Kepala KUA Medan Sunggal Bina Guru Maghrib Mengaji untuk Tingkatkan Kualitas Pembelajaran Al-Qur’an

Medan (Humas) – Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., memberikan pembinaan kepada guru Maghrib Mengaji di ruang kerja KUA Medan Sunggal, Jalan Seroja Nomor 1, Kelurahan Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Rabu (21/10/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Qur’an bagi anak-anak sekaligus memperkuat peran guru mengaji dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan memiliki pemahaman agama yang baik. Adapun tiga guru mengaji yang mengikuti pembinaan tersebut adalah Suryana, S.P., Suriah, dan Nasifa.

Dalam arahannya, Agus Salim menekankan pentingnya inovasi dan kreativitas dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak. Menurutnya, guru mengaji tidak boleh hanya menggunakan metode pembelajaran yang monoton, tetapi harus mampu menghadirkan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan agar anak-anak semakin bersemangat dalam mengikuti kegiatan mengaji. “Dalam mengajarkan mengaji, jangan monoton dengan metode yang itu-itu saja. Harus ada inovasi dan kreativitas baru yang membuat suasana belajar berbeda, lebih menarik, dan tidak membosankan bagi anak-anak,” ujar Agus Salim.

Selain inovasi, ia juga mengingatkan para guru agar senantiasa bersikap sabar dan ikhlas dalam menghadapi berbagai tingkah laku anak-anak. Ia menyadari bahwa dalam proses pembelajaran, tidak sedikit anak yang menunjukkan kenakalan atau perilaku yang membutuhkan perhatian khusus. Oleh karena itu, guru harus mampu memberikan teguran dan bimbingan dengan cara yang santun, bijaksana, serta penuh kasih sayang. Kesabaran dan keikhlasan menjadi kunci penting agar anak-anak dapat menerima pembelajaran dengan baik dan tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang positif.

Agus Salim juga menegaskan bahwa pendidikan akhlak harus menjadi prioritas utama dalam kegiatan Maghrib Mengaji. Menurutnya, keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak hanya diukur dari kemampuan anak membaca ayat-ayat suci, tetapi juga dari perilaku dan moralitas mereka dalam kehidupan sehari-hari. “Kita berharap anak-anak yang kita didik memiliki akhlak yang tinggi, menghormati orang tua, menyayangi teman, menghargai guru, dan bersikap baik kepada orang lain. Jangan sampai anak-anak yang kita bina justru tumbuh menjadi pribadi yang melawan atau durhaka kepada orang tuanya,” tegasnya. Ia menambahkan, guru juga perlu mengajarkan hafalan doa sehari-hari, praktik salat, tata cara berwudu, serta adab menghormati orang tua dan sesama.

Lebih lanjut, Agus Salim mengajak para guru Maghrib Mengaji untuk mempersiapkan generasi penerus agar kegiatan pembelajaran Al-Qur’an tetap berlanjut dari masa ke masa. Menurutnya, para guru yang telah lama mengabdikan diri perlu membimbing dan menyiapkan generasi baru yang mampu meneruskan perjuangan mereka dalam mendidik anak-anak. “Ciptakan generasi baru untuk melanjutkan estafet perjuangan kita. Jangan sampai pengajian yang sudah kita rintis dan bina berhenti karena tidak ada guru yang meneruskannya. Regenerasi sangat penting agar pendidikan Al-Qur’an terus berjalan dan manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi berikutnya,” tambah Agus Salim.

Sementara itu, salah seorang guru mengaji, Suryana, S.P., menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan pendidikan mengaji yang telah ia jalankan, terutama karena manfaatnya dapat dirasakan hingga generasi keluarganya sendiri. Ia mengungkapkan bahwa cucunya kini telah menjadi penghafal Al-Qur’an berkat pendidikan mengaji yang tumbuh di lingkungan rumahnya. “Alhamdulillah, saya sudah memiliki cucu yang menjadi penghafal Al-Qur’an berkat pendidikan mengaji di rumah saya. Insyaallah, ketika saya sudah tiada, generasi penerus sudah ada untuk melanjutkan perjuangan ini, yaitu cucu saya,” ungkap Suryana. Pengalaman tersebut menjadi bukti pentingnya ketekunan dalam membina anak-anak sekaligus menyiapkan penerus yang mencintai Al-Qur’an.

Sebelum mengakhiri pembinaan, Agus Salim kembali mengingatkan para guru agar menciptakan lingkungan mengaji yang tenang, damai, aman, dan nyaman bagi seluruh anak didik. Ia meminta agar setiap guru memberikan perhatian dan pengawasan yang baik sehingga tidak terjadi keributan maupun perkelahian selama proses pembelajaran. Dengan demikian, kegiatan Maghrib Mengaji diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, penanaman nilai-nilai keislaman, dan pembiasaan akhlak mulia.

Pembinaan guru Maghrib Mengaji ini menjadi langkah penting KUA Medan Sunggal dalam meningkatkan mutu pembelajaran Al-Qur’an melalui inovasi, kesabaran, pendidikan akhlak, penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, serta penguatan regenerasi guru demi melahirkan generasi Qur’ani yang berilmu dan berakhlak mulia.(Paidi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *