PAI Medan Amplas Sampaikan Makna Takwa dalam Kajian Ramadan di Masjid Nurul Hidayah

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam (PAI) Kecamatan Medan Amplas, Harun Arrasid, menyampaikan tausyiah dalam rangkaian kajian Ramadan pada malam ketujuh Ramadan di Masjid Nurul Hidayah, Jalan Garu II B, Kelurahan Harjosari I, Kecamatan Medan Amplas. Kegiatan tersebut diikuti oleh jamaah dengan penuh khusyuk dan antusias.

Dalam tausyiahnya, Harun Arrasid menekankan pentingnya memahami dan mengamalkan makna takwa sebagai tujuan utama ibadah puasa Ramadan. Ia mengutip ungkapan masyhur dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang menjelaskan hakikat takwa, yaitu “Al-khauf minal Jalil, wal ‘amalu bit tanzil, wal qana’atu bil qalil, wal isti’dadu li yaumir rahiil,” yang berarti takut kepada Allah Yang Maha Agung, mengamalkan Al-Qur’an, merasa cukup dengan yang sedikit, dan mempersiapkan diri untuk hari kepulangan (kematian).

Harun Arrasid menjelaskan bahwa takwa mencakup empat aspek penting dalam kehidupan seorang Muslim. Pertama, al-khauf minal Jalil, yaitu rasa takut kepada Allah SWT yang melahirkan ketaatan dan ketundukan, bukan sekadar takut terhadap hukuman-Nya, tetapi takut yang mendorong untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.

Kedua, mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, Ramadan merupakan momentum terbaik untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami dan diamalkan.

“Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Jangan sampai kita hanya membaca tanpa berusaha memahami dan mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ketiga, memiliki sikap qana’ah atau merasa cukup dengan nikmat yang Allah berikan, meskipun sedikit. Sikap ini akan menumbuhkan rasa syukur serta menjauhkan diri dari sifat tamak dan berlebihan.

Keempat, mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan memperbanyak amal saleh, memperbaiki kualitas ibadah, dan meningkatkan keimanan, terutama selama bulan Ramadan yang penuh keberkahan.

Tausyiah yang disampaikan dengan penuh hikmah tersebut memberikan pemahaman yang mendalam kepada jamaah tentang hakikat takwa. Suasana kajian berlangsung khusyuk dan penuh semangat, sekaligus menjadi pengingat bagi jamaah untuk menjadikan Ramadan sebagai madrasah spiritual dalam membentuk pribadi yang bertakwa.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin memahami esensi ibadah Ramadan, tidak hanya sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai sarana pembinaan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik, beriman, dan bertakwa kepada Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *