KUA Medan Amplas Perkuat Pembinaan Akhlak melalui Bimluh di Majelis Taklim Raudhatul Jannah

Medan (Humas) — Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., terus mengarahkan seluruh Penyuluh Agama Islam, Penghulu dan Penata Layanan Operasional (PLO) untuk menghadirkan pelayanan serta bimbingan keagamaan yang prima, relevan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Arahan tersebut diwujudkan melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan (Bimluh) yang dilaksanakan secara langsung di tengah masyarakat, salah satunya di Majelis Taklim (MT) Raudhatul Jannah, Gang Supir, Jalan Pembangunan, Kelurahan Sitirejo II, Kecamatan Medan Amplas, Senin (24/8/2026).

Kegiatan Bimluh tersebut mengangkat tema “Adab: Jembatan antara Ilmu dan Amal”. Tema ini mengajak jemaah memahami bahwa keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga sejauh mana ilmu tersebut mampu diwujudkan dalam sikap, etika dan perilaku sehari-hari. Dengan demikian, ilmu agama diharapkan tidak berhenti pada pemahaman secara teori, melainkan menjadi pedoman yang membentuk karakter dan mendorong seseorang melakukan kebaikan.

Dalam pemaparannya, Penyuluh Agama Islam Dr. Syarto, Lc., M.A., menjelaskan pengertian adab sekaligus membedakannya dengan akhlak. Menurutnya, adab berkaitan erat dengan tata sikap, etika dan kepantasan seseorang dalam menempatkan dirinya ketika berinteraksi dengan Allah SWT, manusia, ilmu maupun lingkungan. Sementara akhlak memiliki cakupan yang lebih luas sebagai karakter dan perangai yang melekat dalam diri seseorang.

“Adab memiliki posisi penting dalam proses pendidikan dan kehidupan sosial. Seseorang yang memiliki ilmu, tetapi tidak dibarengi dengan adab, berpotensi kehilangan arah ketika ilmu tersebut diterapkan dalam kehidupan. Karena itu, ilmu harus berjalan bersama adab agar dapat memberikan manfaat dan kemaslahatan,” jelas Syarto.

Ia memberikan contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam aktivitas jual beli. Seseorang mungkin mengetahui bahwa pedagang wajib berlaku jujur dan tidak boleh mengurangi timbangan, tetapi pengetahuan tersebut belum cukup apabila tidak diwujudkan dalam perilaku. Menurutnya, orang yang beradab akan menjadikan pengetahuan tentang kejujuran sebagai prinsip yang benar-benar diterapkan ketika menjalankan aktivitas perdagangan.

“Orang mungkin mengetahui bahwa dalam jual beli seorang pedagang wajib jujur dan tidak boleh mengurangi timbangan. Tetapi orang yang beradab bukan hanya mengetahui ketentuan tersebut, melainkan menjadikannya sebagai perilaku nyata. Karena itu, adab menjadi jembatan antara ilmu dan amal,” jelasnya.

Bimbingan tersebut juga menekankan pentingnya akhlak dalam kehidupan. Pengetahuan agama idealnya tidak berhenti pada kemampuan memahami dalil atau menghafal berbagai ketentuan, tetapi harus mampu membentuk karakter serta memberikan perubahan positif terhadap perilaku seseorang. Ilmu yang diamalkan dengan baik akan memberikan manfaat bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga keluarga dan lingkungan masyarakat.

Dalam konteks menuntut ilmu, Syarto mengutip sejumlah adab yang disebutkan dalam kitab Ta‘līm al-Muta‘allim. Di antaranya, seorang penuntut ilmu hendaknya tidak berjalan mendahului gurunya, tidak duduk di tempat duduk gurunya dan tidak berbicara di hadapan guru tanpa izin. Nilai-nilai tersebut menurutnya bukan sekadar aturan formal dalam hubungan antara murid dan guru, tetapi merupakan bagian dari pendidikan karakter yang menanamkan penghormatan, kerendahan hati, kedisiplinan dan kesadaran terhadap kedudukan ilmu.

“Semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin baik adabnya. Ilmu yang benar akan melahirkan ketundukan kepada kebenaran, bukan kesombongan. Karena itu, orang yang terus belajar harus semakin mampu menjaga sikap, menghormati orang lain dan mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya,” tegas Syarto.

Kegiatan Bimluh di MT Raudhatul Jannah tersebut dihadiri pengurus majelis taklim dan puluhan anggota yang tergabung dalam kegiatan pengajian. Materi disampaikan secara interaktif dengan mengaitkan konsep adab dengan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari, sehingga jemaah tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga diajak melihat penerapannya dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat serta dalam proses menuntut ilmu.

Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan diikuti jemaah dengan antusias. Diskusi yang berkembang menunjukkan bahwa persoalan adab memiliki keterkaitan erat dengan berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan antara anak dan orang tua, murid dan guru, sesama anggota masyarakat hingga hubungan manusia dengan lingkungan. Kegiatan kemudian ditutup dengan salat Ashar berjamaah.

Kepala KUA Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, menyampaikan bahwa kegiatan Bimluh merupakan salah satu bentuk nyata kehadiran KUA dalam memberikan pembinaan keagamaan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Menurutnya, Penyuluh Agama memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga mendorong perubahan sikap dan perilaku.

“Bimbingan keagamaan harus mampu menyentuh kehidupan nyata masyarakat. Kita ingin ilmu agama yang disampaikan para penyuluh tidak hanya dipahami, tetapi juga diamalkan sehingga melahirkan akhlak yang baik, memperkuat hubungan sosial dan memberikan kemaslahatan bagi lingkungan,” ujar H. Muhammad Lukman Hakim.

Ia menambahkan, KUA Kecamatan Medan Amplas akan terus mendorong para Penyuluh Agama Islam, Penghulu dan PLO untuk aktif membangun komunikasi dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan pembinaan. Kehadiran petugas KUA di tengah masyarakat diharapkan dapat memperkuat pelayanan publik di bidang keagamaan sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang religius, berkarakter dan memiliki kepedulian sosial.

Melalui kegiatan Bimluh yang dilaksanakan secara berkelanjutan, KUA Kecamatan Medan Amplas terus memperkuat peran Penyuluh Agama sebagai bagian dari pelayanan publik keagamaan. Pembinaan tidak hanya diarahkan pada peningkatan pengetahuan agama, tetapi juga pada pembentukan karakter, etika dan perilaku, sehingga ilmu yang diperoleh benar-benar dapat berbuah menjadi amal dan kemaslahatan bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *