Medan (Humas) – Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kota Medan, Naila Amna, S.Pd.I., M.Psi., melakukan pendampingan dan pembinaan intensif kepada dua madrasah binaan, yaitu MIS Al Iklasiyah Tuamang dan MIS Silaturahim yang berada di Kecamatan Medan Denai dan Medan Tembung. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (20/11/2025) ini mengangkat tema kepedulian lingkungan berbasis Ekoteologi dalam Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Dalam kegiatan tersebut, para siswa, guru, dan tenaga kependidikan terlibat dalam berbagai aksi cinta lingkungan seperti penanaman pohon nangka dan tanaman produktif lainnya, pembersihan area madrasah, serta kampanye hemat air. Seluruh rangkaian kegiatan menjadi implementasi nyata dari nilai “Cinta Lingkungan” dalam KBC, yang menekankan bahwa menjaga alam merupakan bagian dari ibadah dan cerminan keimanan.
Pengawas Madrasah, Naila Amna, mengatakan bahwa KBC menghadirkan cara belajar yang lebih menyentuh nilai-nilai keagamaan, menyeluruh, dan mudah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Menjaga lingkungan adalah ibadah. Ketika anak-anak menanam pohon, menjaga kebersihan, atau menghemat air, mereka tidak sekadar belajar, tetapi sedang mengamalkan iman dalam tindakan. Inilah tujuan Kurikulum Berbasis Cinta, membentuk karakter dengan pendekatan kasih, peduli, dan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa madrasah harus menjadi ruang yang menanamkan kesadaran ekologis sejak dini agar lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga peduli dan berakhlak terhadap lingkungan.
“Sinergi seperti ini harus terus kita bangun. Madrasah yang bersih, hijau, dan tertib mencerminkan karakter warganya. Jika anak-anak dibiasakan mencintai lingkungan, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang mampu menjaga bumi dengan penuh tanggung jawab,” tambahnya.
KBC yang diusung Kementerian Agama menempatkan ekoteologi sebagai dasar pembentukan karakter. Alam dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki nilai spiritual, sehingga melestarikannya adalah kewajiban etis dan religi. Ekoteologi dalam KBC juga terintegrasi ke dalam Pancacinta, yaitu: Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, Cinta ilmu, Cinta lingkungan, Cinta diri dan sesame dan Cinta tanah air
Kurikulum ini mengubah paradigma lama yang cenderung melihat alam secara eksploitatif menuju paradigma kasih yang menghadirkan kebaikan bagi seluruh makhluk, serta mendorong terciptanya kedaulatan ekologis yang berkelanjutan.
Aksi penghijauan, pembersihan, dan kampanye #ZeroWaste yang dilakukan siswa merupakan bagian dari upaya pendidikan karakter yang aplikatif. Melalui kegiatan tersebut, siswa belajar hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, sebuah keseimbangan yang diajarkan dalam konsep hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal ‘alam.

Kegiatan ini juga mendorong terciptanya madrasah yang ramah lingkungan serta memperkuat kerja sama seluruh warga sekolah dalam mewujudkan lingkungan yang asri, bersih, dan nyaman untuk proses pembelajaran.
Implementasi ekoteologi di madrasah tidak hanya berdampak pada lingkungan fisik, tetapi juga pada kesejahteraan sosial masyarakat sekitar. Melalui kegiatan penghijauan, pengelolaan sampah, dan pendidikan lingkungan, madrasah berperan penting dalam membangun budaya peduli lingkungan di tengah masyarakat.
“Madrasah memiliki tanggung jawab bukan hanya mencerdaskan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian. Jika lingkungan baik, masyarakat pun akan merasakan manfaatnya,” ungkap Naila menutup pembinaan.
Pendampingan ini diharapkan menjadi model gerakan hijau di madrasah-madrasah lain dan memperkuat peran Kementerian Agama Kota Medan dalam mendorong pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai kepedulian, ekologis, dan penuh kasih terhadap sesama dan alam.

