Medan (Humas) Komitmen kuat untuk meningkatkan mutu pendidikan iman di Kota Medan kembali bergema melalui kegiatan Forum Pengarahan dan Pembinaan Guru-Guru Agama Katolik yang dirangkai dengan pertemuan rutin Kelompok Kerja Guru (KKG) Agama Katolik Tingkat Dasar se-Kota Medan, Selasa (4/11/2025).
Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Gereja Katolik Stasi St. Yoseph, Jalan Dr. Mansur, Medan, ini mengusung tema “Pendalaman Metodologi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)” dan menjadi wadah reflektif bagi para guru ASN dan swasta untuk memperdalam penerapan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan yang kreatif, reflektif, dan bermakna bagi peserta didik.
Dalam arahannya, Penyelenggara Katolik Kementerian Agama Kota Medan Pinta Omastri Pandiangan, M.SP., menegaskan pentingnya transformasi peran guru sebagai pendamping iman yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi teladan dalam menanamkan nilai-nilai Kristiani di tengah perubahan zaman. Ia menekankan bahwa pendidikan iman harus berdampak nyata bagi perkembangan karakter peserta didik, sejalan dengan semangat “Kementerian Agama Berdampak”.
“Guru Agama Katolik perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Deep Learning bukan hanya soal memahami konsep, tetapi bagaimana menumbuhkan kesadaran, nilai, dan pengalaman iman dalam diri peserta didik,” ujar Pinta.
Ia juga memaparkan tiga pilar penting dalam menghadapi tantangan era digital, yakni belajar mandiri, penguasaan kemampuan digital, dan penerapan pembelajaran mendalam. Menurutnya, Deep Learning merupakan bagian penting dari Kurikulum Merdeka karena mendorong pembelajaran yang berkesadaran, menyenangkan, dan sarat makna, dengan tujuan membentuk Profil Pelajar Pancasila, khususnya dalam penguatan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Materi inti disampaikan oleh Dr. Dewi Sartika Simbolon, M.Pd., yang menegaskan bahwa Deep Learning menempatkan guru sebagai aktivator, kolaborator, dan pengembang budaya belajar. “Pendekatan ini mengintegrasikan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara utuh, agar peserta didik tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter,” jelasnya. Guru harus mampu mengorkestrasi pembelajaran bermakna untuk mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran.
Kegiatan ini diikuti oleh 17 guru dari enam kecamatan (Medan Perjuangan, Medan Timur, Medan Kota, Medan Baru, Medan Labuhan, dan Medan Barat) di bawah koordinasi Pengawas Pendidikan Agama Katolik Tingkat Dasar Sumadi Ginting, S.Ag. Ketua KKG, Rubina Samosir, S.Ag., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin setiap tanggal 4 tiap bulan sebagai wadah pengembangan profesionalisme dan semangat pelayanan.
Pinta Omastri berharap momentum pembinaan ini menjadi titik balik bagi seluruh guru Agama Katolik untuk memperkuat dedikasi, kreativitas, dan komitmen pelayanan. “Dengan menjadi ujung tombak perubahan yang adaptif dan inovatif, guru diharapkan mampu menghadirkan pendidikan agama Katolik yang bermutu, berdaya saing, dan berdampak positif bagi masyarakat,” pungkasnya.

