KUA Medan Labuhan Tingkatkan Pemahaman Masyarakat tentang Pentingnya Fardhu Kifayah

Medan, (Humas). Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Labuhan terus memperkuat peran penyuluh agama dalam memberikan edukasi dan bimbingan keagamaan kepada masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan penyuluhan keagamaan yang dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Labuhan, Sulaiman, S.Th.I., M.Ag., di Majelis Taklim Nurul Iman, Selasa (06/10/2026).

Kegiatan penyuluhan mengangkat tema “Pentingnya Fardhu Kifayah dalam Kehidupan Sosial dan Keagamaan”. Materi tersebut dipilih untuk memberikan pemahaman kepada jamaah bahwa ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam penyuluhannya, Sulaiman menjelaskan bahwa fardhu kifayah merupakan salah satu bentuk kewajiban dalam Islam yang pelaksanaannya berkaitan dengan kepentingan bersama. Kewajiban tersebut menjadi tanggung jawab kolektif umat, sehingga membutuhkan kesadaran, kepedulian, dan keterlibatan masyarakat.

Menurut Sulaiman, pemahaman tentang fardhu kifayah perlu terus ditanamkan di tengah masyarakat agar umat Islam tidak hanya memahami kewajiban secara individual (fardhu ‘ain), tetapi juga memahami kewajiban sosial yang harus ditunaikan secara bersama-sama.

“Fardhu kifayah mengajarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan bermasyarakat setiap orang memiliki peran. Ada kewajiban-kewajiban tertentu yang tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus dilaksanakan bersama demi kemaslahatan umat,” jelas Sulaiman.

Ia menambahkan, salah satu contoh yang dekat dengan kehidupan masyarakat adalah penyelenggaraan jenazah, mulai dari memandikan, mengafani, menyalatkan hingga menguburkan. Ketika kewajiban tersebut telah dilaksanakan oleh sebagian umat Islam, maka kewajiban tersebut gugur dari masyarakat lainnya. Namun, hal ini bukan berarti masyarakat yang lain tidak perlu peduli.

“Jangan sampai karena merasa sudah ada yang mengurus, kita kemudian tidak peduli. Justru semangat fardhu kifayah adalah membangun kepedulian. Ketika ada saudara kita yang membutuhkan bantuan, kita hadir dan mengambil bagian sesuai dengan kemampuan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Sulaiman menyampaikan bahwa konsep fardhu kifayah memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, gotong royong, kepedulian, tanggung jawab, dan saling membantu. Nilai-nilai tersebut sangat penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan berlandaskan ajaran Islam.

Menurutnya, masyarakat yang memahami tanggung jawab kolektif akan lebih mudah membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Mereka tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi, tetapi juga memiliki perhatian terhadap kebutuhan orang lain dan kepentingan umat.

“Islam mengajarkan kepada kita untuk menjadi umat yang saling menguatkan. Karena itu, memahami fardhu kifayah bukan hanya persoalan mengetahui hukumnya, tetapi bagaimana nilai tersebut kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Sulaiman juga mengajak jamaah Majelis Taklim Nurul Iman untuk menjadikan kegiatan pengajian dan majelis taklim sebagai ruang untuk meningkatkan pemahaman keagamaan sekaligus membangun kepedulian sosial. Menurutnya, majelis taklim memiliki peran strategis dalam membentuk masyarakat yang memiliki pemahaman agama yang baik serta mampu mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.

“Majelis taklim jangan hanya menjadi tempat menambah pengetahuan agama, tetapi juga menjadi tempat membangun kepedulian, mempererat silaturahmi, dan menguatkan persaudaraan di tengah masyarakat,” katanya.

Kegiatan penyuluhan tersebut mendapat respons positif dari para jamaah. Peserta mengikuti penyampaian materi dengan antusias dan menyampaikan sejumlah tanggapan terkait penerapan fardhu kifayah dalam kehidupan sehari-hari.

Salah seorang peserta, Ibu Rodiah, menyampaikan apresiasinya atas kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan oleh KUA Kecamatan Medan Labuhan.

“Saya jadi lebih paham bahwa tanggung jawab umat itu luas dan kita semua punya peran. Terima kasih kepada penyuluh agama yang sudah membimbing kami,” ujar Rodiah.

Ia menilai materi yang disampaikan memberikan pemahaman baru kepada jamaah mengenai pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjalankan kewajiban yang menyangkut kepentingan bersama.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya KUA Kecamatan Medan Labuhan melalui Penyuluh Agama Islam untuk terus hadir di tengah masyarakat dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan keagamaan yang kontekstual serta menyentuh berbagai persoalan kehidupan.

Melalui penyuluhan tentang fardhu kifayah, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa kehidupan beragama memiliki dimensi sosial yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Pemahaman tersebut diharapkan dapat mendorong tumbuhnya kepedulian, semangat gotong royong, dan tanggung jawab bersama dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan semakin meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap kewajiban sosial keagamaan, diharapkan terbentuk komunitas yang tidak hanya kuat dalam pengamalan ibadah, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil ‘alamin.

KUA Kecamatan Medan Labuhan berkomitmen untuk terus mengoptimalkan peran Penyuluh Agama Islam dalam memberikan edukasi, bimbingan, dan pendampingan kepada masyarakat. Kehadiran penyuluh di tengah majelis taklim diharapkan dapat menjadi sarana untuk memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus mendorong terwujudnya kehidupan masyarakat yang religius, peduli, harmonis, dan saling menguatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *