Penyuluh Kristen KUA Medan Sunggal Dorong Warga Kiki Alam Jaya Menjadi Teladan dalam Iman

Medan (Humas) – Suasana penuh hikmat menyelimuti Rumah Terapi Kiki Alam Jaya, Jalan Seroja Raya Sudut, Medan. Pada Senin, 21 September 2026, dilaksanakan kegiatan penyuluhan dan bimbingan masyarakat Kristen yang diikuti warga binaan serta pengelola rumah terapi. Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat spiritualitas sekaligus memberikan pembekalan moral berdasarkan nilai-nilai firman Tuhan, sehingga warga binaan yang sedang menjalani proses pemulihan memperoleh ketenangan batin, pengharapan, dan motivasi untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Penyuluh Agama Kristen KUA Medan Sunggal, Sindar Purba, S.Th., M.Pd., hadir sebagai pembicara pertama dengan materi “Jiwaku Menanti-Nantikan Tuhan”. Dalam penyampaiannya, Sindar mengajak para peserta untuk memiliki kesabaran dan penyerahan diri kepada Tuhan, khususnya ketika menghadapi masa-masa sulit dalam kehidupan. Menurutnya, penantian kepada Tuhan bukan berarti pasif, melainkan merupakan sikap iman yang disertai pengharapan, ketekunan, dan kemauan untuk terus berusaha memperbaiki diri.

Sindar memperkuat materi tersebut dengan mengutip Mazmur 130:5, “Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya.” Ia menekankan bahwa pengharapan kepada Tuhan dapat menjadi sumber kekuatan bagi seseorang dalam menghadapi proses pemulihan. Karena itu, warga binaan diajak untuk tidak menyerah terhadap keadaan, tetapi terus membangun kehidupan yang lebih baik dengan berpegang pada iman dan pengharapan kepada Tuhan.

Sementara itu, materi kedua disampaikan Drames Lubantobing, Penyuluh Agama Kristen KUA Medan Perjuangan, dengan tema “Keteladanan Merupakan Ciri Khas Kita”. Drames menjelaskan bahwa kehidupan orang percaya hendaknya tercermin melalui perkataan, perilaku, kasih, kesetiaan, dan kesucian hidup. Ia mengingatkan bahwa seseorang yang sedang menjalani proses pemulihan tetap memiliki kesempatan untuk berubah, bertumbuh, serta memberikan pengaruh positif bagi orang-orang di sekitarnya.
Materi tersebut didasarkan pada 1 Timotius 4:12b, “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” Drames mengajak warga binaan untuk menjadikan masa pemulihan sebagai momentum membangun karakter dan memperbaiki kehidupan. Keteladanan, menurutnya, dapat dimulai dari hal-hal sederhana seperti berkata jujur, menghargai sesama, menjaga kesetiaan, mengendalikan diri, dan menunjukkan kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala KUA Kecamatan Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., memberikan apresiasi dan semangat kepada para Penyuluh Agama Kristen agar terus memberikan pembinaan kepada umat, termasuk warga binaan yang sedang menjalani proses pemulihan dari ketergantungan NAPZA. Menurutnya, pembinaan keagamaan memiliki peran penting dalam memberikan motivasi, pengetahuan keagamaan, penguatan iman, serta semangat untuk menjalani proses pemulihan.
“Para penyuluh agama Kristen hendaknya terus membina umat, terutama warga korban NAPZA, agar mereka mendapatkan motivasi dan ilmu keagamaan untuk meningkatkan keimanan serta membangun semangat untuk sembuh dari ketergantungan narkoba,” ujar Agus Salim.

Agus Salim menambahkan, pembinaan keagamaan di rumah terapi merupakan bagian dari upaya menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Pendampingan tidak hanya diarahkan pada peningkatan pemahaman agama, tetapi juga diharapkan mampu mendorong warga binaan memiliki harapan, membangun karakter positif, dan mempersiapkan diri kembali berinteraksi secara sehat dengan keluarga serta masyarakat.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan konseling singkat. Melalui pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, warga binaan diharapkan tidak hanya menjalani proses pemulihan secara fisik dan sosial, tetapi juga mengalami penguatan rohani.

Iman, pengharapan, dan keteladanan menjadi bekal penting bagi warga binaan untuk membangun kembali kehidupan yang lebih baik. Dengan pendampingan penyuluh agama, mereka didorong untuk tidak terjebak pada masa lalu, melainkan memiliki keberanian untuk berubah, memulihkan diri, dan menjadi teladan serta pribadi yang bermanfaat bagi keluarga, gereja, dan masyarakat.(SP/PAI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *