Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Sunggal, Drs. H. Fuji, MA, menjadi narasumber dalam Seminar “Masjid Berdampak” yang diselenggarakan oleh Komunitas Pecinta Ilmu Pengetahuan dan Intelektual (KOPI PAHIT). Kegiatan tersebut berlangsung di Coffee Shop Koperasi UIN Sumatera Utara, Jalan William Iskandar/Pancing Medan, pada Rabu (15/7/2026), dengan tujuan memperkuat pemahaman masyarakat mengenai peran strategis masjid dalam membangun kehidupan umat.
Seminar ini dihadiri Presiden KOPI PAHIT Dr. Usiono, MA, Ketua BKM Masjid At-Taqwa Universitas Medan Area Dr. Zainul, MA, dosen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sumatera Utara Hendra Hermain, SE., M.Pd., serta para undangan dan mahasiswa UIN Sumatera Utara. Antusiasme peserta sangat tinggi dengan jumlah kehadiran lebih dari 100 orang yang aktif mengikuti jalannya diskusi.
Dalam paparannya, Fuji, menjelaskan bahwa konsep Masjid Berdampak menempatkan masjid bukan hanya sebagai tempat pelaksanaan ibadah mahdhah, tetapi juga sebagai pusat peradaban yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, masjid harus hadir sebagai ruang pemberdayaan yang mampu menjawab berbagai persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, dan pembinaan umat.
“Masjid berdampak adalah masjid yang tidak hanya ramai dengan kegiatan ibadah, tetapi juga mampu menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat. Masjid harus menjadi pusat peradaban yang melahirkan kemaslahatan, memperkuat ukhuwah, dan meningkatkan kesejahteraan umat,” ujar Fuji.
Lebih lanjut, Fuji memaparkan empat ciri utama masjid yang berdampak. Pertama, pemberdayaan ekonomi umat melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, pemberian modal usaha, pelatihan keterampilan, serta pengembangan koperasi syariah berbasis masjid. Kedua, pusat pelayanan sosial dengan menghadirkan santunan bagi yatim piatu dan fakir miskin, layanan tanggap darurat, serta pelayanan kesehatan dasar. Ketiga, sarana pendidikan yang menyediakan pembelajaran agama untuk semua kalangan, perpustakaan, dan bimbingan belajar. Keempat, tempat sinergi komunitas, yaitu ruang terbuka untuk musyawarah warga, pembinaan kepemudaan, serta berbagai kegiatan positif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Di akhir kegiatan, para peserta menyambut baik materi yang disampaikan dan berharap konsep
Masjid Berdampak dapat diterapkan di lingkungan masing-masing. Masjid yang ideal adalah masjid yang tidak hanya memakmurkan ibadah, tetapi juga memakmurkan kehidupan masyarakat melalui program pemberdayaan, pelayanan sosial, pendidikan, dan kolaborasi. Dengan demikian, masjid akan menjadi pusat kemajuan umat yang memberi manfaat luas bagi lingkungan sekitarnya.(Paidi).

