Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kota Medan terus memperkuat peran dalam memberikan pembinaan keagamaan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan penyuluhan yang menyentuh langsung kebutuhan umat. Salah satunya melalui kegiatan penyuluhan keagamaan di Rumah Rehabilitasi Medan Plus, Jalan Pasar VII Jamin Ginting, Medan, yang ditujukan untuk memberikan penguatan spiritual, motivasi, serta pendampingan keagamaan kepada para peserta rehabilitasi. Rabu (23/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembinaan agama di tengah masyarakat, termasuk bagi mereka yang sedang menjalani proses pemulihan dan perubahan dalam kehidupan. Melalui pendekatan keagamaan yang persuasif dan penuh kekeluargaan, para peserta diajak untuk membangun kembali semangat, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, serta menumbuhkan keyakinan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Kota Medan H. Ahmad Kamil Harahap, MA menyampaikan bahwa penyuluhan agama memiliki peran penting dalam memberikan penguatan mental dan spiritual kepada masyarakat, termasuk mereka yang sedang menjalani proses rehabilitasi. Menurutnya, pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan diharapkan dapat membantu peserta memperoleh motivasi untuk meninggalkan kebiasaan yang kurang baik dan membangun pola kehidupan yang lebih positif.
“Penyuluhan agama tidak hanya memberikan pengetahuan keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari pendampingan kepada masyarakat agar memiliki kekuatan spiritual dalam menghadapi proses perubahan. Kita berharap para peserta rehabilitasi mendapatkan motivasi untuk terus memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan menata kembali kehidupan dengan nilai-nilai agama,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, penyuluhan disampaikan oleh tiga Penyuluh Agama Islam Kota Medan, yaitu Suriadi, S.Ag., Hermansyah, Lc., dan Muhammad Dahri, M.Ag. Ketiganya memberikan materi yang saling melengkapi, mulai dari penguatan hubungan dengan Allah SWT, pentingnya membangun kebiasaan positif, hingga menjaga kesehatan sebagai bagian dari mensyukuri nikmat kehidupan.
Suriadi, S.Ag., dalam tausiyahnya mengajak para peserta untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia menekankan bahwa proses mendekatkan diri kepada Allah tidak semestinya hanya dilakukan ketika seseorang sedang berada dalam kondisi sulit atau menjalani rehabilitasi, tetapi perlu menjadi kebiasaan yang terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari.
“Dekatkan terus diri kepada Allah, tidak hanya di tempat rehabilitasi. Jadikan kedekatan kepada Allah sebagai bagian dari kehidupan, karena ketika hati dekat dengan Allah, kita memiliki pegangan dalam menghadapi berbagai keadaan,” ujar Suriadi.
Sementara itu, Hermansyah, Lc., memberikan motivasi kepada para peserta agar perubahan dilakukan secara bertahap melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana. Menurutnya, proses memperbaiki diri membutuhkan kesungguhan dan konsistensi, sehingga peserta tidak perlu merasa terbebani untuk melakukan perubahan secara sekaligus.
“Lakukan hal-hal yang kecil untuk menghilangkan aktivitas yang buruk yang biasa dilakukan. Perubahan yang baik dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, kemudian dilakukan secara konsisten sampai menjadi bagian dari kehidupan,” ungkap Hermansyah.
Ia juga mengingatkan bahwa proses perubahan membutuhkan kesabaran dan kemauan untuk terus belajar dari pengalaman. Menurutnya, meninggalkan kebiasaan buruk bukan hanya persoalan menghentikan suatu aktivitas, tetapi juga membangun lingkungan, pola pikir, dan kebiasaan baru yang lebih sehat dan bermanfaat.
Selanjutnya, Muhammad Dahri, M.Ag., menyampaikan pentingnya menjaga kesehatan dalam menjalani kehidupan. Ia mengingatkan para peserta agar tidak mengabaikan kesehatan hanya karena mengejar harta dan pencapaian materi.
“Jangan mengorbankan rezeki kesehatan demi mengejar rezeki harta. Kesehatan merupakan nikmat yang sangat berharga dan harus dijaga agar kita dapat menjalani kehidupan, beribadah, bekerja, serta melakukan berbagai kebaikan,” tutur Muhammad Dahri.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan dalam kehidupan tidak semata-mata diukur dari kepemilikan materi. Kesehatan, ketenangan jiwa, hubungan yang baik dengan Allah SWT, serta kemampuan menjalani kehidupan dengan penuh kebaikan juga merupakan bagian penting yang perlu dijaga dan disyukuri.
Pimpinan terkait juga berharap kegiatan pembinaan seperti ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan pendekatan yang humanis dan tidak menghakimi. Menurutnya, peserta rehabilitasi membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar proses perubahan yang sedang dijalani dapat terus diperkuat, baik melalui pembinaan keagamaan, dukungan sosial, maupun lingkungan yang positif.
“Setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah dan memperbaiki kehidupannya. Karena itu, pembinaan keagamaan harus mampu memberikan harapan, bukan sekadar menyampaikan nasihat. Kehadiran para penyuluh diharapkan dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menguatkan mereka dalam menjalani proses tersebut,” tambahnya.
Kegiatan penyuluhan berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Para peserta mengikuti materi dan pesan-pesan keagamaan yang disampaikan dengan antusias, serta diajak untuk menjadikan proses rehabilitasi sebagai momentum untuk melakukan evaluasi diri dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan shalawat sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar seluruh peserta senantiasa diberikan kekuatan, keteguhan hati, kesehatan, dan kemudahan dalam menjalani proses perubahan. Melalui kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Islam Kota Medan diharapkan terus hadir memberikan pendampingan spiritual kepada masyarakat, termasuk mereka yang sedang berjuang membangun kembali kehidupan yang lebih sehat, positif, dan dekat dengan nilai-nilai agama.

