Bimbingan Rohani Warga Binaan LPKA Kelas I Medan, Penyuluh Katolik: Jangan Terlalu Banyak Menuntut

Medan (Humas) Menjadi warga binaan LPKA bukan sekadar menjalani hukuman, melainkan kesempatan untuk menata kembali hidup dengan hati yang lebih kuat dan penuh harapan. Meskipun berada dalam keterbatasan ruang gerak, para warga binaan tetap memiliki martabat luhur sebagai pribadi. Di tengah kenyataan ini, sikap bersyukur menjadi harta rohani yang tidak berhenti berharap, meskipun jalan pemulihan masih panjang dan penuh proses.

Dalam semangat inilah Penyuluh Katolik Kota Medan mengadakan pendampingan bagi saudara-saudara yang sedang menjalani masa pembinaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Tanjung Gusta, Kota Medan, Kamis (13/11/2025). Tim penyuluh terdiri dari Marulam Nainggolan, S.S., Zetra Hail Saragih, S.Fil., Hekdi Jojada Sinaga, S.Fil., dan Bertus Nababan. Petugas LPKA turut juga mendampingi kegiatan ini.

Bertus menyampaikan pesan berdasarkan Injil Lukas 17:11–19 tentang sepuluh orang kusta yang disembuhkan Yesus. Dari sepuluh itu, hanya satu kembali dan bersyukur, sementara sembilan lainnya larut dalam euforia kesembuhan. Mereka merasa bahwa kesembuhan adalah hak mereka dan seolah menjadi kewajiban Yesus untuk memberikannya. 

“Hidup ini bukan hanya tentang menuntut: menuntut perubahan, menuntut kebebasan, menuntut keadilan. Bersyukur berarti menyadari bahwa setiap napas, setiap kesempatan, bahkan masa pembinaan ini, adalah bagian dari kasih Tuhan yang ingin memulihkan hidup kita,” ujar Bertus.

Ia mengingatkan para warga binaan agar tidak terlalu banyak bersungut-sungut terhadap keadaan. “Berjanjilah pada Tuhan dalam doa. Tuhan pasti menjawab, tetapi selalu ada proses yang harus dilewati. Hidup ini tidak seperti makan cabe yang langsung terasa pedasnya. Ada rencana Tuhan dalam setiap peristiwa dan pengalamanmu,” lanjutnya, menegaskan bahwa iman selalu berjalan bersama proses yang memulihkan, bukan jalan pintas yang serba instan.

Lebih lanjut, Bertus menekankan bahwa Tuhan tidak melihat masa lalu, tetapi hati yang mau berubah. Ia mengajak mereka tidak membiarkan rasa bersalah atau penyesalan menutup pintu pertobatan. “Datanglah kepada Tuhan dengan hati bersyukur. Iman yang tulus akan membuka jalan bagi kehidupan baru. Perjalananmu belum berakhir. Tuhan masih punya rencana indah untukmu,” tambahnya, mendorong mereka berani memandang masa depan.

Kegiatan bimbingan rohani ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat iman dan memperkuat tekad para warga binaan untuk memperbaiki diri. Melalui penyuluhan agama yang dilakukan secara konsisten, para penyuluh ingin memastikan bahwa proses pembinaan bukan hanya memperbaiki perilaku, tetapi juga memulihkan martabat manusia sebagai citra Allah dan dengan hati yang diperbarui dan hidup yang lebih baik serta membawa syukur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *