Medan (Humas) — Al-Qur’an tidak hanya menjadi bacaan bagi umat Islam, tetapi juga menjadi sumber pelajaran, penawar penyakit hati, petunjuk dalam menjalani kehidupan, serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Pesan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan keagamaan yang dilaksanakan PAI Kemenag Medan di Majelis Taklim (MT) Dalihanatolu, Jalan Tenggiri, Kelurahan Belawan Bahagia, Kecamatan Medan Belawan, Selasa (6/10/2026). Melalui kajian tafsir QS. Yunus ayat 57, jamaah diajak melihat lebih dalam bagaimana Al-Qur’an dapat dihadirkan sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan sekaligus membentuk ketenangan batin. Kegiatan tersebut menghadirkan Lela Hamidah, S.Ag., PAI KUA Kecamatan Medan Belawan, sebagai narasumber dan diikuti jamaah MT Dalihanatolu dengan penuh antusias.
Dalam penyampaiannya, Lela Hamidah menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca, tetapi juga perlu dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kedudukan Al-Qur’an sebagai mau’izhah atau pelajaran memberikan nasihat dan tuntunan agar manusia mampu membedakan jalan yang benar dan yang salah. “Al-Qur’an memberikan pelajaran kepada kita agar setiap langkah yang kita ambil tetap berada dalam tuntunan Allah SWT,” ujar Lela Hamidah. Selain itu, ia mengajak jamaah untuk menjadikan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Lela juga menerangkan makna syifa atau obat yang terkandung dalam QS. Yunus ayat 57, khususnya bagi penyakit yang berada di dalam hati. Ia menyebut iri, dengki, sombong, marah, dan berbagai sifat buruk lainnya sebagai penyakit hati yang perlu diatasi dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Al-Qur’an menjadi obat bagi hati ketika kita mau membaca, memahami, dan mengamalkan kandungannya, sehingga hati kita lebih tenang dalam menghadapi persoalan kehidupan,” katanya. Sementara itu, jamaah diajak memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an agar nilai-nilai yang dibaca tidak berhenti pada pemahaman, tetapi diwujudkan dalam perilaku.
Lebih lanjut, Lela menyampaikan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang diridai Allah SWT sekaligus menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman. Ia menekankan pentingnya menghadirkan Al-Qur’an dalam kehidupan keluarga, lingkungan masyarakat, maupun dalam menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. “Kalau Al-Qur’an kita jadikan pedoman, insyaallah kita memiliki arah dalam menjalani kehidupan dan mampu menghadapi berbagai persoalan dengan lebih baik,” ungkapnya. Senada dengan hal itu, ia berharap jamaah dapat terus meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an melalui kegiatan membaca, memahami, dan mengamalkannya secara konsisten.
Ketua MT Dalihanatolu, Hj. Adawiyah, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan keagamaan yang diberikan kepada jamaah. Ia menilai materi tafsir QS. Yunus ayat 57 memberikan tambahan wawasan sekaligus mengingatkan jamaah mengenai pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan. “Kami mengucapkan terima kasih atas pembinaan yang diberikan, semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi jamaah,” tutur Hj. Adawiyah. Selain itu, ia berharap kegiatan pembinaan keagamaan dapat semakin mendorong jamaah untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam.
Kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan berlangsung dengan tertib serta mendapat respons positif dari jamaah MT Dalihanatolu. Melalui pembahasan QS. Yunus ayat 57, jamaah diharapkan semakin memahami bahwa Al-Qur’an memiliki fungsi sebagai pelajaran, obat bagi penyakit hati, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun di tengah masyarakat. Dengan demikian, keberadaan Al-Qur’an tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga menjadi sumber ketenangan, pedoman, dan penguat dalam menjalani kehidupan.

