Medan (Humas) Orang tua lanjut usia dengan berbagai keterbatasan fisik bukan menjadi penghalang untuk tetap bersyukur dalam hidup. Walaupun jauh dari keluarga, berada di panti jompo kiranya dapat dilihat sebagai cara Tuhan mengasihi para lansia. Keberadaan mereka tetap dijaga dan dihargai dan tidak ada alasan untuk memandang kehadiran mereka sebagai beban bagi kita.
Hal itulah fokus materi pendampingan rohani yang diberikan oleh penyuluh agama Katolik, bekerja sama dengan penyuluh Kristen, kepada warga panti jompo Yayasan Guna Budi Bakti, Kota Medan, Rabu (12/11/2025). Mengutip Injil Lukas 17:11-19, Demaran Sirigo, S.Fil menyampaikan pesan tentang pentingnya sikap bersyukur dalam kehidupan sehari-hari.
“Sering kali manusia sungguh-sungguh berdoa saat membutuhkan pertolongan Tuhan, namun lupa bersyukur setelah menerima berkat. Tuhan mengajar kita bahwa bersyukur adalah wujud iman yang hidup iman yang mampu mengenali tangan Tuhan di balik setiap peristiwa, baik suka maupun duka, termasuk dalam pengalaman sebagai orang tua lansia,” ujar Demaran.

Demaran mengutip peristiwa Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta, namun hanya satu yang kembali untuk mengucap syukur dan orang itu adalah seorang Samaria, yang dianggap asing oleh bangsa Yahudi. Sementara itu, yang sembilan orang lainnya justru larut dalam eforia kesembuhan dan sukacita berlebihan sehingga lupa berterima kasih kepada Tuhan.
“Ucapan Yesus kepada orang Samaria:“Imanmu telah menyelamatkan engkau”, bermakna sangat dalam. Hal itu menunjukkan bahwa bukan hanya tubuh yang disembuhkan, tetapi juga jiwa yang diselamatkan karena hati yang dipenuhi oleh iman dan rasa syukur,” kata Demaran seraya berpesan kepada para lansia selalu melihat hal-hal baik dalam perjalanan hidup ini.
Kegiatan penyuluhan rohani ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat iman dan kebersamaan di antara para lansia, serta memperkuat rasa cinta kasih dan pengharapan kepada Tuhan di masa tua. Acara berlangsung penuh keakraban dan sukacita, serta menjadi bentuk nyata kepedulian penyuluh dalam membina kehidupan rohani para orang tua lansia.
Kegiatan ini dibuat dalam bentuk ibadah bekerja sama dengan staf pelayan orang tua di panti. Selain itu, ada juga pemusik dari luar panti dan bukan dari Kementerian Agama. Kolaborasi yang solid ini, terutama antara penyuluh Katolik dan Kristen, menunjukkan wujud moderasi yang tidak hanya dalam teori, melainkan nyata dalam tindakan pelayanan kepada masyarakat.

