Kasih Bukan Sekadar Kata, Penyuluh Agama Kristen Kemenag Medan Ajak Anak Panti Berbuat Nyata

Medan (Humas) — Kasih tidak selalu harus disampaikan melalui kata-kata, tetapi dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang memberikan perhatian dan manfaat bagi sesama. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan pembinaan keagamaan di Yayasan Panti Asuhan Saida Anak Indonesia, Jalan Abadi, Indra Kasih, Kecamatan Medan Tembung, Selasa (6/10/2026). Kegiatan menghadirkan Windu Manik, S.Th., sebagai pengkhotbah dengan menyampaikan Firman Tuhan dari Lukas 10:37 yang menekankan pentingnya mewujudkan kasih melalui perbuatan. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Debora Grace Sihombing, S.Th., dan Murni Amin Zebua, S.Th.

Dalam penyampaiannya, Windu Manik mengangkat tema “Kasih yang Nyata Berasal dari Tindakan” sebagai pesan utama kepada para peserta. Ia menjelaskan bahwa kasih tidak berhenti pada ucapan, tetapi perlu diwujudkan melalui kepedulian, perhatian, dan kesediaan untuk membantu orang lain. “Kasih yang nyata itu bukan hanya kita ucapkan, tetapi harus terlihat melalui tindakan kita kepada orang lain,” ujar Windu Manik. Selain itu, ia mengajak peserta untuk membangun kebiasaan saling memperhatikan dan menunjukkan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.

Windu menjelaskan bahwa pesan dalam Lukas 10:37 mengajarkan setiap orang untuk melakukan kebaikan secara nyata tanpa membatasi diri pada perbedaan latar belakang. Menurutnya, kasih yang diwujudkan melalui tindakan dapat menjadi kekuatan untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan sesama. “Tuhan mengajarkan kita untuk pergi dan melakukan hal yang sama, artinya kasih harus diwujudkan melalui perbuatan yang dapat dirasakan oleh orang lain,” katanya. Sementara itu, peserta diajak memahami bahwa tindakan sederhana seperti membantu, mendengarkan, menguatkan, dan memberikan perhatian merupakan bagian dari wujud kasih.

Lebih lanjut, Windu menyampaikan bahwa kehidupan sehari-hari memberikan banyak kesempatan bagi setiap orang untuk menunjukkan kasih kepada sesama. Ia menilai kepedulian dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga, teman, maupun orang-orang yang membutuhkan perhatian dan dukungan. “Jangan menunggu melakukan hal besar untuk menunjukkan kasih, karena hal kecil yang dilakukan dengan tulus juga dapat menjadi berkat bagi orang lain,” ungkapnya. Senada dengan hal itu, ia berharap peserta dapat menjadikan kasih sebagai nilai yang terus dipraktikkan dalam kehidupan, bukan sekadar dipahami sebagai sebuah ajaran.

Kegiatan pembinaan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus nilai kepedulian sosial. Kehadiran Windu Manik bersama Debora Grace Sihombing dan Murni Amin Zebua turut memberikan dukungan dalam pelaksanaan kegiatan di Yayasan Panti Asuhan Saida Anak Indonesia. Selain itu, pembinaan diharapkan dapat memberikan penguatan kepada anak-anak untuk memahami pentingnya hidup dalam kasih dan kepedulian terhadap sesama. Nilai kasih yang disampaikan diharapkan dapat diterapkan dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan tersebut, pesan Lukas 10:37 diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku nyata. Semangat untuk mengasihi dan membantu sesama dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan dengan ketulusan. Pembinaan keagamaan juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai kepedulian, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial sejak dini. Dengan demikian, kasih dapat terus hadir melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat dan menjadi berkat bagi lingkungan sekitar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *