Tak Sekadar Melafalkan, PAI Kemenag Medan Ajak Jamaah Pahami Makna Zikir Asmaul Husna

Medan (Humas) – Memahami Asmaul Husna tidak hanya sebatas mengenal nama-nama Allah SWT, tetapi juga menghayati makna dan menjadikannya sebagai bagian dari penguatan keimanan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam (PAI) Kemenag Medan, Lela Hamidah, S.Ag., saat memberikan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) keagamaan di Majelis Taklim (MT) Ar Rahman, Jalan Serdang, Kompleks AD, Kelurahan Belawan, Kecamatan Medan Belawan, Senin (5/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, Lela membahas fadilah zikir Asmaul Husna “Ya Fattah, Ya Razzaq, Ya Kafi, Ya Ghani, Ya Mughni” sebagai salah satu bentuk ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kegiatan diikuti jamaah MT Ar Rahman dengan suasana penuh kekeluargaan dan antusias.

Lela menjelaskan bahwa Asmaul Husna merupakan nama-nama Allah SWT yang memiliki makna dan sifat yang mulia. Menurutnya, mengingat dan menyebut nama Allah melalui zikir hendaknya tidak hanya dilakukan secara lisan, tetapi juga disertai pemahaman, keikhlasan, doa, serta usaha nyata dalam menjalani kehidupan. Selain itu, setiap nama dalam Asmaul Husna memiliki makna yang dapat menjadi pengingat bagi seorang Muslim dalam menghadapi berbagai keadaan. “Zikir bukan sekadar menggerakkan lisan, tetapi bagaimana hati semakin mengenal Allah, yakin terhadap pertolongan-Nya, dan tetap berusaha dalam setiap ikhtiar,” ujar Lela.

Ia kemudian menguraikan makna dari zikir Asmaul Husna yang menjadi materi pembinaan, mulai dari Ya Fattah yang berarti Allah Yang Maha Pembuka hingga Ya Razzaq yang bermakna Allah Yang Maha Pemberi Rezeki. Ya Fattah mengajarkan seorang Muslim untuk memohon agar diberikan kemudahan dan dibukakan jalan dalam menghadapi berbagai persoalan, sedangkan Ya Razzaq mengingatkan manusia bahwa rezeki berasal dari Allah SWT sehingga harus disertai ikhtiar dan tawakal. Sementara itu, Ya Kafi bermakna Allah Yang Maha Mencukupi, Ya Ghani berarti Allah Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan makhluk, sedangkan Ya Mughni bermakna Allah Yang Maha Memberi Kecukupan. “Memahami makna setiap Asmaul Husna akan membuat zikir yang kita lakukan tidak berhenti pada bacaan, tetapi juga memberikan pengaruh terhadap cara kita berpikir, berdoa, dan menjalani kehidupan,” tuturnya.

Senada dengan hal itu, Lela menekankan bahwa zikir sebaiknya tidak dipahami sebagai sarana untuk menggantungkan diri pada hitungan bacaan semata. Zikir perlu berjalan beriringan dengan ibadah, doa, usaha, kejujuran, kesabaran, dan sikap tawakal dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Ia mengingatkan jamaah agar setiap ikhtiar tetap dilakukan secara sungguh-sungguh sembari menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. “Ketika kita berzikir, kita sedang menguatkan hati agar tetap tenang, tetapi ketenangan itu harus diikuti dengan usaha dan keyakinan bahwa Allah akan memberikan yang terbaik,” katanya.

Sementara itu, Ketua MT Ar Rahman, Hj. Lega, menyampaikan apresiasi atas kehadiran PAI Kemenag Medan yang telah memberikan pembinaan keagamaan kepada jamaah. Ia menilai materi tentang fadilah zikir Asmaul Husna menjadi tambahan pengetahuan yang bermanfaat karena tidak hanya membahas bacaan, tetapi juga mengajak jamaah memahami makna yang terkandung di dalamnya. Selain itu, ia berharap kegiatan pembinaan keagamaan dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan untuk meningkatkan pengetahuan dan kualitas ibadah jamaah. “Kami berterima kasih atas pembinaan yang diberikan dan berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan agar jamaah semakin semangat belajar dan meningkatkan ibadah,” ungkapnya.

Kegiatan Bimluh berlangsung dengan penuh kekeluargaan dan mendapat respons positif dari jamaah MT Ar Rahman. Melalui materi yang disampaikan, jamaah diajak untuk menjadikan zikir sebagai sarana memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT sekaligus membangun ketenangan hati dalam menghadapi kehidupan. Pemahaman terhadap makna Ya Fattah, Ya Razzaq, Ya Kafi, Ya Ghani, dan Ya Mughni diharapkan dapat mendorong jamaah untuk semakin memperkuat doa, ikhtiar, tawakal, serta rasa syukur. Dengan demikian, pembinaan keagamaan tersebut tidak hanya menambah wawasan tentang Asmaul Husna, tetapi juga dapat memberikan dorongan bagi jamaah untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *