Namo Buddhaya,
Dalam Brahma Sutta di Anguttara Nikāya (A.II.70), Buddha dengan mengatakan bahwa orang tua (ayah dan ibu) adalah “Brahma” (Pelindung Agung), “Purvācariya” (Guru Pertama), “Pubbadevata” (Dewa-Dewa di Rumah), dan “Āhuneyya” (Sosok yang patut menerima persembahan). Ketika Buddha menjuluki ayah dan ibu sebagai “Brahma”, Beliau menunjuk pada figur yang menjalankan Empat Kediaman Luhur (Brahmavihāra) di dalam rumah mereka sendiri.
Namun, di era modern ini, seringkali peran ayah direduksi hanya sebagai “pencari nafkah”. Kita lupa bahwa kewajiban seorang ayah jauh lebih luas, mencakup pembangunan moral, spiritual, dan mental anak. Sebagai seorang ayah, kita harus kembali pada ajaran Buddha, khususnya yang tertuang dalam Sigālovāda Sutta di Dīgha Nikāya (D.II.189), di mana ayah mengemban lima kewajiban utama terhadap anak:
- Menjauhkan anak dari segala bentuk kejahatan.
- Menganjurkan anak senantiasa melakukan kebajikan.
- Memberikan pendidikan yang memadai.
- Menuntun anak dalam memilih pasangan yang sesuai.
- Menyerahkan warisan pada waktu yang tepat.
Kewajiban pertama, menjauhkan anak dari segala bentuk kejahatan, memerlukan lebih dari sekadar larangan. Ayah bertanggung jawab melindungi anak dari bahaya fisik dan menyediakan kebutuhan materi yang layak. Selain itu peran ayah adalah melindungi anak dari kemiskinan spiritual dan bahaya moral. Inilah tantangan terbesar di era digital. Ayah harus aktif membimbing anak agar tidak terjerumus pada perbuatan jahat melalui pikiran, ucapan, dan jasmani. Ayah adalah mentor digital pertama yang mengajarkan anak untuk menggunakan teknologi dengan bijak, menahan mereka dari pengaruh buruk daring (online), dan mengajarkan cara menghadapi cyberbullying dengan welas asih (Karunā) dan kebijaksanaan (Paññā).
Kewajiban kedua dan ketiga, menganjurkan anak senantiasa melakukan kebajikan dan memberikan pendidikan yang memadai, menjadikan ayah sebagai Guru Kehidupan. Pendidikan yang memadai menurut Buddha tidak hanya mencakup ilmu duniawi (akademik), tetapi yang utama adalah ilmu spiritual. Ayah harus memastikan anak-anaknya memahami dan mempraktikkan Tiga Perlindungan Utama (Tisarana). Ayah juga mendorong anak untuk mengembangkan Kebijaksanaan (Paññā) dengan membaca paritta dan sutra, merenungkan Dhamma, dan berlatih Meditasi (Samādhi). Anak yang bijaksana adalah anak yang mampu membedakan yang bermanfaat dan yang merugikan.
Ajakan untuk berbuat baik tidak akan efektif tanpa teladan nyata. Seorang ayah harus menjadi contoh hidup dari moralitas yang luhur. Bagaimana kita mengelola amarah? Bagaimana kita bersikap jujur dan berintegritas dalam bekerja? Perilaku jujur seorang ayah adalah teladan terbaik yang diturunkan, yang membentuk fondasi karakter anak.
Kewajiban keempat dan kelima, menuntun anak memilih pasangan yang sesuai dan menyerahkan warisan pada waktu yang tepat, berbicara tentang tanggung jawab seorang ayah terhadap masa depan dan keberlanjutan hidup anaknya. Warisan sejati bukanlah sebatas harta benda, tetapi juga Warisan Kebajikan. Warisan terbaik yang dapat ditinggalkan ayah adalah bekal Sīla, Samādhi, dan Paññā. Anak yang kaya akan Dhamma akan mampu berdiri tegak dan berbahagia dalam situasi apapun. Bimbingan dalam memilih pasangan adalah tindakan welas asih untuk memastikan anak memiliki pasangan yang mendukung perjalanan spiritual dan duniawi mereka, selaras dengan konsep Kehidupan Berdampingan Sejahtera.
Saat ini, kita dihadapkan pada fenomena “Fatherless Syndrome”, di mana secara fisik ayah hadir, namun secara kualitas emosional dan spiritual, ia absen. Anak mungkin memiliki ayah di rumah, tetapi merasa yatim secara batin. Ini adalah Dukkha (penderitaan) di dalam rumah tangga. Seorang Ayah Teladan harus mengatasi Kesenjangan Kualitas Waktu. Ingatlah, dalam Ajaran Buddha, segala sesuatu tergantung pada Pikiran (Citta). Kehadiran yang bermakna jauh lebih berharga daripada waktu yang panjang namun tanpa fokus. Ketika kita bersama anak, berikanlah perhatian penuh. Dengarkan mereka dengan Karunā, bimbing mereka dengan Mettā, dan berikan mereka keleluasaan dengan Upekkhā.
Seorang Ayah Teladan adalah praktisi Brahmavihāra sejati di rumah, yaitu:
- Mettā (Cinta Kasih): Mencintai tanpa syarat, menjemput dan menyambut setiap kepulangan anak dengan senyum dan kehangatan.
- Karunā (Welas Asih): Merasakan penderitaan anak (baik akademis, sosial, atau batin) dan aktif membantu menguranginya, bukan menghakimi.
- Muditā (Simpati Kegembiraan): Turut berbahagia dan bangga atas setiap pencapaian kecil anak, menumbuhkan rasa percaya diri mereka.
- Upekkhā (Keseimbangan Batin): Melepaskan kemelekatan terhadap hasil, menerima anak apa adanya, dan membiarkan mereka belajar dari karma mereka, sambil tetap memberikan bimbingan.
Ketika seorang ayah menanamkan Brahmavihāra ini di rumah, ia menciptakan lingkungan Keluarga Hitta Sukhaya. Keluarga menjadi benteng kedamaian, tempat di mana benih-benih kebajikan tumbuh subur.
Peran Ayah Teladan adalah Perbuatan Luhur yang harus kita lakukan dengan penuh kesadaran. Marilah kita semua, sebagai umat Buddha, bertekad untuk menjadi ayah yang bukan hanya menafkahi, tetapi ayah yang mengajarkan Dhamma, melindungi moral, dan menjadi teladan batin bagi anak-anak kita.
Semoga melalui tekad dan upaya mulia kita, kita dapat menciptakan keluarga yang damai, sejahtera, dan bahagia, yang pada akhirnya akan menjadi sumber kekuatan bagi bangsa dan dunia.
Semoga semua kebajikan yang kita kembangkan hari ini dan di waktu yang lain melimpah kepada seluruh makhluk.
Sabbe Sattā Bhavantu Sukkhitattā.
(Semoga Semua Makhluk Berbahagia.)
Saddhu, Saddhu, Saddhu.
Penulis : Ari Suryana, S.Pd
(Penyuluh Agama Buddha Kemenag Medan)

