Medan (Humas) – Pembinaan mental dan spiritual bagi warga binaan pemasyarakatan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mereka kembali ke tengah masyarakat.
Lembaga pemasyarakatan tidak hanya menjadi tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang untuk melakukan introspeksi, evaluasi diri, serta memperkuat keimanan. Hal tersebut diwujudkan melalui kegiatan bimbingan dan pembinaan keagamaan yang dilaksanakan Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., di Masjid Al Hadi Lapas Pemuda Kelas III Langkat, Desa Cempa, Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Rabu (9/9/2026). Kegiatan tersebut dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Acara diawali dengan pembukaan oleh protokol, kemudian dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an beserta saritilawah yang dibawakan oleh warga binaan Lapas Pemuda Kelas III Langkat. Ketua panitia, Algenis alias Denis, dalam sambutannya mengatakan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi momentum untuk mengamalkan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. “Peringatan Maulid Nabi ini bukan hanya sekadar seremonial, tetapi menjadi momen untuk meneladani sifat Rasulullah SAW, terutama dalam kepedulian kepada sesama, toleransi, dan solidaritas,” ujarnya.
Kepala Lapas Pemuda Kelas III Langkat, Kenal Purba, menyampaikan bahwa keberadaan warga binaan di dalam lapas bukanlah akhir dari perjalanan kehidupan. Menurutnya, masa menjalani pembinaan harus dimanfaatkan untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri. “Keberadaan kalian di lapas bukan akhir dari segala-galanya. Jadikan tempat ini sebagai ruang untuk introspeksi dan evaluasi diri, mencari petunjuk serta hidayah dari Tuhan Yang Maha Esa,” ungkap Kenal Purba. Pada kesempatan tersebut juga diumumkan sejumlah perlombaan bagi warga binaan, yakni lomba azan, hifzil Al-Qur’an, dan fahmil Al-Qur’an sebagai bagian dari rangkaian pembinaan keagamaan.
Dalam ceramah singkatnya, Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., menekankan bahwa esensi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah meneladani akhlak Rasulullah SAW. Menurutnya, ibadah yang dilakukan seseorang harus tercermin dalam perilaku dan akhlaknya kepada sesama. “Inti dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah menyempurnakan akhlak. Rajin beribadah, salat, puasa, bersedekah, bahkan setiap tahun berangkat haji dan umrah, tetapi jika masih jahat dan kasar kepada orang lain, maka ibadah tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam akhlak,” tutur Paidi.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tausiyah agama yang disampaikan Dr. H. Adisucipto, S.Ag., M.A. Ia mengajak warga binaan untuk menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. “Ada tiga hal yang harus kita kerjakan di rutan, pertama berdoa, kedua memperbanyak tasbih, istighfar dan zikir, dan yang terakhir senantiasa mendirikan salat,” ujar Adisucipto. Pesan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal spiritual bagi warga binaan dalam menjalani proses pembinaan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kembali ke masyarakat.
Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan penyuluh agama Islam KUA Medan Sunggal tersebut. Menurutnya, keterlibatan penyuluh dalam pembinaan keagamaan di Lapas Pemuda Kelas III Langkat menunjukkan adanya sinergi lintas sektoral yang semakin luas. “Kami sangat mengapresiasi penyuluh agama Islam KUA Medan Sunggal yang dapat memberikan bimbingan keagamaan lintas sektoral, bahkan sampai di luar Kota Medan. Ini merupakan prestasi yang luar biasa dan kami selalu memberikan dukungan kepada para penyuluh agama Islam,” ungkap Agus Salim.
Kegiatan pembinaan keagamaan dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Lapas Pemuda Kelas III Langkat menjadi wujud nyata sinergi antara KUA Medan Sunggal dan lembaga pemasyarakatan dalam membangun karakter warga binaan. Melalui penguatan akidah, ibadah, dan akhlak, warga binaan diharapkan mampu menjadikan masa pembinaan sebagai momentum perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Keteladanan Rasulullah SAW dalam kepedulian, toleransi, solidaritas, dan akhlak mulia diharapkan dapat menjadi bekal bagi mereka untuk kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi sesama.(Paidi).

