Muhasabah Akhir Tahun Hijriah, Penyuluh KUA Medan Amplas Ajak Jamaah Perkuat Hubungan dengan Allah, Sesama, dan Lingkungan

Medan (Humas) – Menjelang berakhirnya Tahun 1447 Hijriah, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Amplas terus mengintensifkan pembinaan keagamaan kepada masyarakat melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama (Bimluh). Kegiatan ini menjadi sarana untuk mengajak umat melakukan introspeksi diri sekaligus memperkuat kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Salah satu kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Amplas, Harun Arrasid, di hadapan jamaah Majelis Taklim Al Hidayah yang berlangsung di Masjid Al Hidayah, Jalan Pertahanan, Medan Amplas, Sabtu (06/06/2026).

Dalam suasana yang khidmat dan penuh keakraban, Harun Arrasid menyampaikan materi bertema “Muhasabah Menjelang Akhir Tahun 1447 Hijriah.” Tema tersebut mengajak jamaah menjadikan pergantian tahun Hijriah sebagai momentum untuk mengevaluasi perjalanan hidup, memperbaiki kekurangan, serta meningkatkan amal saleh sebagai bekal menghadapi kehidupan akhirat.

Menurutnya, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh amal yang dilakukan selama hidup di dunia. Oleh karena itu, sebelum datang hari perhitungan yang sesungguhnya, setiap muslim hendaknya membiasakan diri melakukan muhasabah atau evaluasi diri secara jujur dan mendalam.

“Muhasabah adalah cermin bagi orang-orang beriman. Sebelum kita dihisab oleh Allah SWT di akhirat kelak, marilah kita menghisab diri kita sendiri selama masih diberikan kesempatan hidup. Pergantian tahun Hijriah hendaknya menjadi pengingat bahwa usia terus berkurang dan kesempatan beramal semakin terbatas,” ujar Harun Arrasid.

Dalam penyampaiannya, Harun Arrasid menguraikan tiga aspek penting yang perlu menjadi fokus evaluasi setiap muslim. Pertama, hablum minallah, yaitu hubungan manusia dengan Allah SWT. Jamaah diajak menilai kembali kualitas ibadah yang telah dilakukan, seperti salat, puasa, membaca Al-Qur’an, zikir, sedekah, serta berbagai bentuk ketaatan lainnya.

“Jangan sampai waktu yang Allah berikan berlalu begitu saja tanpa ada peningkatan kualitas ibadah. Seorang muslim yang baik adalah mereka yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT,” katanya.

Aspek kedua adalah hablum minannas, yaitu hubungan dengan sesama manusia. Dalam hal ini, Harun Arrasid mengingatkan pentingnya menjaga silaturahmi, menghormati orang tua, membina hubungan baik dengan keluarga, tetangga, dan masyarakat, serta menjauhi perilaku yang dapat merusak persaudaraan seperti fitnah, ghibah, dan permusuhan.

“Jangan sampai kita rajin beribadah tetapi masih menyakiti hati sesama. Islam mengajarkan keseimbangan antara hak Allah dan hak manusia. Kesalehan spiritual harus berjalan beriringan dengan kesalehan sosial,” tegasnya.

Sementara aspek ketiga adalah hablum minal ‘alamin, yaitu hubungan manusia dengan lingkungan dan alam sekitarnya. Ia mengajak jamaah untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, menjaga kelestarian alam, serta memanfaatkan sumber daya yang ada secara bijaksana sebagai bentuk tanggung jawab kepada Allah SWT.

“Menjaga lingkungan juga bagian dari ibadah. Alam yang kita nikmati hari ini adalah amanah yang harus dijaga dan diwariskan dalam keadaan baik kepada generasi berikutnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Harun Arrasid mengingatkan bahwa pergantian tahun Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan momentum untuk memperbarui semangat hijrah menuju pribadi yang lebih baik. Menurutnya, keberhasilan seorang muslim tidak diukur dari bertambahnya usia semata, tetapi dari sejauh mana ia mampu meningkatkan kualitas iman, ilmu, dan amal saleh.

Materi yang disampaikan mendapat respons positif dari para jamaah. Mereka mengikuti kegiatan dengan antusias dan menyimak setiap materi yang disampaikan hingga akhir acara. Beberapa jamaah bahkan menyampaikan bahwa tema muhasabah sangat relevan sebagai pengingat untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang akan datang.

Salah seorang jamaah, Hj. Siti Rahmah, mengaku bersyukur dapat mengikuti kegiatan tersebut.

“Kajian ini sangat menyentuh dan membuka kesadaran kami untuk lebih sering mengevaluasi diri. Terkadang kita terlalu sibuk memikirkan urusan dunia sehingga lupa memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama,” tuturnya.

Kegiatan Bimluh kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh pemateri, memohon keberkahan umur, kesehatan, keteguhan iman, serta kemampuan untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan amal kebaikan.

Melalui kegiatan pembinaan yang dilaksanakan secara berkelanjutan, KUA Kecamatan Medan Amplas terus berupaya menghadirkan layanan keagamaan yang mencerahkan dan membangun kesadaran spiritual masyarakat. Diharapkan, nilai-nilai muhasabah yang disampaikan dapat menjadi inspirasi bagi umat untuk terus memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, menjaga keharmonisan dengan sesama, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai wujud pengamalan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *