Medan (Humas) — Pemahaman yang benar tentang takdir menjadi salah satu landasan penting dalam membentuk sikap hidup seorang Muslim. Keyakinan terhadap ketetapan Allah Ta’ala tidak semestinya membuat seseorang berhenti berusaha, tetapi justru mendorongnya untuk terus berikhtiar, memperbanyak doa, serta menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Ta’ala dengan penuh tawakal.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Syarto, Lc., M.A., Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas, saat memberikan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) kepada jamaah Majelis Taklim (MT) Muslimin, Senin (5/10/2026). Kegiatan tersebut mengangkat materi Aqidah dengan tema “Memahami Taqdir Allah dengan Berikhtiar, Berdoa, dan Tawakkal”.
Kegiatan Bimluh tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh Penyuluh, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) untuk terus menghadirkan pelayanan dan bimbingan keagamaan yang prima serta berdampak di tengah-tengah masyarakat.
Dalam pemaparannya, Syarto mengajak jamaah memahami konsep takdir secara proporsional. Menurutnya, keimanan kepada takdir harus berjalan seiring dengan kewajiban manusia untuk melakukan ikhtiar, sehingga keyakinan tersebut tidak melahirkan sikap fatalistis ataupun membuat seseorang mengabaikan tanggung jawabnya dalam menjalani kehidupan.
“Manusia tidak mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada dirinya di masa depan. Karena itu, ketidaktahuan terhadap takdir bukan alasan untuk berhenti berusaha. Justru kita diperintahkan untuk menggunakan potensi yang diberikan Allah Ta’ala dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan,” jelas Syarto.
Ia menjelaskan, ikhtiar merupakan bentuk tanggung jawab manusia dalam menjalani kehidupan. Seseorang yang menginginkan kesehatan perlu menjaga pola hidup dan berobat ketika sakit, orang yang ingin memperoleh ilmu harus belajar, sedangkan seseorang yang ingin mendapatkan penghasilan perlu bekerja dan berusaha melalui jalan yang halal.
“Dengan demikian, ikhtiar merupakan bagian dari tanggung jawab manusia, sedangkan hasil akhirnya berada dalam ketentuan Allah Ta’ala. Kita diperintahkan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh, bukan menunggu hasil tanpa melakukan apa-apa,” ujarnya.
Selain ikhtiar, Syarto menekankan pentingnya doa sebagai bentuk ketergantungan seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Doa menjadi pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan senantiasa membutuhkan pertolongan, petunjuk, serta kekuatan dari Allah Ta’ala dalam menjalani berbagai keadaan.
Menurutnya, ikhtiar dan doa tidak seharusnya dipisahkan. Ikhtiar tanpa doa dapat membuat seseorang terlalu mengandalkan kemampuan dirinya sendiri, sedangkan doa tanpa ikhtiar dapat menjadikan seseorang pasif dalam menghadapi persoalan.
“Seorang Muslim perlu menggabungkan keduanya. Kita berusaha secara maksimal sekaligus memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala. Dengan begitu, kita menyadari bahwa usaha adalah kewajiban kita, sementara hasil merupakan bagian dari ketetapan-Nya,” tutur Syarto.
Pembahasan kemudian diarahkan pada konsep tawakal. Dr. Syarto menjelaskan bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah Ta’ala setelah seseorang melakukan ikhtiar secara optimal.
Sikap tawakal, lanjutnya, akan membantu seseorang menghadapi keberhasilan maupun kegagalan secara lebih bijaksana. Ketika berhasil, seseorang tidak mudah sombong karena menyadari keberhasilan tersebut juga merupakan karunia Allah Ta’ala. Sebaliknya, ketika menghadapi kegagalan, ia tidak mudah berputus asa, tetapi menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki ikhtiar berikutnya.
“Orang yang bertawakal bukan orang yang berhenti bekerja. Ia tetap berusaha, merencanakan, belajar dan memperbaiki diri, tetapi hatinya tidak menggantungkan seluruh harapan kepada kemampuan dirinya sendiri. Setelah berikhtiar, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala,” jelasnya.
Syarto juga mengingatkan jamaah agar tidak menggunakan takdir sebagai alasan untuk membenarkan sikap tidak mau berusaha. Ungkapan seperti “sudah takdir” tidak semestinya digunakan untuk menghindari kewajiban melakukan ikhtiar, terlebih ketika seseorang sebenarnya masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki keadaan.
Sebaliknya, ketika seseorang telah berusaha secara maksimal tetapi memperoleh hasil yang tidak sesuai dengan harapan, keimanan kepada takdir memberikan kekuatan untuk menerima kenyataan dengan lapang dada. Penerimaan tersebut bukan berarti menyerah, melainkan menjadi pijakan untuk kembali mengevaluasi diri dan melanjutkan usaha dengan cara yang lebih baik.
“Pemahaman terhadap takdir harus melahirkan keseimbangan. Kita optimis dalam berusaha, rendah hati ketika berhasil, sabar ketika menghadapi kegagalan, dan tetap yakin bahwa Allah Ta’ala memiliki ketetapan terbaik bagi hamba-Nya,” ungkap Syarto.
Kegiatan Bimluh di MT Muslimin diikuti oleh pengurus dan puluhan jamaah. Antusiasme jamaah dalam mengikuti materi menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memperkuat pemahaman aqidah sekaligus menghubungkan nilai-nilai keimanan dengan berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui materi tersebut, jamaah diajak memahami bahwa keyakinan kepada takdir seharusnya melahirkan sikap hidup yang positif, yaitu berikhtiar dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan penuh harap, kemudian bertawakal kepada Allah Ta’ala. Dengan pemahaman yang demikian, iman kepada takdir tidak menjadikan seseorang pasif, tetapi justru membentuk pribadi yang kuat, optimis, sabar, dan bertanggung jawab.
Bagi KUA Kecamatan Medan Amplas, kegiatan Bimluh menjadi bagian dari upaya menghadirkan bimbingan keagamaan yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu masyarakat membangun cara berpikir dan sikap hidup berdasarkan nilai-nilai Islam. Penguatan aqidah diharapkan mampu memberikan keteguhan spiritual bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Hal tersebut sejalan dengan arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., agar seluruh jajaran KUA terus memberikan pelayanan dan bimbingan yang prima serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Melalui kegiatan penyuluhan yang menyentuh kebutuhan keagamaan masyarakat, KUA Medan Amplas terus mendorong hadirnya pembinaan yang dekat, relevan, dan memberi manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

