Medan (Humas) — Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas, H. M. Lukman Hakim Hasibuan, menyampaikan tausiyah Ramadan pada malam Tarawih keempat di Masjid Al-Hilal Asrama Widuri, Harjosari II Marindal, Minggu (22/02/2026).
Dalam tausiyahnya, Lukman menyampaikan bahwa Ramadan merupakan bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Oleh karena itu, setiap Muslim yang dipertemukan dengan bulan suci ini wajib mensyukuri nikmat tersebut dengan meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Ia mengingatkan sabda Rasulullah SAW bahwa orang yang celaka bukanlah mereka yang tidak sempat bertemu Ramadan karena telah wafat, melainkan mereka yang masih dipertemukan dengan Ramadan namun tidak memperoleh ampunan dosa dari Allah SWT.
“Rasulullah SAW mengamini tiga doa Malaikat Jibril ketika menaiki anak tangga mimbar. Salah satunya adalah, celakalah orang yang masuk bulan Ramadan, namun dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah SWT,” ujar Lukman di hadapan jamaah.
Lebih lanjut, Lukman menjelaskan bahwa Ramadan merupakan sarana pembinaan spiritual yang membedakan antara Muslim dan Mukmin. Menurutnya, seorang Muslim menjalankan puasa sebagai kewajiban syariat dengan fokus pada aspek lahiriah seperti menahan lapar, haus, dan hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Sementara itu, seorang Mukmin menjalankan puasa dengan landasan keimanan yang kuat dan penuh keikhlasan (imanan wahtisaban), yakni tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga hawa nafsu, lisan, dan hati, serta menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi diri menuju derajat ketakwaan.
“Ramadan ditujukan untuk mencapai derajat orang-orang yang bertakwa. Ramadan menguji apakah seorang Muslim hanya sekadar menggugurkan kewajiban, atau berhasil bertransformasi menjadi insan beriman yang sesungguhnya. Setiap Mukmin pastilah Muslim, namun tidak semua Muslim telah mencapai derajat Mukmin yang kokoh imannya. Ramadan adalah waktu pelatihan untuk menjembatani perbedaan tersebut,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa hanya orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan Ramadan dengan memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT yang mampu meraih derajat takwa.
Kegiatan tausiyah tersebut kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan salat Tarawih berjamaah yang berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan.

