Medan (Humas) — Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas terus memperkuat pembinaan keagamaan masyarakat melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan yang menyentuh aspek akidah, ibadah, dan kehidupan sehari-hari. Upaya tersebut sejalan dengan arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh Penyuluh Agama Islam, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) untuk menghadirkan pelayanan keagamaan yang prima, edukatif, profesional, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Melalui pembinaan yang dilakukan secara rutin, KUA Medan Amplas berupaya membangun pemahaman keagamaan yang kuat sekaligus membentuk masyarakat yang optimistis dan kokoh dalam bertauhid.
Arahan tersebut diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) yang dilaksanakan pada Senin (10/8/2026) di Majelis Taklim Muslimin Kecamatan Medan Amplas. Kegiatan tersebut menghadirkan Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., yang menyampaikan materi akidah dengan tema “Merusak Kemurnian Tauhid: Sial atau Pesimistis”. Materi tersebut mengajak jamaah untuk mencermati berbagai bentuk keyakinan yang berpotensi mengganggu kemurnian tauhid, khususnya anggapan bahwa waktu, tempat, benda, keadaan, atau peristiwa tertentu dapat mendatangkan kesialan.
Dalam pemaparannya, Dr. Syarto menjelaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk meyakini bahwa segala manfaat dan mudarat berada dalam kekuasaan Allah Ta’ālā. Karena itu, seorang Muslim tidak semestinya menggantungkan nasibnya kepada pertanda tertentu yang tidak memiliki dasar syariat. Menurutnya, keyakinan terhadap kesialan atau tathayyur dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan mengambil keputusan, bahkan berpotensi menggeser ketergantungan hati dari Allah Ta’ālā kepada sesuatu yang pada hakikatnya tidak memiliki kekuatan untuk menentukan nasib manusia.
Sebagai penguatan materi, Dr. Syarto mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, “ليس منا من تطير أو تطير له”, yang menjadi peringatan terhadap praktik tathayyur, yaitu menganggap suatu pertanda sebagai sebab datangnya kesialan atau keburukan. Ia juga menyampaikan hadis, “لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر”, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Hadis tersebut, menurutnya, perlu dipahami secara proporsional dengan tetap membedakan antara keyakinan terhadap pertanda kesialan dan prinsip sebab-akibat yang diakui dalam kehidupan.
“Islam tidak mengajarkan sikap pasrah tanpa ikhtiar dan tidak pula mengajarkan manusia untuk mengingkari sebab-akibat. Menjaga kesehatan, menghindari bahaya, melakukan perencanaan, serta mengambil langkah preventif merupakan bagian dari ikhtiar yang dibenarkan. Yang harus dihindari adalah keyakinan bahwa suatu sebab memiliki kekuatan independen untuk mendatangkan manfaat atau mudarat tanpa kehendak Allah Ta’ālā,” jelas Dr. Syarto.
Ia menegaskan bahwa tauhid menuntut seorang Muslim untuk menempatkan setiap sebab pada kedudukannya secara benar. Sebab merupakan bagian dari ikhtiar, sedangkan hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak dan ketetapan Allah Ta’ālā. “Tauhid menuntut seorang Muslim untuk meyakini bahwa sebab hanyalah sebab. Yang menentukan hasil akhirnya tetap Allah Ta’ālā,” ungkapnya dalam kajian tersebut.
Materi pembinaan juga diarahkan untuk membangun mental umat agar tidak mudah terjebak dalam pesimisme. Keyakinan terhadap kesialan dapat membuat seseorang kehilangan keberanian, menunda pekerjaan, menghindari aktivitas yang sebenarnya baik, bahkan menghubungkan kegagalan dengan pertanda-pertanda yang tidak memiliki dasar. Sebaliknya, seorang Muslim didorong untuk membangun optimisme, melakukan ikhtiar secara maksimal, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ālā melalui tawakal.
Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., mengatakan bahwa pembinaan akidah memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang masyarakat ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan. “Kami ingin bimbingan keagamaan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun keteguhan tauhid dan sikap optimistis dalam menghadapi kehidupan. Masyarakat perlu dibekali pemahaman agar tidak mudah terpengaruh oleh mitos, pertanda kesialan, maupun ketakutan yang tidak memiliki dasar,” ujarnya.
Menurutnya, penyuluh agama memiliki peran strategis dalam memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat sekaligus menjawab persoalan keagamaan yang berkembang di tengah kehidupan sehari-hari. Karena itu, materi pembinaan perlu disampaikan secara edukatif, komunikatif, dan relevan dengan kondisi jamaah. “Seorang Muslim tidak boleh menjadikan mitos sebagai kompas kehidupan. Kompas kehidupan seorang mukmin adalah tauhid, ilmu, ikhtiar, doa, dan tawakal,” tambahnya.
Kegiatan tersebut dihadiri pengurus dan puluhan anggota Majelis Taklim Muslimin yang mengikuti pembahasan dengan antusias. Setelah penyampaian materi utama, jamaah diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menyampaikan sejumlah pertanyaan berkaitan dengan praktik tathayyur, pesimisme, serta batas antara keyakinan yang bertentangan dengan tauhid dan ikhtiar yang justru dianjurkan dalam Islam. Diskusi berlangsung secara interaktif sehingga jamaah memperoleh kesempatan untuk memperdalam pemahaman sekaligus mengaitkan materi dengan berbagai fenomena yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelum kegiatan berakhir, Dr. Syarto mengajak jamaah menjadikan tauhid sebagai fondasi utama dalam menjalani kehidupan. Berbagai tantangan dan persoalan hendaknya tidak disikapi dengan mitos, prasangka, atau ketakutan yang tidak berdasar, tetapi dengan ilmu, doa, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah Ta’ālā. Dengan cara pandang tersebut, seorang Muslim diharapkan mampu menghadapi kehidupan dengan lebih tenang, berani, dan optimistis tanpa mengurangi ketundukan kepada ketetapan Allah Ta’ālā.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama sebagai bagian dari rangkaian pembinaan keagamaan KUA Kecamatan Medan Amplas. Melalui kegiatan tersebut, KUA Medan Amplas terus berupaya memperkuat pemahaman akidah masyarakat sekaligus mendorong terbentuknya pribadi yang tidak mudah terjebak dalam keyakinan terhadap kesialan dan pesimisme. Pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan dapat melahirkan masyarakat yang semakin kokoh dalam bertauhid, berpikir jernih, serta menjalani kehidupan dengan optimisme yang dibangun di atas ilmu, ikhtiar, doa, dan tawakal.

