Medan (Humas) Pada malam ke- 8 Ramadhan, Salat Tarawih di Masjid Al Hafiz, Jalan TB Simatupang, Medan Sunggal, Rabu, (24/2/2026), Penata Layanan Operasional (PLO) KUA Medan Sunggal, Dr. Iqbal Habibie Siregar, M.Pd.I, memberikan tausiyah yang sangat penting mengenai bagaimana cara meningkatkan kualitas puasa selama bulan Ramadan. Dalam tausiyahnya, beliau mengutip pandangan Imam Al Ghazali mengenai pembagian puasa menjadi tiga golongan, yang menjadi pedoman bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah mereka selama bulan suci ini.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas ibadah puasa kita hingga menjadi puasa yang mendekatkan diri pada Allah, dengan hati yang ikhlas dan penuh kesadaran.” Ujar Iqbal Habibi
Menurut Imam Al Ghazali, puasa dibagi menjadi tiga golongan:
Golongan Awam/umum: Puasa yang dijalankan hanya sebatas menahan lapar dan haus. Puasa ini adalah tingkatan yang paling dasar dan umum. Meski sah, puasa semacam ini hanya berfokus pada aspek fisik saja.
Golongan Khusus: Pada tingkatan ini, puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lidah dari perkataan yang tidak baik, mata dari melihat hal-hal yang haram, dan telinga dari mendengar perbuatan yang tidak bermanfaat. Golongan ini lebih mengarah pada penyucian diri dari perbuatan buruk dan dosa.
Golongan Khusus untuk Khusus: Ini adalah tingkat tertinggi dalam menjalankan puasa. Golongan ini menahan segala sesuatu yang dapat menghalangi hati dari mendekatkan diri kepada Allah. Puasa jenis ini melibatkan keikhlasan, ketulusan hati, dan pengendalian diri sepenuhnya dalam beribadah. Golongan ini benar-benar menjalankan puasa sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan tingkat kesadaran yang sangat tinggi.
Untuk mencapai kualitas puasa yang lebih tinggi, Iqbal Habibie Siregar menekankan pentingnya untuk tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus, tetapi juga untuk terus berusaha meningkatkan kedekatan kita dengan Allah. Puasa sejatinya bukan hanya soal aspek fisik, tetapi juga aspek rohani yang melibatkan hati dan niat yang tulus. Oleh karena itu, setiap individu diharapkan untuk berusaha mencapai tingkatan golongan khusus atau golongan khusus untuk khusus, yang hanya bisa dicapai dengan meningkatkan kualitas ibadah dalam setiap aspek kehidupan, baik itu dalam perkataan, perbuatan, hingga pengendalian diri.
Selain itu, mengendalikan hawa nafsu juga merupakan salah satu cara untuk memperbaiki kualitas puasa. Di bulan Ramadan, selain menahan lapar dan haus, kita juga diingatkan untuk menahan hawa nafsu dalam berbagai bentuk, seperti amarah, hasad, dan perbuatan dosa lainnya. Sehingga, dengan semakin kuatnya pengendalian diri, seseorang bisa semakin dekat dengan Allah dan meraih puasa yang berkualitas tinggi.
Puasa adalah ibadah yang tidak hanya mengharuskan kita untuk menahan diri dari lapar dan haus, tetapi juga untuk menyucikan jiwa dan hati. Berdasarkan pandangan Imam Al Ghazali, kita harus berusaha untuk tidak hanya menjadi golongan awam, tetapi untuk terus memperbaiki diri agar bisa mencapai golongan khusus, dan pada akhirnya golongan khusus untuk khusus. Inilah yang akan membawa kita pada puasa yang lebih bermakna dan mendalam, yaitu puasa yang tidak hanya berbicara tentang aspek fisik, tetapi juga tentang kualitas spiritual kita dalam mendekatkan diri kepada Allah.(Paidi).

