KUA Medan Amplas Hadirkan Bimbingan Rohani bagi Pasien di Rumah Sakit Mitra Sejati

Medan (Humas) — Kehadiran pelayanan keagamaan di tengah masyarakat terus diperkuat Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas. Melalui kegiatan Bimbingan Rohani (Bimroh), KUA Medan Amplas berupaya menghadirkan pendampingan spiritual bagi masyarakat yang sedang menjalani perawatan dan menghadapi ujian kesehatan. Pelayanan tersebut menjadi bagian dari upaya KUA untuk memastikan bimbingan keagamaan dapat dirasakan masyarakat dalam berbagai kondisi, termasuk ketika berada di rumah sakit.

Kegiatan Bimroh merupakan tindak lanjut dari arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh Penyuluh Agama Islam, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) agar terus memberikan pelayanan yang prima, humanis, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, pelayanan KUA tidak hanya dilaksanakan di lingkungan kantor atau tempat ibadah, tetapi juga perlu menjangkau masyarakat yang membutuhkan pendampingan secara langsung.

“Kita ingin pelayanan KUA benar-benar hadir dan dirasakan masyarakat, termasuk bagi saudara-saudara kita yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Dalam kondisi sakit, seseorang tidak hanya membutuhkan pengobatan secara medis, tetapi juga membutuhkan ketenangan, dukungan keluarga, doa, dan penguatan spiritual. Karena itu, Penyuluh Agama Islam harus mampu hadir dengan pendekatan yang humanis dan memberikan manfaat sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Lukman.

Pada Senin (7/9/2026), Penyuluh Agama Islam KUA Medan Amplas, Syarto dan Nurbaiti Lubis, melaksanakan Bimroh di Rumah Sakit Mitra Sejati. Kegiatan menyasar pasien yang menjalani perawatan di ruang Intensive Care Unit (ICU) lantai 2 dan lantai 3 serta sejumlah ruang perawatan, yakni kamar 405, 414, 415, dan 417. Kunjungan dilakukan dengan mendatangi pasien secara langsung sehingga bimbingan dapat diberikan secara lebih personal dengan tetap memperhatikan kondisi kesehatan dan kenyamanan pasien.

Dalam kunjungan tersebut, para penyuluh tidak hanya menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada pasien, tetapi juga membangun komunikasi dengan keluarga yang mendampingi. Keluarga pasien diberikan penguatan agar dapat menjadi sumber semangat selama proses perawatan berlangsung. Perhatian, kata-kata yang menenangkan, doa, dan sikap optimis dinilai memiliki arti penting dalam membantu pasien melewati masa sulit.

Syarto mengatakan, keluarga memiliki peran besar dalam memberikan kekuatan kepada pasien. Karena itu, keluarga diharapkan dapat memanfaatkan waktu kunjungan untuk memberikan semangat dan menghindari perkataan yang dapat menambah beban pikiran pasien. “Kami mengajak keluarga untuk terus memberikan dukungan kepada pasien, baik melalui perhatian, doa maupun kata-kata yang menenangkan. Pasien perlu merasakan bahwa dirinya tidak sendiri dalam menghadapi sakit, karena ada keluarga yang mendampingi dan ada Allah Ta’ala yang menjadi tempat berserah diri,” ungkapnya.

Kepada pasien, para penyuluh mengingatkan pentingnya menjaga kesabaran dalam menghadapi ujian sakit. Kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan untuk tetap tenang, menerima kondisi dengan lapang, dan terus menjalani ikhtiar untuk memperoleh kesembuhan. Pasien juga diajak untuk tetap memiliki harapan serta tidak membiarkan kondisi kesehatan yang sedang dialami membuat semangat hidup dan semangat beribadah menjadi lemah.

Selain sabar, pasien juga diingatkan untuk senantiasa bertawakal kepada Allah Ta’ala setelah melakukan berbagai ikhtiar. Tawakal dipahami sebagai sikap menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah seseorang berusaha dengan sungguh-sungguh dan mengikuti proses pengobatan yang dianjurkan. Sikap tersebut diharapkan dapat memberikan ketenangan batin sehingga pasien mampu menghadapi proses perawatan dengan lebih kuat dan optimis.

Para penyuluh juga mengajak pasien untuk senantiasa menjaga husnuzan atau berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Dalam kondisi sakit, seseorang terkadang dapat merasa cemas, takut, atau kehilangan semangat sehingga membutuhkan penguatan agar tetap memiliki keyakinan dan harapan. “Jangan sampai sakit membuat kita berputus asa. Tetaplah berbaik sangka kepada Allah, terus berdoa, mengikuti pengobatan, dan berusaha menjaga hati agar tetap tenang. Setiap ujian pasti memiliki hikmah dan hendaknya kita hadapi dengan sabar serta penuh pengharapan,” pesan Nurbaiti.

Aspek ibadah juga menjadi bagian penting dalam bimbingan yang diberikan. Para penyuluh mengingatkan pasien agar tetap berusaha melaksanakan salat sesuai dengan kemampuan dan kondisi kesehatannya. Islam memberikan berbagai kemudahan bagi orang yang sedang sakit, sehingga keterbatasan fisik tidak menjadi alasan untuk meninggalkan ibadah selama masih memungkinkan untuk dilaksanakan sesuai ketentuan syariat.

Bagi pasien yang berada dalam kondisi tertentu sehingga tidak diperbolehkan menggunakan air, para penyuluh turut memberikan pemahaman mengenai tayamum sebagai salah satu bentuk kemudahan dalam bersuci. Penjelasan tersebut diberikan agar pasien tetap dapat menjaga pelaksanaan ibadah tanpa mengabaikan kondisi kesehatan maupun anjuran tenaga medis. Dengan pendekatan tersebut, bimbingan rohani diharapkan tidak hanya memberikan ketenangan batin, tetapi juga membantu pasien memahami cara menjalankan kewajiban agama dalam kondisi sakit.

Kegiatan Bimroh berlangsung dalam suasana penuh empati dan kekeluargaan. Kehadiran Penyuluh Agama Islam di ruang perawatan menjadi bentuk kepedulian sekaligus upaya menghadirkan ketenangan spiritual bagi pasien dan keluarga yang sedang menghadapi ujian kesehatan. Pendampingan tersebut juga menunjukkan bahwa pelayanan keagamaan dapat berjalan berdampingan dengan pelayanan kesehatan dalam memberikan dukungan yang lebih utuh kepada masyarakat.

Di akhir kunjungan, seluruh rangkaian Bimroh ditutup dengan doa bersama. Para penyuluh memohon kepada Allah Ta’ala agar seluruh pasien diberikan kesembuhan yang sempurna, diangkat penyakitnya, diberikan kekuatan dan kesabaran, serta dimudahkan dalam menjalani setiap proses pengobatan. Doa juga dipanjatkan bagi keluarga pasien agar diberikan ketabahan, keikhlasan, dan kekuatan dalam mendampingi anggota keluarga hingga memperoleh kondisi kesehatan yang lebih baik.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu wujud nyata komitmen KUA Kecamatan Medan Amplas dalam menerjemahkan arahan pimpinan ke dalam pelayanan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Bimroh tidak hanya menjadi ruang penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana membangun harapan, menguatkan mental, menjaga semangat ibadah, serta memberikan dukungan kepada masyarakat ketika menghadapi ujian kesehatan.

Melalui pelayanan yang dilakukan secara berkelanjutan, KUA Kecamatan Medan Amplas berupaya memastikan kehadiran Penyuluh Agama Islam dapat dirasakan manfaatnya di berbagai lingkungan masyarakat, termasuk rumah sakit. Semangat tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pelayanan keagamaan yang prima, humanis, dan berdampak, sekaligus memperkuat peran KUA sebagai institusi yang hadir di tengah masyarakat dalam berbagai situasi kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *