Medan (Humas) – Komitmen Kementerian Agama Kota Medan dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang inklusif terus diwujudkan melalui berbagai program pembinaan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus. Melalui Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik, Kementerian Agama Kota Medan membangun kerja sama pembinaan rohani dengan Yayasan Pendidikan Dwituna (YPD) Harapan Baru sebagai upaya memperkuat pembentukan karakter dan spiritualitas peserta didik tuna netra.
Kerja sama tersebut diawali dengan kunjungan para Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan ke YPD Harapan Baru yang beralamat di Jalan Sei Batang Serangan Nomor 75, Kelurahan Babura Sunggal, Kecamatan Medan Baru, Senin (6/7/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB itu diikuti oleh Hamma Sitohang, Roni Antonius Sitanggang, Zetra Hail Saragih, Demaran Sigiro, dan Leonhard Hutagalung.
Kunjungan tersebut menjadi langkah awal membangun sinergi antara Bimas Katolik Kementerian Agama Kota Medan dengan pihak yayasan dalam menghadirkan pelayanan pembinaan rohani secara berkelanjutan bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB). Program ini diharapkan mampu memberikan penguatan iman sekaligus membentuk karakter yang tangguh, mandiri, dan penuh pengharapan.
Dalam suasana penuh keakraban, para penyuluh memperkenalkan berbagai program pembinaan rohani yang akan dilaksanakan secara berkala. Program tersebut meliputi pendalaman Kitab Suci, pembinaan karakter Kristiani, doa bersama, pendampingan spiritual, serta berbagai kegiatan edukatif yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus.
Ketua Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Katolik Kementerian Agama Kota Medan, Hamma Sitohang, mengatakan bahwa pelayanan penyuluh agama tidak boleh berhenti pada kelompok masyarakat tertentu, tetapi harus mampu menjangkau seluruh umat tanpa membedakan kondisi fisik maupun latar belakang sosial.
“Pelayanan penyuluh agama harus menghadirkan kasih Tuhan secara nyata bagi semua orang. Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk memperoleh pembinaan rohani yang berkualitas. Karena itu, kami hadir untuk mendampingi mereka agar semakin bertumbuh dalam iman, memiliki karakter yang kuat, serta tetap optimis meraih masa depan,” ujar Hamma.
Menurutnya, pembinaan rohani merupakan fondasi penting dalam membangun kepribadian peserta didik. Nilai-nilai kasih, kesabaran, kejujuran, disiplin, dan semangat melayani perlu ditanamkan sejak dini agar menjadi bekal dalam menjalani kehidupan.
“Kami berharap kerja sama ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi pelayanan yang berkelanjutan. Ketika iman bertumbuh, maka kepercayaan diri, semangat belajar, dan kemampuan menghadapi tantangan hidup juga akan semakin kuat,” tambahnya.
Sementara itu, pihak Yayasan Pendidikan Dwituna Harapan Baru menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan Bimas Katolik Kementerian Agama Kota Medan. Menurut pihak yayasan, kehadiran para penyuluh memberikan harapan baru bagi peserta didik untuk memperoleh pendampingan spiritual yang selama ini sangat dibutuhkan.
“Kami menyambut baik kerja sama ini karena pembinaan rohani merupakan bagian penting dalam proses pendidikan. Kami berharap para peserta didik tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki iman yang kokoh, karakter yang baik, serta mampu hidup mandiri di tengah masyarakat,” ungkap perwakilan Yayasan Harapan Baru.
Selama kunjungan berlangsung, para penyuluh juga berdialog dengan pengelola yayasan mengenai berbagai kebutuhan peserta didik serta pola pembinaan yang dapat diterapkan agar lebih efektif dan sesuai dengan kondisi anak-anak penyandang disabilitas netra. Diskusi tersebut menjadi dasar penyusunan program pembinaan rohani yang akan dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan.
Melalui kolaborasi ini, Penyelenggara Katolik Kementerian Agama Kota Medan berharap semakin banyak ruang pelayanan yang dapat dijangkau, sehingga kehadiran penyuluh agama benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat, termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas.
Pembinaan rohani yang inklusif diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kecakapan intelektual, tetapi juga beriman, berkarakter, berintegritas, serta mampu menjadi pribadi yang percaya diri dan membawa nilai-nilai kasih Kristus dalam kehidupan bermasyarakat.

