Perkuat Pondasi Iman, Penyuluh KUA Medan Amplas Ajak Jamaah Kokoh dalam Tauhid

Medan (Humas) – Upaya memperkuat kualitas kehidupan beragama masyarakat terus dilakukan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas melalui berbagai program pembinaan dan penyuluhan keagamaan. Sejalan dengan arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., seluruh unsur KUA, baik Penyuluh Agama Islam, penghulu, maupun Penata Layanan Operasional (PLO), diharapkan mampu menghadirkan pelayanan dan bimbingan keagamaan yang berkualitas, menyentuh kebutuhan umat, serta memberikan dampak positif yang nyata di tengah masyarakat.

Salah satu bentuk implementasi arahan tersebut diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (BIMLUH) yang dilaksanakan secara rutin oleh Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., di Majelis Taklim Ikhwan pada Selasa (09/06/2026). Pada kesempatan tersebut, Dr. Syarto menyampaikan materi bertema “Aqidah: Pondasi Seorang Muslim”, yang menekankan pentingnya tauhid sebagai dasar utama dalam membangun kehidupan seorang mukmin.

Dalam pemaparannya, Syarto menjelaskan bahwa aqidah merupakan inti ajaran Islam sekaligus misi utama yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul. Sejak Nabi Nuh AS hingga Nabi Muhammad SAW, seruan yang selalu disampaikan adalah mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah SWT dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.

“Aqidah bukan sekadar pengetahuan atau teori yang dipahami di dalam pikiran, tetapi menjadi fondasi yang menentukan bagaimana seorang muslim berpikir, bersikap, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupannya sehari-hari. Jika aqidahnya kuat, maka akan lahir pribadi yang kokoh dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan,” ujar Syarto di hadapan jamaah.

Untuk memperdalam pemahaman peserta, ia mengangkat sejumlah kisah inspiratif dari generasi terbaik umat Islam yang menunjukkan keteguhan aqidah dalam berbagai situasi. Di antaranya kisah sahabat Bilal bin Rabah RA yang tetap mempertahankan keimanan meskipun mengalami penyiksaan berat, Khubaib bin Adi RA yang teguh memegang tauhid hingga menjelang syahid, serta Sa’id bin Al-Musayyib yang dikenal istiqamah menjaga prinsip agama di tengah berbagai tekanan dan tantangan.

Menurutnya, keteladanan para ulama dan sahabat tersebut menjadi bukti bahwa kekuatan aqidah mampu melahirkan keberanian, kesabaran, dan keteguhan dalam mempertahankan kebenaran.

Dalam tausiyahnya, Syarto juga menguraikan beberapa indikator yang menunjukkan kuatnya pondasi tauhid seseorang. Di antaranya adalah mendahulukan perintah Allah SWT di atas hawa nafsu, tidak menggantungkan harapan kepada makhluk, tetap tenang ketika menghadapi ujian, serta memiliki sifat jujur dan amanah karena menyadari bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi setiap perbuatannya.

“Orang yang memiliki tauhid yang kuat akan berani membela kebenaran meskipun harus menghadapi risiko. Ia juga beramal dengan penuh keikhlasan dan tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan utama dalam beribadah maupun berbuat kebaikan,” jelasnya.

Sebaliknya, ia mengingatkan jamaah untuk mewaspadai tanda-tanda lemahnya aqidah yang dapat menggerus kualitas keimanan seseorang. Di antaranya adalah lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah SWT, mudah mempercayai takhayul, jimat, atau praktik perdukunan, mudah berputus asa ketika tertimpa musibah, serta menjadi sombong ketika memperoleh keberhasilan.

“Tanda lainnya adalah tidak jujur ketika merasa tidak diawasi, beribadah hanya saat memiliki kepentingan tertentu, dan selalu mengejar pujian serta pengakuan dari manusia. Hal-hal seperti ini perlu menjadi bahan muhasabah agar kita terus memperbaiki kualitas tauhid dalam diri,” tegasnya.

Lebih lanjut, Syarto menekankan bahwa aqidah yang benar akan melahirkan akhlak yang baik, sikap hidup yang seimbang, serta ketenangan jiwa dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Sebaliknya, lemahnya pondasi tauhid sering kali menjadi pintu masuk berbagai penyimpangan perilaku dan kerusakan moral.

Kegiatan BIMLUH berlangsung dalam suasana khidmat dan interaktif. Para jamaah tampak antusias mengikuti pemaparan materi, mencatat poin-poin penting yang disampaikan, serta berdiskusi mengenai berbagai persoalan keagamaan yang berkaitan dengan penguatan aqidah di era modern saat ini.

Pembinaan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh pemateri, dilanjutkan dengan pelaksanaan salat Isya berjamaah. Melalui kegiatan pembinaan yang berkelanjutan ini, KUA Kecamatan Medan Amplas berharap masyarakat semakin memahami pentingnya membangun aqidah yang kokoh sebagai landasan dalam beribadah, bermuamalah, serta menghadapi berbagai tantangan kehidupan, sehingga terwujud pribadi muslim yang kuat, istiqamah, dan senantiasa mengharapkan ridha Allah SWT dalam setiap langkah kehidupannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *