Penyuluh Agama Kristen Kemenag Medan Tanamkan Harapan bagi Warga Binaan Polsek Medan Tuntungan

Medan (Humas) — Tidak ada kehidupan yang terlalu jauh untuk dipulihkan dan tidak ada masa lalu yang dapat menghapus harapan akan masa depan. Pesan inilah yang disampaikan Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kota Medan dalam pelayanan Bimbingan Rohani (Bimroh) bagi warga binaan di Polsek Medan Tuntungan, Jumat (4/9/2026).

Pelayanan rohani berlangsung dalam suasana penuh sukacita, khidmat, dan kekeluargaan. Kehadiran Penyuluh Agama Kristen menjadi bagian dari upaya memberikan penguatan iman, penghiburan, serta membangun semangat warga binaan agar tetap memiliki harapan dan tekad untuk memperbaiki kehidupan.

Kegiatan mengangkat tema “Masih Ada Harapan Bersama Tuhan”, dengan dasar Firman Tuhan dari Yeremia 29:11 (TB): “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Rangkaian ibadah diawali dengan pujian yang dipimpin oleh Amanda Purba. Melalui puji-pujian, para warga binaan diajak mempersiapkan hati untuk mengikuti ibadah dan menerima Firman Tuhan.

Firman Tuhan disampaikan oleh Mateus Brian Purba, S.Th. Ia menegaskan bahwa keadaan seseorang hari ini bukanlah akhir dari seluruh perjalanan hidupnya. Tuhan tetap memiliki rancangan bagi setiap orang, termasuk bagi mereka yang sedang berada dalam masa sulit dan menjalani proses pembinaan.

“Jangan berpikir bahwa karena kita pernah melakukan kesalahan, maka masa depan kita sudah selesai. Yeremia 29:11 mengingatkan bahwa Tuhan masih memiliki rancangan bagi kita. Mungkin hari ini kita sedang berada dalam keadaan yang berat, tetapi Tuhan tetap memberikan hari depan yang penuh harapan,” ungkap Mateus.

Ia mengajak warga binaan untuk tidak terus-menerus hidup dalam penyesalan, tetapi menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan untuk melakukan perubahan.

Menurutnya, masa lalu memang tidak dapat diubah, tetapi seseorang masih dapat menentukan langkah yang akan diambil mulai hari ini. Perubahan dapat dimulai melalui hal-hal sederhana, seperti belajar jujur, mengendalikan emosi, menjaga perkataan, menghormati sesama, mengampuni, serta bertanggung jawab atas setiap tindakan.

“Jangan biarkan kesalahan masa lalu menjadi alasan untuk berhenti berharap. Gunakan kesempatan hari ini untuk berubah. Tuhan masih memberikan waktu, dan selama Tuhan memberikan waktu, berarti masih ada kesempatan untuk menjadi lebih baik,” lanjutnya.

Mateus juga menekankan bahwa pengharapan kepada Tuhan bukan berarti seseorang hanya menunggu keadaan berubah. Pengharapan harus diwujudkan melalui kemauan untuk mengambil langkah dan menjalani proses perubahan dengan sungguh-sungguh.

“Harapan kepada Tuhan harus menghasilkan perubahan dalam hidup. Jangan hanya berkata ingin menjadi orang baik, tetapi mulailah melakukannya dari hal-hal kecil. Hari ini mungkin kita sedang menanam, tetapi percayalah, Tuhan menyediakan waktu untuk menuai,” pesannya.

Selain ibadah dan pemberitaan Firman Tuhan, kegiatan juga diisi dengan konseling rohani yang dilayani oleh Mahla Tarigan. Melalui konseling, warga binaan diberikan ruang untuk menyampaikan pergumulan, kekhawatiran, maupun harapan mereka secara pribadi. Pendampingan dilakukan dengan penuh perhatian dan kasih sehingga mereka dapat memperoleh penguatan dalam menghadapi proses pembinaan.

Sementara itu, doa syafaat dipimpin oleh Pitri Sihotang. Dalam doa tersebut, pergumulan para warga binaan, keluarga mereka, serta seluruh jajaran Polsek Medan Tuntungan dibawa ke hadapan Tuhan. Doa juga menjadi ungkapan pengharapan agar Tuhan memberikan kekuatan, kesehatan, ketenangan, hikmat, dan penyertaan dalam menjalani setiap tanggung jawab.

Pelayanan rohani ini menjadi salah satu bentuk sinergi positif antara Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kota Medan dengan pihak Polsek Medan Tuntungan. Pembinaan warga binaan diharapkan tidak hanya menyentuh aspek kedisiplinan, tetapi juga memperhatikan pembentukan karakter, mental, moral, dan spiritual.

Melalui pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, warga binaan diharapkan semakin mampu melakukan refleksi terhadap kehidupan mereka, memperbaiki kesalahan, membangun karakter yang lebih baik, serta mempersiapkan diri untuk kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.

Kegiatan berlangsung dengan tertib dan penuh kekhidmatan. Antusiasme warga binaan dalam mengikuti ibadah menunjukkan bahwa kebutuhan akan penguatan iman dan pengharapan tetap penting, khususnya bagi mereka yang sedang berada dalam masa sulit.

Bagi Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kota Medan, pelayanan kepada warga binaan merupakan bagian dari panggilan untuk menghadirkan kasih Tuhan kepada setiap orang tanpa membedakan latar belakang maupun kondisi kehidupan.

Melalui Firman Tuhan dalam Yeremia 29:11, para warga binaan kembali diingatkan bahwa Tuhan masih memiliki rancangan bagi kehidupan mereka. Kegagalan bukanlah akhir, masa lalu bukanlah penentu seluruh masa depan, dan keterbatasan hari ini tidak berarti tidak ada jalan untuk berubah.

Pesan yang terus ditanamkan adalah sederhana namun kuat: selama Tuhan masih memberikan kesempatan, selalu ada harapan untuk memulai kehidupan yang baru.

Dengan iman, kemauan untuk berubah, dan pertolongan Tuhan, para warga binaan diharapkan mampu menjalani masa pembinaan dengan penuh pengharapan dan kelak kembali ke tengah keluarga serta masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *