Dalami Dogma Maria Diangkat ke Surga, Penyuluh Agama Katolik Kemenag Medan Perkuat Pengharapan Iman Umat

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan, Roni Antonius Sitanggang, menyampaikan Katekese Lima Menit tentang Dogma Maria Diangkat ke Surga kepada umat Katolik sebelum Perayaan Ekaristi, Minggu (16/8/2026) pukul 09.45 WIB. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gereja Katolik Stasi St. Fransiskus Xaverius Sunggal, Jalan Abadi No. 54, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal. Katekese ini menjadi bagian dari tugas penyuluh dalam memberikan pembinaan dan pendampingan iman kepada umat melalui materi yang singkat, mudah dipahami, serta relevan dengan kehidupan iman sehari-hari.

Katekese Lima Menit merupakan salah satu bentuk pembinaan iman yang dapat menjadi sarana bagi umat untuk semakin mengenal dan memahami ajaran Gereja Katolik. Meskipun disampaikan dalam waktu yang relatif singkat, materi katekese diarahkan agar umat tidak hanya mengetahui ajaran Gereja secara pengetahuan, tetapi juga mampu menghayati dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan tersebut, umat diajak untuk memperdalam iman, memperkuat kehidupan rohani, serta melihat keterkaitan antara ajaran Gereja dengan panggilan hidup sebagai umat beriman.

Dalam penyampaiannya, Roni menjelaskan bahwa Dogma Maria Diangkat ke Surga merupakan salah satu ajaran resmi Gereja Katolik yang secara meriah didefinisikan oleh Paus Pius XII pada 1 November 1950 melalui Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus. Dogma tersebut mengajarkan bahwa Santa Perawan Maria, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat ke dalam kemuliaan surgawi dengan jiwa dan raganya. Pengangkatan Maria ke dalam kemuliaan surgawi dipahami sebagai rahmat dan keistimewaan yang diberikan Allah kepadanya karena peran unik Maria dalam sejarah keselamatan sebagai Bunda Yesus Kristus.

Roni menegaskan bahwa Dogma Maria Diangkat ke Surga memiliki makna yang erat dengan pengharapan umat Kristiani terhadap kehidupan kekal. Menurutnya, Maria menjadi tanda bahwa karya keselamatan Allah membawa manusia menuju kepenuhan hidup bersama-Nya. “Dogma Maria Diangkat ke Surga menunjukkan bahwa Maria memperoleh bagian istimewa dalam kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Bagi kita, hal ini menjadi tanda pengharapan bahwa kehidupan manusia tidak berakhir pada kematian, tetapi diarahkan kepada kebangkitan dan kehidupan kekal bersama Allah,” ujar Roni.

Lebih lanjut, Roni menjelaskan bahwa pengangkatan Maria ke surga tidak berarti Maria menggantikan atau menyamai kedudukan Yesus Kristus. Kristus tetap menjadi satu-satunya Penebus dan sumber keselamatan, sementara Maria menerima rahmat keselamatan tersebut dari Kristus secara istimewa. Karena itu, penghormatan Gereja kepada Maria harus selalu ditempatkan dalam hubungan yang benar dengan iman kepada Kristus dan tidak dapat dipisahkan dari karya keselamatan yang dikerjakan oleh-Nya.

“Maria tidak ditempatkan untuk menggantikan Kristus, tetapi justru seluruh hidup Maria menunjukkan kepada kita bagaimana seseorang menerima dan mengikuti kehendak Allah. Maria adalah teladan iman, ketaatan, kerendahan hati, dan kesetiaan. Ketika kita menghormati Maria, kita juga diarahkan untuk semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti Yesus Kristus,” jelasnya.

Dalam katekese tersebut, umat juga diajak untuk melihat kehidupan Maria sebagai teladan konkret dalam menjalani panggilan iman. Kesediaan Maria menerima kehendak Allah, kesetiaannya mendampingi perjalanan hidup Yesus, serta keteguhannya dalam menghadapi berbagai penderitaan menjadi inspirasi bagi umat dalam menghadapi tantangan kehidupan. Maria menunjukkan bahwa iman tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata, tetapi melalui kesetiaan dan keberanian untuk menjalankan kehendak Allah dalam berbagai keadaan.

Roni juga mengajak umat untuk tidak berhenti pada pemahaman mengenai dogma secara teoritis, tetapi menjadikannya sebagai sumber refleksi dan motivasi dalam kehidupan sehari-hari. “Kita dapat belajar dari Maria untuk tetap setia ketika menghadapi kesulitan, tetap percaya ketika belum memahami seluruh rencana Allah, dan tetap berbuat baik ketika menghadapi berbagai tantangan. Iman kepada Allah harus terlihat dalam cara kita memperlakukan keluarga, sesama, dan lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Melalui Katekese Lima Menit tersebut, umat diajak memahami bahwa penghormatan kepada Maria pada akhirnya selalu mengarahkan umat kepada Yesus Kristus. Penghayatan terhadap Dogma Maria Diangkat ke Surga hendaknya diwujudkan melalui kehidupan doa, kesetiaan terhadap iman Katolik, kasih kepada sesama, kerendahan hati, serta usaha untuk hidup dalam kekudusan. Dengan demikian, umat tidak hanya mengenal Maria sebagai Bunda Tuhan dan teladan iman, tetapi juga semakin terdorong untuk mengikuti Kristus dan menaruh pengharapan pada janji kehidupan kekal yang diberikan Allah.

Kegiatan Katekese Lima Menit berlangsung dengan penuh perhatian dari umat yang hadir sebelum Perayaan Ekaristi dimulai. Melalui pembinaan yang dilakukan secara rutin dan kontekstual, Penyuluh Agama Katolik Kemenag Kota Medan diharapkan terus hadir di tengah umat untuk memberikan penguatan iman serta membantu umat memahami ajaran Gereja secara lebih mendalam. Kehadiran penyuluh dalam kegiatan seperti ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh kebutuhan umat dan mendorong pertumbuhan iman dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *