Medan (Humas) – Masa pembinaan bukan sekadar tentang menjalani proses, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menata kembali diri, belajar dari pengalaman, dan mempersiapkan langkah yang lebih baik di masa depan. Semangat tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bingluh) yang dilaksanakan Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Tanjung Gusta Medan, Senin (5/10/2026). Melalui pendekatan keagamaan, peserta diajak melihat proses pembinaan sebagai ruang untuk memperkuat karakter, membangun kesadaran, serta menumbuhkan kemauan untuk melakukan perubahan positif. Kehadiran penyuluh di tengah peserta binaan sekaligus menjadi upaya menghadirkan penguatan spiritual agar mereka memiliki bekal dalam menata kehidupan dan menatap masa depan dengan lebih optimistis.
Dalam kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan, Nunung Ismayanti, menyampaikan materi keagamaan dengan menekankan pentingnya menjadikan pembinaan sebagai kesempatan untuk melakukan perubahan diri. Menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, memperbaiki kesalahan, dan menata kembali langkah kehidupan dengan berpegang pada nilai-nilai agama. “Pembinaan keagamaan ini diharapkan menjadi ruang bagi adik-adik untuk belajar, melakukan introspeksi, dan menumbuhkan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Nunung Ismayanti. Ia juga mengajak peserta untuk tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan memperoleh ilmu dan nasihat selama menjalani proses pembinaan.
Nunung menjelaskan bahwa proses pembinaan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan agama, tetapi juga bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Selain itu, kemampuan untuk mengendalikan diri, menghargai orang lain, serta bertanggung jawab atas setiap tindakan merupakan bagian penting dalam membentuk karakter. Ia mengajak para peserta untuk tidak larut dalam kesalahan masa lalu, melainkan menjadikannya sebagai pengalaman untuk memperbaiki diri. “Jangan menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti berubah, tetapi jadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran agar ke depan kita bisa mengambil keputusan yang lebih baik,” tuturnya.
Senada dengan hal itu, Nunung menekankan bahwa perubahan membutuhkan kemauan yang kuat dan proses yang tidak selalu berlangsung secara instan. Menurutnya, kebiasaan baik perlu dibangun secara bertahap melalui kedisiplinan, kesabaran, serta kemauan untuk menerima nasihat dan arahan. Sementara itu, lingkungan pembinaan juga dapat menjadi ruang yang positif untuk menumbuhkan semangat belajar dan memperbaiki hubungan dengan sesama. “Perubahan tidak cukup hanya dengan niat, tetapi harus dibuktikan melalui kebiasaan baik, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar,” katanya.
Selain itu, pembinaan keagamaan diharapkan dapat memberikan penguatan spiritual kepada peserta sehingga mereka memiliki bekal dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Nilai-nilai agama dapat menjadi landasan untuk membangun sikap yang lebih sabar, jujur, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain. Nunung juga mendorong peserta untuk memanfaatkan masa pembinaan dengan mengikuti kegiatan secara sungguh-sungguh serta mengambil setiap pelajaran yang diberikan. “Gunakan kesempatan selama berada dalam pembinaan untuk belajar sebanyak-banyaknya, memperbaiki diri, dan mempersiapkan masa depan dengan lebih baik,” ungkapnya.
Kegiatan Bingluh di LPKA Kelas I Tanjung Gusta Medan berlangsung sebagai bagian dari pelaksanaan tugas Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan dalam memberikan pembinaan keagamaan kepada masyarakat di berbagai lingkungan. Kehadiran penyuluh diharapkan dapat memberikan penguatan moral dan spiritual sekaligus membuka ruang bagi peserta untuk memperoleh pemahaman keagamaan yang bermanfaat. Melalui pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, peserta diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran untuk memperbaiki diri dan membangun kebiasaan positif. Dengan bekal keagamaan dan karakter yang lebih baik, mereka diharapkan dapat mempersiapkan diri untuk kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat secara lebih bertanggung jawab.

