Penyuluh Agama Katolik Kemenag Medan Angkat Tiga Pilar Prapaskah dalam Podcast OPKM

Medan (Humas) Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Medan kembali menghadirkan podcast rohani bertajuk OPKM (Obrolan Penyuluh Katolik Medan) dengan tema “Tiga Pilar Prapaskah: Doa, Puasa, dan Amal Kasih”. Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Kantor Kementerian Agama Kota Medan, Jl. Sei Batu Gingging Ps. X No.12, Merdeka, Kec. Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara ini dipandu oleh Ricardo Simamora, S.Ag., selaku host, serta menghadirkan dua narasumber, yakni Hekdi Jojada Sinaga, S.Fil., dan Zetra Hail Saragih, S.Fil.

Dalam perbincangan yang berlangsung hangat tersebut, dijelaskan bahwa tiga pilar Prapaskah memiliki dasar Kitab Suci dalam Injil Matius 6:1–18, ketika Yesus mengajarkan tentang memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa. Penegasan Yesus dengan kalimat “apabila kamu” menunjukkan bahwa ketiga praktik tersebut adalah bagian normal dalam kehidupan orang beriman. “Prapaskah menjadi masa intensifikasi, saat doa, puasa, dan amal kasih kita jalani dengan lebih sungguh dan sadar,” ungkap Hekdi Jojada Sinaga.

Pada pilar pertama, yakni doa, dijelaskan bahwa doa merupakan nafas kehidupan rohani serta dialog kasih antara manusia dan Allah. Mengacu pada Matius 6:6, umat diajak membangun relasi pribadi dengan Tuhan, bukan sekadar rutinitas lahiriah. “Tanpa doa, puasa hanya menjadi diet, dan amal kasih hanya menjadi kegiatan sosial biasa,” tegas Zetra Hail Saragih. Umat pun didorong untuk menambah waktu doa pribadi, membangun kebiasaan doa keluarga, merenungkan Sabda Tuhan setiap hari, serta mengikuti Jalan Salib selama masa Prapaskah.

Pilar kedua, puasa, dimaknai sebagai latihan pengendalian diri dan solidaritas. Berdasarkan Matius 6:16 dan teladan Yesus yang berpuasa selama 40 hari, puasa bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk membebaskan diri dari keterikatan yang tidak perlu, seperti sikap konsumtif, kemarahan, kecanduan, dan egoisme. “Puasa melatih kita untuk berkata: aku tidak diperbudak oleh keinginanku,” jelas Hekdi. Implementasinya dapat dilakukan dengan menjalankan pantang dan puasa sesuai aturan Gereja, mengurangi penggunaan media sosial, menahan diri dari perkataan negatif, serta hidup lebih sederhana.

Sementara itu, pilar ketiga yakni amal kasih ditegaskan sebagai buah nyata pertobatan. Berdasarkan Matius 6:3, amal kasih dilakukan dengan tulus tanpa mencari pujian. Dalam tradisi Gereja di Indonesia, semangat ini diwujudkan melalui Aksi Puasa Pembangunan (APP). Umat diajak membantu keluarga berkekurangan, mengunjungi orang sakit, mengampuni sesama, dan terlibat aktif dalam kegiatan sosial Gereja. Menutup OPKM, Ricardo Simamora menyampaikan, “Doa mengarahkan hati kepada Allah, puasa membersihkan hati, dan amal kasih membuka hati bagi sesama. Ketiganya membentuk segitiga spiritual yang tidak terpisahkan dalam perjalanan pertobatan menuju sukacita Paskah.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *