PAI KUA Medan Denai Ingatkan Jamaah tentang Golongan yang Sengsara di Padang Mahsyar

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Denai terus mengoptimalkan pembinaan keagamaan kepada masyarakat melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan (Bimluh). Kali ini, pembinaan dilaksanakan ba’da Isya bersama jamaah Majelis Taklim Darul Hikmah yang terdiri dari kaum bapak dan ibu di Jalan Denai Gang Buntu, Kecamatan Medan Denai, Selasa (7/7/2026).

Kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan. Acara dipandu oleh Syahrial selaku protokol, dilanjutkan dengan sambutan Ketua Majelis Taklim Darul Hikmah, H. Asmuni, yang menyampaikan apresiasi atas komitmen Penyuluh Agama Islam KUA Medan Denai dalam memberikan pembinaan keagamaan secara berkesinambungan kepada masyarakat.

“Pembinaan seperti ini sangat kami butuhkan. Selain menambah ilmu agama, kegiatan ini menjadi sarana untuk saling mengingatkan dalam meningkatkan kualitas ibadah dan memperkuat keimanan di tengah berbagai tantangan kehidupan saat ini,” ujar H. Asmuni.

Materi bimbingan disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I., dengan tema “Orang-Orang yang Sengsara di Padang Mahsyar: Muhasabah Diri sebagai Bekal Menuju Akhirat.”

Dalam penyampaiannya, Khoiruz Zaman menjelaskan bahwa Padang Mahsyar merupakan tempat seluruh manusia dikumpulkan setelah dibangkitkan dari alam kubur untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya di hadapan Allah Swt. Karena itu, setiap muslim hendaknya senantiasa melakukan muhasabah diri serta mempersiapkan bekal terbaik berupa keimanan yang kokoh, amal saleh, dan akhlak yang mulia.

Ia menguraikan beberapa golongan yang mendapat ancaman kesengsaraan di Padang Mahsyar, di antaranya orang-orang kafir dan musyrik, orang munafik, pelaku kezaliman terhadap sesama, orang yang meninggalkan salat, enggan menunaikan zakat, pemimpin yang zalim, orang yang sombong, pelaku ghibah, fitnah dan adu domba, pengkhianat amanah, serta mereka yang menunda taubat hingga datangnya kematian.

Menurutnya, materi tersebut bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai pengingat agar setiap muslim terus memperbaiki diri sebelum datangnya hari pembalasan.

“Selama pintu taubat masih terbuka, jangan pernah menunda untuk memperbaiki diri. Perbanyak amal saleh, jaga salat, pelihara lisan, tunaikan amanah, dan jauhi segala bentuk kezaliman agar kita termasuk golongan yang mendapatkan keselamatan pada hari kiamat,” pesan Khoiruz Zaman.

Ia juga mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan setiap kajian sebagai momentum meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan.

“Kehidupan dunia hanyalah persinggahan. Bekal terbaik menuju akhirat bukanlah harta ataupun kedudukan, melainkan keimanan, amal ibadah yang ikhlas, akhlak yang baik, serta kesungguhan dalam bertaubat kepada Allah SWT. Mari jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum datang hari ketika seluruh amal dipertanggungjawabkan,” tambahnya.

Materi yang disampaikan mendapat sambutan positif dari para jamaah. Salah seorang peserta, Mariatun, mengaku memperoleh banyak pelajaran berharga melalui kajian tersebut.

“Alhamdulillah, kami banyak mendapatkan ilmu. Materi ini menjadi pengingat bagi kami agar lebih mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat, memperbaiki ibadah, dan menjaga hubungan baik dengan sesama,” ungkapnya.

Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syaiful Akhyar memohon agar seluruh jamaah senantiasa diberikan keistiqamahan dalam menjalankan ajaran Islam serta memperoleh keselamatan dan rahmat Allah SWT di dunia maupun di akhirat.

Melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan yang dilaksanakan secara rutin, PAI KUA Kecamatan Medan Denai berharap masyarakat semakin memahami ajaran Islam secara utuh, meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat akhlak, serta menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Pembinaan ini merupakan bagian dari komitmen Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai dalam mewujudkan masyarakat yang religius, moderat, harmonis, dan berakhlak mulia melalui penguatan literasi keagamaan yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *