Medan (Humas) — Upaya membangun lingkungan yang aman, berintegritas, dan menghargai martabat manusia terus diperkuat oleh Kementerian Agama. Hal ini diwujudkan melalui keikutsertaan Penyuluh Agama Buddha Kantor Kementerian Agama Kota Medan, Ari Suryana, dalam Webinar Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu (8/7/2026).
Kegiatan yang mengangkat tema “Lingkungan Kerja Aman, Bebas dari Kekerasan Seksual: Bersama Mencegah Kekerasan Seksual, Membangun Lingkungan Kerja yang Berintegritas dan Berkeadilan” tersebut menjadi ruang penguatan pemahaman bagi aparatur Kementerian Agama dalam menghadapi isu kekerasan seksual sekaligus memperkuat budaya kerja yang aman dan profesional.
Webinar dibuka oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Drs. Supriyadi, M.Pd. yang menekankan pentingnya membangun lingkungan kerja dengan nilai integritas, penghormatan, serta tanggung jawab bersama dalam memberikan rasa aman bagi seluruh pihak.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual melalui pemaparan materi dari Nur Qamariyah, S.Sos., M.Pub.Pol., Koordinator Gugus Kerja Perempuan dalam Kebhinekaan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Materi mencakup regulasi dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, bentuk-bentuk kekerasan seksual, langkah pencegahan, hingga mekanisme penanganannya.
Ari Suryana menyampaikan bahwa penguatan pemahaman tersebut menjadi bagian penting bagi penyuluh agama dalam menjalankan tugas pembinaan kepada masyarakat. Menurutnya, penyuluh agama memiliki tanggung jawab untuk terus memperluas wawasan, khususnya terkait persoalan sosial yang berkaitan dengan nilai kemanusiaan, perlindungan, serta terciptanya kehidupan masyarakat yang aman dan saling menghargai.
“Penyuluh agama memiliki peran untuk menghadirkan nilai-nilai keagamaan yang tidak hanya berbicara tentang ibadah, tetapi juga tentang penghormatan terhadap manusia, kepedulian, dan menciptakan kehidupan yang harmonis. Karena itu, pemahaman tentang pencegahan kekerasan seksual menjadi hal penting agar kami dapat memberikan edukasi yang lebih komprehensif kepada masyarakat,” ujar Ari.
Ia menambahkan bahwa ajaran Buddha mengajarkan pentingnya menjaga perilaku, ucapan, dan tindakan dalam berinteraksi dengan sesama.
“Nilai sīla, mettā, dan karuṇā mengajarkan kita untuk mengendalikan diri, menumbuhkan cinta kasih, serta memiliki kepedulian terhadap penderitaan orang lain. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan dalam membangun hubungan sosial yang saling menghormati dan bebas dari tindakan yang merugikan sesama,” tambahnya.
Menurut Ari, peningkatan kapasitas penyuluh melalui kegiatan seperti ini menjadi bekal untuk memperkuat kualitas pelayanan keagamaan di tengah masyarakat.
“Ketika penyuluh memiliki pemahaman yang baik terhadap berbagai persoalan sosial, maka penyampaian pesan keagamaan kepada masyarakat dapat dilakukan secara lebih tepat dan menyentuh kebutuhan nyata yang ada di lingkungan sekitar,” katanya.
Webinar tersebut diikuti oleh aparatur Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia melalui rangkaian pemaparan materi, diskusi, dan sesi tanya jawab.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama terus memperkuat kapasitas aparatur dan penyuluh agama agar mampu memberikan pelayanan yang semakin responsif, berintegritas, serta membawa nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat.

