Delapan Pesan Penuh Hikmah Sayyidina Ali, Penyuluh Agama KUA Medan Denai Ajak Jamaah Perbaiki Kualitas Ibadah dan Akhlak

Medan (Humas) – Kualitas ibadah seorang muslim tidak hanya dilihat dari banyaknya amalan yang dilakukan, tetapi juga dari kesungguhan hati, kemuliaan akhlak, dan manfaat yang diberikan kepada sesama. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I., S.Pd.I., dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (Bimluh) di Masjid Maul Hayah PDAM Tirtanadi, Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan, Kamis (5/11/2026), selepas salat Zuhur.

Kegiatan tersebut diikuti para karyawan PDAM Tirtanadi, masyarakat setempat, serta sejumlah musafir yang singgah dan turut mendengarkan tausiah. Acara diawali dengan pembukaan oleh protokol, Faisal, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi keagamaan yang mengangkat delapan nasihat penuh hikmah dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah.

Dalam tausiahnya, Khoiruz Zaman menjelaskan bahwa nasihat tersebut mengingatkan umat Islam tentang pentingnya menyertai setiap bentuk ibadah dan nikmat kehidupan dengan sikap yang tepat. Amal tidak cukup hanya dilakukan secara lahiriah, tetapi harus disertai kekhusyukan, keikhlasan, pengendalian diri, serta akhlak yang baik.

Ia kemudian menguraikan delapan pesan tersebut. Pertama, tidak ada kebaikan dalam salat apabila tidak disertai kekhusyukan. Salat hendaknya tidak sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menghadirkan hati dan pikiran.

Kedua, puasa harus disertai kemampuan menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menjadi sarana mendidik diri untuk mengendalikan ucapan dan perilaku. Ketiga, membaca Al-Qur’an hendaknya disertai tadabur, yaitu berusaha memahami, merenungkan, serta mengambil pelajaran dari kandungan ayat-ayatnya.

Keempat, ilmu perlu disertai sifat wara’, yakni kehati-hatian dalam menjalani kehidupan dengan menjauhi perkara syubhat dan segala sesuatu yang diharamkan Allah SWT. Kelima, harta hendaknya disertai sifat dermawan. Harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk membantu sesama dan menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Keenam, persahabatan harus dibangun dengan sikap saling menjaga, menghormati, dan memenuhi hak satu sama lain. Ketulusan, kepercayaan, serta sikap saling menghargai menjadi dasar hubungan persahabatan yang baik. Ketujuh, setiap kenikmatan perlu disertai kesadaran bahwa segala sesuatu di dunia bersifat sementara. Oleh karena itu, setiap nikmat harus disyukuri dan dimanfaatkan untuk melakukan kebaikan sebelum semuanya berlalu.

Kedelapan, doa harus disertai keikhlasan. Doa hendaknya lahir dari hati yang tulus, penuh pengharapan, serta keyakinan terhadap rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Lebih lanjut, Khoiruz Zaman mengajak jamaah menjadikan delapan nasihat tersebut sebagai bahan introspeksi dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keberhasilan seseorang dalam beribadah seharusnya tercermin dari perubahan sikap dan perilaku, baik dalam lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun kehidupan bermasyarakat.

Kegiatan Bimluh berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan. Kehadiran karyawan, masyarakat, hingga musafir menunjukkan bahwa masjid tidak hanya menjadi tempat melaksanakan ibadah ritual, tetapi juga ruang pembinaan umat, tempat menimba ilmu, serta sarana mempererat tali silaturahmi. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama.

Melalui kegiatan ini, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai berharap delapan pesan penuh hikmah tersebut dapat menjadi pengingat bagi jamaah untuk terus memperbaiki kualitas ibadah, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *