Medan (Humas) Di sudut ruang kelas MTsN 1 Medan, seorang guru perempuan berdiri dengan senyum hangat sambil memegang setumpuk catatan siswa. Namanya Fajar Lailatul Mi’rojiyah, S.Pd, M.Pd., namun hampir seluruh siswa dan rekan sejawat mengenalnya dengan sapaan sederhana, “Laila”. Di balik kesederhanaannya, tersimpan semangat besar yang terus menyala demi pendidikan anak bangsa.
Laila lahir dan besar di Jember. Dari kota itulah ia belajar tentang arti perjuangan, kerja keras, dan mimpi. Bersama sang suami, ia kemudian merantau ke Sumatera Utara untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan. Perjalanan hidupnya tidak selalu mudah, namun justru dari berbagai tantangan itulah lahir keteguhan hati yang membuatnya semakin kuat sebagai seorang pendidik.
Saat ini, Laila mengajar mata pelajaran IPA di MTsN 1 Medan. Namun perannya tidak hanya sebatas mengajar di kelas. Ia juga dikenal sebagai guru pembimbing KSM dan MYRES (OMI) yang penuh dedikasi. Dengan kesabaran dan ketelatenan, ia membimbing siswa-siswinya untuk berani bermimpi lebih tinggi. Berbagai prestasi berhasil diraih anak didiknya, mulai dari tingkat provinsi hingga nasional.
Bagi Laila, keberhasilan seorang guru bukan hanya ketika siswa mendapatkan nilai tinggi, tetapi ketika siswa mampu mengubah masa depannya menjadi lebih baik. Ia selalu menanamkan keyakinan kepada murid-muridnya bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk menyerah. Berkat motivasi dan pendampingannya, beberapa siswa binaannya berhasil diterima di sekolah-sekolah favorit bahkan memperoleh pendidikan dengan beasiswa penuh.
Dedikasi tanpa pamrih itu akhirnya mengantarkan Laila pada sebuah kesempatan istimewa. Ia terpilih mewakili Indonesia bersama empat guru lainnya dari berbagai daerah untuk mengikuti program internasional “Training Program for Backbone Teachers of Luban Workshop in Asia Countries” di China yang diselenggarakan oleh Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. Program tersebut akan berlangsung selama 14 hari mulai 21 Mei 2026.
Keberangkatan Laila ke China bukan sekadar perjalanan biasa. Itu adalah bukti bahwa pengabdian tulus seorang guru akan selalu menemukan jalannya menuju penghargaan yang lebih besar. Dari seorang anak daerah di Jember, menjadi guru perantau di Sumatera Utara, hingga dipercaya membawa nama Indonesia di forum internasional, semua diraih melalui kerja keras, ketekunan, dan cinta terhadap pendidikan.
Kepala MTsN 1 Medan Drs. H. syakhrim Harahap, M.Pd., sangat bangga atas prestasi yang diraih oleh salah satu gurunya, “Kabar ini sangat membahagiakan sekaligus memberi motivasi dan isnpirasi bagi kita semua. Semoga akan lebih banyak lagi guru-guru yang mampu berprestasi hingga tingkat internasional.” Ujarnya.
Sebelum keberangkatannya ke China, Laila berkesempatan memberikan motivasi kepada seluruh siswa agar berani bermimpi meraih cita-cita, “Anak-anak ibu semua harus semangat belajar dan meraih cita-cita, walaupun ditengah kesulitan yakinlah jika kalian bersungguh-sungguh maka kalian akan berhasil.” Tuntasnya.
Kisah Laila mengajarkan bahwa guru bukan hanya pengajar di ruang kelas, tetapi juga penyalur harapan bagi masa depan generasi bangsa. Sosoknya menjadi bukti bahwa ketulusan dalam mendidik mampu melahirkan perubahan besar dalam kehidupan banyak anak.
Semoga langkah dan dedikasi Fajar Lailatul Mi’rojiyah dapat menjadi inspirasi bagi para guru di seluruh Indonesia untuk terus mengabdi dengan hati, menyalakan mimpi anak-anak negeri, dan percaya bahwa setiap perjuangan tulus akan membawa cahaya bagi masa depan pendidikan Indonesia.

