Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan memberikan edukasi kepada remaja melalui kegiatan Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) yang dilaksanakan di STIM Sukma Medan, Rabu (14/10/2026). Kegiatan ini bertujuan membekali generasi muda dengan pemahaman mengenai pentingnya kesiapan fisik, mental, emosional, dan sosial sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan pembekalan tentang kesehatan reproduksi, perencanaan masa depan, tanggung jawab dalam kehidupan berumah tangga, serta pentingnya pendidikan dan kemandirian. Materi disampaikan untuk membantu remaja memahami bahwa pernikahan merupakan komitmen jangka panjang yang membutuhkan persiapan matang, bukan sekadar keputusan yang diambil berdasarkan keinginan sesaat.

Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan, M. Iqbal, menyampaikan bahwa edukasi pranikah bagi remaja merupakan langkah penting untuk membangun kesadaran tentang tanggung jawab dan konsekuensi dalam kehidupan berkeluarga. Menurutnya, pemahaman yang baik sejak dini dapat membantu remaja mengambil keputusan secara bijaksana dan mempersiapkan masa depan dengan lebih terarah.
“Melalui kegiatan BRUN ini, kami berharap para remaja dapat memahami pentingnya mempersiapkan diri sebelum menikah. Kesiapan tersebut tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga kematangan emosional, tanggung jawab, pendidikan, dan kemandirian. Karena itu, remaja perlu merencanakan masa depan dengan baik sebelum mengambil keputusan untuk membangun rumah tangga,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Syarifuddin Pasaribu turut menekankan pentingnya memberikan edukasi kepada remaja sebagai langkah awal dalam membangun pemahaman yang benar mengenai kehidupan berkeluarga. Menurutnya, remaja perlu dibekali pengetahuan dan wawasan yang memadai agar mampu mengenali tanggung jawab pernikahan serta mempersiapkan diri secara lebih matang sebelum mengambil keputusan besar dalam kehidupan.
“Edukasi seperti BRUN ini sangat penting bagi remaja karena mereka perlu memahami bahwa pernikahan membutuhkan kesiapan dan tanggung jawab yang besar. Kami berharap melalui pembekalan ini, para peserta dapat lebih fokus mengembangkan diri, menyelesaikan pendidikan, serta merencanakan masa depan dengan baik sebelum memasuki jenjang pernikahan,” ungkap Syarifuddin.
Ia juga berharap kegiatan edukasi semacam ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan agar semakin banyak remaja memperoleh pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, kematangan emosional, dan pentingnya membangun kemandirian. Dengan bekal pengetahuan tersebut, remaja diharapkan mampu mengambil keputusan secara bijaksana serta memahami bahwa kesiapan diri merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan kehidupan keluarga yang harmonis dan berkualitas.
Dalam pembekalan tersebut, kesehatan reproduksi menjadi salah satu materi penting yang diberikan kepada peserta. Pengetahuan mengenai kesehatan diri diharapkan dapat meningkatkan kesadaran remaja untuk menjaga kesehatan dan memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan kehidupan reproduksi. Selain itu, peserta diajak untuk memahami pentingnya menjaga diri, membangun hubungan yang sehat, serta mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan yang diambil.

Aspek pendidikan dan perencanaan masa depan juga menjadi perhatian dalam kegiatan BRUN. Remaja didorong untuk menyelesaikan pendidikan, mengembangkan potensi diri, meningkatkan keterampilan, serta membangun kemandirian agar memiliki bekal yang memadai dalam menjalani kehidupan. Persiapan tersebut dinilai penting karena kehidupan berkeluarga membutuhkan kemampuan untuk mengelola tanggung jawab, menghadapi tantangan, dan menyelesaikan persoalan secara dewasa.
Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya mencegah pernikahan dini. Para remaja diberikan pemahaman agar tidak terburu-buru mengambil keputusan untuk menikah tanpa mempertimbangkan kesiapan dan dampaknya terhadap pendidikan, kesehatan, serta masa depan mereka. Dengan pemahaman yang tepat, remaja diharapkan mampu menentukan prioritas hidup dan mempersiapkan diri sesuai dengan tahap perkembangannya.
Pelaksanaan BRUN di STIM Sukma Medan merupakan bagian dari upaya Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan dalam menghadirkan pembinaan yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda. Kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi untuk memperluas wawasan peserta mengenai pentingnya membangun kehidupan yang terencana, bertanggung jawab, dan berorientasi pada masa depan yang lebih baik.
Kegiatan tersebut turut melibatkan Mahmud Al Kausari, Leonard Hutagalung, Wan Nurainun, dan Naziah Masruroh Sagala. Keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat mendukung penyampaian edukasi kepada remaja sehingga pesan mengenai pentingnya kesiapan sebelum menikah dapat dipahami dengan baik.
Melalui kegiatan BRUN ini, Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan berharap para peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menentukan pilihan dan merencanakan masa depan. Pembinaan ini diharapkan mampu membentuk generasi muda yang berpengetahuan, mandiri, bertanggung jawab, serta memiliki pemahaman yang matang mengenai makna dan tanggung jawab pernikahan.

