Medan (Humas) — Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas terus memperkuat pembinaan akidah masyarakat melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Upaya tersebut sejalan dengan arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh Penyuluh Agama Islam, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) agar senantiasa menghadirkan pelayanan yang prima, edukatif, profesional, dan memberikan dampak nyata di tengah masyarakat. Pembinaan akidah menjadi salah satu bagian penting dalam membangun masyarakat yang memiliki pemahaman tauhid yang kuat sekaligus mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Arahan tersebut diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) yang dilaksanakan pada Selasa (11/8/2026) di Majelis Taklim (MT) Al-Ikhwan, Kecamatan Medan Amplas. Dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., menyampaikan materi akidah dengan tema “Merusak Kemurnian Tauhid dari Syirik Khafi”. Materi tersebut mengajak jamaah untuk memahami bahwa menjaga kemurnian tauhid bukan hanya dengan menjauhi penyembahan kepada selain Allah Ta’ālā, tetapi juga dengan mewaspadai berbagai bentuk syirik tersembunyi yang dapat muncul dalam niat, orientasi hati, dan perilaku sehari-hari.
Dalam pemaparannya, Dr. Syarto menjelaskan bahwa syirik khafi merupakan bentuk kesyirikan yang terkadang tidak disadari karena berkaitan dengan kondisi batin dan orientasi seseorang ketika melakukan suatu amal. Seseorang dapat melakukan perbuatan yang secara lahiriah terlihat baik, tetapi apabila niatnya bergeser untuk mendapatkan pujian, penghargaan, popularitas, atau pengakuan manusia, maka keikhlasan dalam amal tersebut perlu dievaluasi. Karena itu, jamaah diajak untuk senantiasa melakukan muhasabah terhadap niat, terutama ketika menjalankan ibadah maupun melakukan aktivitas sosial.
“Tauhid bukan sekadar pengakuan bahwa Allah Ta’ālā adalah Tuhan, tetapi juga bagaimana hati tidak menggantungkan tujuan ibadah dan pengabdian kepada selain-Nya. Setiap amal perlu terus kita evaluasi, apakah benar-benar ditujukan untuk mencari rida Allah atau justru ada keinginan mendapatkan penilaian dari manusia,” jelas Dr. Syarto.
Ia menjelaskan bahwa salah satu bentuk yang perlu diwaspadai dalam pembahasan syirik khafi adalah riya, yaitu melakukan amal dengan tujuan mendapatkan perhatian atau pujian manusia. Riya dapat mengubah orientasi amal yang seharusnya ditujukan untuk memperoleh rida Allah Ta’ālā menjadi amal yang lebih berorientasi pada penilaian manusia. Oleh karena itu, menjaga hati dan meluruskan niat merupakan bagian penting dalam upaya mempertahankan kemurnian tauhid.
Menurut Dr. Syarto, menjaga tauhid merupakan proses yang membutuhkan perhatian secara terus-menerus. Seorang Muslim perlu membangun kebiasaan untuk memeriksa niat sebelum melakukan amal, menjaga keikhlasan ketika menjalankannya, serta melakukan evaluasi setelah amal tersebut selesai. “Muhasabah niat harus menjadi kebiasaan, karena hati manusia dapat berubah. Jangan sampai amal yang awalnya dilakukan karena Allah kemudian bergeser karena ingin dipuji, dihargai, atau diketahui oleh orang lain,” tambahnya.
Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., mengatakan bahwa penguatan akidah perlu terus dilakukan karena persoalan tauhid tidak hanya berkaitan dengan pemahaman secara teori, tetapi juga menyangkut sikap dan orientasi hati dalam kehidupan sehari-hari. “Pembinaan akidah harus mampu menyentuh kehidupan masyarakat secara nyata. Kami mendorong para penyuluh agar tidak hanya menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga mengajak jamaah melakukan introspeksi sehingga nilai-nilai tauhid benar-benar tercermin dalam niat, sikap, dan perilaku,” ujarnya.
Kegiatan Bimluh di MT Al-Ikhwan dihadiri pengurus dan puluhan anggota majelis taklim yang mengikuti materi dengan penuh perhatian. Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada jamaah untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Sejumlah pertanyaan berkaitan dengan niat, riya, keikhlasan, serta bentuk-bentuk ketergantungan hati kepada selain Allah menjadi bahan diskusi yang memperkaya pemahaman peserta.
Sesi interaktif tersebut menunjukkan bahwa pembinaan keagamaan tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi diarahkan agar jamaah mampu menghubungkan prinsip-prinsip akidah dengan realitas kehidupan sehari-hari. Melalui dialog tersebut, penyuluh memberikan penjelasan secara lebih konkret mengenai pentingnya menjaga niat dan menghindari segala bentuk perilaku yang dapat mengurangi keikhlasan dalam beramal. Jamaah juga didorong untuk terus meningkatkan kesadaran diri agar setiap aktivitas yang dilakukan tetap berada dalam koridor tauhid.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama. Melalui pembinaan tersebut, KUA Kecamatan Medan Amplas terus mendorong penguatan akidah masyarakat dengan pendekatan yang edukatif, komunikatif, dan aplikatif. Dengan pemahaman yang semakin baik tentang bahaya syirik khafi, jamaah diharapkan mampu menjaga kemurnian tauhid, membangun keikhlasan, serta menjadikan Allah Ta’ālā sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap ibadah dan pengabdian.

