Sapa Umat Melalui Radio, Penyuluh Agama Katolik Kemenag Medan Ulas Doa Rosario Bukan Doa Sia-sia

Medan (Humas) Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan mengadakan penyuluhan keagamaan bagi umat Katolik melalui siaran Radio Maria Indonesia dalam program Ruang Bimas Katolik Kementerian Agama Kota Medan, Kamis (15/10/2026). Siaran yang berlangsung pukul 12.30–13.30 WIB ini bertempat di studio Radio Maria Indonesia, Gedung Catholic Center Christosophia, lantai 5, Jalan Mataram No. 21, Petisah Hulu, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan. Mengangkat tema “Doa Rosario adalah Doa yang Diulang-ulang, Namun Bukan Doa yang Sia-sia”, kegiatan ini bertujuan memperdalam pemahaman umat mengenai makna doa Rosario berdasarkan Kitab Suci dan penghayatan iman Katolik.

Ricardo Simamora bertugas sebagai host yang memandu jalannya diskusi bersama Zetra Hail Saragih sebagai narasumber pertama dan Hekdi Jojada Sinaga sebagai narasumber kedua. Dalam perbincangan tersebut, para penyuluh mengulas makna perkataan Yesus dalam Matius 6:7 tentang larangan berdoa secara bertele-tele. Materi menekankan bahwa yang menjadi persoalan bukanlah pengulangan doa itu sendiri, melainkan sikap berdoa tanpa penghayatan, ketulusan, dan keterlibatan hati.

Ricardo Simamora menyampaikan bahwa melalui program siaran ini, umat diajak memahami ajaran Yesus secara lebih mendalam agar tidak keliru memaknai doa yang diucapkan berulang kali. “Kami berharap pendengar semakin memahami bahwa doa bukan sekadar rangkaian kata, tetapi ungkapan iman yang harus dihayati dengan sungguh-sungguh,” ungkap Ricardo.

Dalam pemaparannya, Zetra Hail Saragih menjelaskan bahwa doa Rosario memiliki tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus merenungkan misteri kehidupan Yesus Kristus bersama Bunda Maria. Ia membedakan doa Rosario yang dilandasi iman dan kontemplasi dari pengulangan kata-kata kosong yang tidak disertai penghayatan. “Melalui doa Rosario, umat diajak merenungkan kehidupan, penderitaan, dan kebangkitan Yesus Kristus secara lebih mendalam melalui mata dan hati seorang Ibu,” ujar Zetra.

Sementara itu, Hekdi Jojada Sinaga menegaskan bahwa ketulusan hati merupakan hal penting dalam kehidupan doa. Ia memberikan ilustrasi sederhana tentang ungkapan cinta yang diucapkan berulang kali, tetapi tetap memiliki makna ketika disampaikan dengan tulus. Menurutnya, doa Rosario hendaknya tidak dipandang sebagai rutinitas yang membebani, melainkan sebagai ungkapan kasih kepada Allah. “Marilah kita mendoakan Rosario bukan sebagai rutinitas yang membebani, melainkan sebagai persembahan cinta yang tulus dari kedalaman hati kita kepada Bapa di surga,” tutur Hekdi.

Melalui penyuluhan melalui Radio Maria Indonesia ini, Bimas Katolik Kementerian Agama Kota Medan berharap umat semakin memahami makna doa Rosario dan menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari. Pengulangan doa yang disertai iman, pertobatan, dan permenungan dapat membantu umat semakin dekat dengan Tuhan serta memperdalam relasi pribadi dengan-Nya. Dengan demikian, doa Rosario tidak berhenti pada pengucapan kata-kata, tetapi menjadi sarana pertumbuhan iman dan ungkapan kasih yang tulus kepada Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *