Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan mengajak masyarakat menjadikan peristiwa kematian sebagai momentum untuk melakukan introspeksi dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan, Amri Sembiring, SHI, saat memberikan tausiyah pada malam ketiga wafatnya Tri Suci Ramadhani binti Samsul Bahri di kediaman duka, Jalan Mandala By Pass, Tangguk Bongkar 11, Kecamatan Medan Area, Kamis (17/9/2026). Dalam kegiatan yang berlangsung mulai pukul 20.30 WIB tersebut, keluarga bersama masyarakat dan jamaah melaksanakan doa serta pengajian untuk mengenang almarhumah yang wafat pada usia 40 tahun. Mengangkat tema “Tadabbur Hidup Menuju Kematian”, Amri mengajak jamaah merenungkan bahwa kehidupan dunia merupakan perjalanan sementara menuju kehidupan yang kekal di akhirat.
Amri menyampaikan bahwa setiap peristiwa kehidupan, termasuk wafatnya seseorang, dapat menjadi bahan renungan bagi manusia yang masih diberikan kesempatan untuk menjalani kehidupan. Menurutnya, kematian merupakan kepastian yang akan dialami setiap manusia dan tidak mengenal usia maupun kesiapan seseorang. Selain itu, manusia perlu menggunakan waktu yang dimiliki untuk memperbanyak amal saleh, menjaga ibadah, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperbanyak istighfar dan amal kebajikan. “Kita semua sedang berjalan menuju satu pintu yang pasti, yaitu kematian, yang membedakan kita bukan apakah kita akan mati, tetapi bekal apa yang kita bawa ketika menghadap Allah SWT,” ujar Amri.
Lebih lanjut, Amri mengingatkan jamaah agar kepergian seseorang tidak hanya dipandang sebagai sebuah kesedihan, tetapi juga menjadi pengingat bagi mereka yang masih hidup. Wafatnya almarhumah menjadi duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, termasuk suami dan seorang putrinya yang masih berusia 14 tahun. Sementara itu, jamaah diajak untuk memberikan doa, perhatian, dan dukungan kepada keluarga agar mampu melewati masa duka dengan ketabahan. “Hari ini kita mengantarkan saudara kita dalam perjalanan menuju alam berikutnya, esok atau lusa mungkin giliran kita yang akan diantar, maka jangan sampai ketika pintu kehidupan dunia tertutup, kita baru menyadari bahwa bekal menuju akhirat masih terlalu sedikit,” ungkapnya.
Senada dengan hal itu, Amri mengajak jamaah untuk menyadari bahwa setiap tarikan napas merupakan kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk memperbaiki diri. Waktu yang terus berjalan hendaknya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal yang memberikan manfaat bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Menurutnya, manusia tidak pernah mengetahui kapan kesempatan tersebut akan berakhir sehingga persiapan menghadapi kematian perlu dilakukan sejak masih diberikan kesehatan dan kesempatan. “Setiap tarikan napas adalah kesempatan untuk kembali kepada Allah, sementara setiap hari yang berlalu sesungguhnya semakin mendekatkan kita kepada batas akhir kehidupan,” katanya.
Selain itu, jamaah bersama keluarga turut memanjatkan doa agar Allah SWT mengampuni seluruh dosa dan kesalahan almarhumah, menerima amal ibadahnya, serta melapangkan dan menerangi alam kuburnya. Doa juga dipanjatkan agar almarhumah ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT dan memperoleh tempat di Jannatul Firdaus. Keluarga yang ditinggalkan, khususnya suami dan putri almarhumah, turut didoakan agar diberikan kesabaran, keteguhan hati, kesehatan, dan kekuatan dalam melanjutkan kehidupan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan keagamaan yang menghadirkan penguatan spiritual bagi keluarga dan masyarakat di tengah suasana duka.
Kegiatan malam ketiga wafatnya Tri Suci Ramadhani berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh haru dengan diisi doa serta tausiyah keagamaan. Kehadiran Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan di tengah masyarakat menjadi bagian dari upaya memberikan bimbingan keagamaan dan penguatan spiritual kepada keluarga yang sedang berduka. Momentum tersebut sekaligus mengajak masyarakat untuk terus mengingat Allah SWT dan menjadikan setiap peristiwa kehidupan sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri. Dengan memperbanyak amal, memperkuat ibadah, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memperbanyak taubat, umat diharapkan senantiasa memiliki bekal dalam menghadapi kehidupan akhirat.

