Penguatan Pemahaman Keagamaan di Penghujung Tahun Hijriah, Penyuluh Agama Ajak Jamaah Muhasabah Diri

Medan (Humas) — Pembinaan keagamaan kepada masyarakat terus digencarkan melalui berbagai kegiatan majelis taklim yang menjadi sarana penguatan nilai-nilai spiritual dan moral. Pada Selasa (9/6/2026), penyuluh agama Kementerian Agama Kota Medan, Amri Sembiring, menyampaikan kajian di Majelis Taklim Masjid Jami Abadi, Jalan Sempurna Medan, dengan tema “Skandal Amal Akhir Tahun Berlumur Dosa di Palung Maksiat, Berharap Masuk Surga.”

Kegiatan tersebut diikuti oleh jamaah yang antusias menyimak materi tentang pentingnya menjaga konsistensi amal saleh serta menghindari perbuatan maksiat yang dapat mengurangi nilai ibadah yang telah dilakukan sepanjang tahun.

Dalam kajiannya, Amri Sembiring menjelaskan bahwa menjelang berakhirnya tahun Hijriah, setiap muslim perlu melakukan evaluasi diri secara jujur terhadap amal dan perilaku yang telah dijalani. Menurutnya, harapan memperoleh rahmat dan surga Allah SWT harus diiringi dengan kesungguhan dalam memperbaiki diri dan meninggalkan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama.

“Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi masih mempertahankan kebiasaan yang dilarang Allah SWT. Muhasabah akhir tahun mengajarkan kita untuk melihat dengan jujur apakah amal yang kita lakukan sudah sejalan dengan akhlak dan perilaku sehari-hari,” ujar Amri.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan seorang muslim tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga diri dari perbuatan dosa dan memberikan manfaat bagi sesama.

“Berharap masuk surga adalah cita-cita setiap mukmin, namun harapan itu harus dibarengi dengan taubat, perbaikan diri, dan komitmen meninggalkan kemaksiatan. Jangan sampai amal yang kita bangun justru tercoreng oleh perbuatan yang terus diulang tanpa ada keinginan untuk berubah,” lanjutnya.

Kegiatan penyuluhan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi jamaah untuk memperdalam pemahaman agama sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan antara ibadah ritual dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, masyarakat diharapkan semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas keimanan, memperbaiki akhlak, serta menghadirkan nilai-nilai Islam yang membawa manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *