Medan (Humas) — Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., MA, menegaskan bahwa pernikahan bukan hanya ikatan emosional antara dua individu, tetapi juga mengandung nilai sosial yang mendalam. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Mini Workshop Persatuan Wilayah Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Sumatera Utara, yang digelar di Aula Kantor PWNU Sumut, Minggu (30/11/2025).
Dalam paparannya, Lukman menjelaskan bahwa pernikahan pada hakikatnya adalah proses internalisasi manusia sebagai makhluk sosial. Karena itu, keluarga yang terbentuk dari ikatan pernikahan semestinya mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan sosialnya.
“Menikah adalah ikatan sosial. Pasangan suami istri harus memberi manfaat di tengah-tengah umat, sebagaimana hadis Nabi ‘wa jama’a bainakuma fi khoir’ yang berarti bersatunya dua insan harus membawa kebaikan. Inilah esensi Keluarga Maslahat,” ujar Lukman.
Lukman menjelaskan bahwa istilah Keluarga Maslahat merupakan konsep yang melengkapi gagasan Keluarga Sakinah yang selama ini digaungkan Kementerian Agama Republik Indonesia. Konsep tersebut sejalan dengan nilai sakinah yang berasal dari Al-Qur’an, khususnya QS. Ar-Rum ayat 21, yang menggambarkan keluarga sebagai tempat ketenangan, kedamaian, dan kasih sayang.
Ia menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama telah mengembangkan gagasan keluarga maslahat sebagai penyempurna keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah.
“Keluarga maslahat bukan hanya bahagia secara internal, tetapi memberi kemanfaatan yang luas untuk keluarga, tetangga, agama, dan lingkungan sekitar. Ini pelengkap dari konsep keluarga sakinah yang sudah lama dikenal,” jelasnya.
Ketua PW Muslimat NU Sumatera Utara, Drs. Hj. Ruhani, M.AP, menyampaikan bahwa kegiatan mini workshop ini merupakan bentuk kepedulian Muslimat NU dalam mewujudkan keluarga yang langgeng dan harmonis, terutama di tengah meningkatnya angka perceraian di Indonesia.
“Data perceraian di Indonesia cukup tinggi dan terus meningkat. Hal ini tentu mengkhawatirkan warga Nahdliyyin dan harus diantisipasi melalui pencerahan keislaman,” tegas Ruhani.
Ia menambahkan bahwa Muslimat NU berupaya untuk terus memperkuat ketahanan keluarga sebagai pilar umat dan bangsa.
“Sebagai organisasi perempuan terbesar di lingkungan NU, kami berkomitmen membina keluarga yang kokoh. Mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, sehingga keluarga Muslim harus menjadi teladan dalam kehidupan berbangsa,” ujar Ruhani.
Dalam kesempatan tersebut, Ruhani juga memaparkan beberapa program unggulan Muslimat NU Sumut, antara lain pembentukan koperasi Muslimat NU, pelatihan kewirausahaan, serta pembekalan berbagai keterampilan bagi perempuan untuk mendukung kemandirian ekonomi keluarga.

