Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Kota, Tgk. M. Nizamuddin, S.Ag., S.H., M.Pd., mengajak kaum muslimin untuk melakukan muhasabah diri sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik, baik secara spiritual maupun sosial.
Ajakan tersebut disampaikannya dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Keagamaan yang digelar dalam rangka malam pergantian tahun baru 2026. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Nurul Hidayah Sei Agul serta di Majelis Taklim Al Hikmah, dan dilanjutkan pada pengajian di Majelis Taklim Al Hikmah serta Majelis Taklim Ulul Albab Komplek Perumahan Dosen Unimed Lau Dendang, pada Sabtu, 10 Januari 2026.
Dalam penyampaiannya, Tgk. M. Nizamuddin menegaskan bahwa tema muhasabah sangat penting untuk diangkat sebagai sarana evaluasi diri terhadap perbuatan dan perkataan yang telah dilakukan, baik dalam hubungan kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia.
“Tema muhasabah sangat penting diangkat untuk mengukur perbuatan dan perkataan diri, baik hubungan kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia. Muhasabah merupakan perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an, sebagaimana dalam QS. Al-Hasyr ayat 18, yang memerintahkan setiap jiwa untuk memperhatikan apa yang telah diperbuatnya di masa lalu sebagai bekal untuk hari esok,” ujarnya.
Ia juga mengajak jamaah untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar kepada diri sendiri sebagai bentuk introspeksi, terutama terkait kualitas hubungan spiritual dan sosial.
“Apakah masing-masing jiwa sudah baik hubungannya kepada Allah SWT, dan apakah sudah baik hubungannya kepada sesama manusia. Mereka yang senantiasa memperbaiki hubungan kepada Allah (hablun minallah) dan kepada sesama manusia (hablun minannas) akan merasakan keharmonisan hidup di dunia,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keseimbangan antara hablun minallah dan hablun minannas merupakan ciri kesalehan ideal seorang muslim dalam menghadapi dinamika kehidupan modern.
“Hidup yang berimbang antara hablun minallah dan hablun minannas adalah pribadi kesalehan yang ideal, dicintai Allah dan juga manusia. Seorang muslim yang seimbang antara keduanya akan mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan sosial, sehingga apa pun profesinya, ia dapat bergerak maju, sigap, dan berani menghadapi tantangan zaman,” tutupnya.

