal Dampingi Warga Binaan LRPPN Medan

Medan (Humas) – Penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA) merupakan persoalan yang berdampak terhadap kesehatan, kehidupan sosial, serta masa depan seseorang. Para korban penyalahgunaan NAPZA membutuhkan proses pemulihan yang tidak hanya dilakukan secara medis, tetapi juga melalui penguatan mental dan spiritual. Hal inilah yang dilakukan Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., melalui pendampingan keagamaan bagi warga binaan Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika (LRPPN) di Jalan Budi Luhur Gang PTP Nomor 8, Kelurahan Sei Sikambing C2, Kota Medan, Kamis (17/9/2026).

Kegiatan pendampingan diawali dengan pelaksanaan salat Zuhur berjamaah yang diimami oleh Paidi. Setelah salat, kegiatan dilanjutkan dengan dzikir dan sholawat bersama sebagai upaya membangun ketenangan batin sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Para warga binaan kemudian mengikuti ceramah agama yang disampaikan Paidi dengan penuh perhatian.

Dalam ceramahnya, Paidi menyampaikan bahwa kehidupan manusia senantiasa diwarnai dengan berbagai ujian. Menurutnya, setiap ujian yang diberikan Allah SWT harus dihadapi dengan kesabaran, keteguhan hati, dan keyakinan bahwa di balik setiap kesulitan terdapat hikmah dan jalan menuju kebaikan.

“Hidup senantiasa akan mendapatkan ujian dari Allah SWT. Ketika kita mendapatkan ujian, maka kita harus lulus dan berhasil melewati ujian tersebut. Apabila kita gagal melewatinya, kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan, melainkan penderitaan dan kesengsaraan,” ujar Paidi.

Paidi menambahkan, keberhasilan seseorang dalam menghadapi ujian kehidupan dapat menjadi jalan bagi peningkatan derajat di hadapan Allah SWT. Karena itu, warga binaan diajak untuk tidak berputus asa dalam menjalani proses rehabilitasi, tetapi terus berusaha memperbaiki diri dan membangun kehidupan yang lebih baik.

“Manakala kita mampu dan berhasil melewati ujian, maka Allah SWT akan mengangkat derajat kita. Orang yang senantiasa lulus dari ujian, ketika ia meninggal dunia, sesungguhnya dirinya dekat dengan surga Allah SWT,” tambah Paidi. Ia juga mengingatkan agar sabar dan salat senantiasa dijadikan sebagai penolong dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Sementara itu, Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas konsistensi penyuluh agama dalam mendampingi warga binaan korban NAPZA. Menurutnya, pendampingan spiritual perlu dilakukan secara berkesinambungan agar mereka memperoleh penguatan keagamaan selama menjalani proses pemulihan.

“Mereka memang membutuhkan pendampingan dan tidak boleh dilepas begitu saja. Apabila mereka kehilangan kendali, dikhawatirkan akan kembali menggunakan narkoba. Karena itu, pendampingan yang dilakukan penyuluh agama Islam diharapkan terus berkesinambungan. Dakwah harus disampaikan sampai akhir hayat,” ujar Agus Salim.

Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya KUA Medan Sunggal dalam menghadirkan layanan bimbingan keagamaan bagi masyarakat, termasuk mereka yang sedang menjalani proses rehabilitasi. Melalui salat berjamaah, dzikir, sholawat, dan penguatan materi keagamaan, warga binaan diharapkan semakin kuat secara spiritual, mampu menghadapi proses pemulihan dengan sabar, serta memiliki motivasi untuk meninggalkan penyalahgunaan NAPZA dan kembali menjalani kehidupan yang lebih baik di tengah masyarakat.(Paidi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *