Medan (Humas) – Upaya Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas menghadirkan pelayanan dan bimbingan keagamaan yang prima serta berdampak di tengah masyarakat terus dilakukan melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan (Bimluh). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh Penyuluh, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) agar pembinaan keagamaan tidak hanya memberikan pemahaman, tetapi juga mendorong perubahan sikap dan perilaku masyarakat.
Arahan tersebut diwujudkan melalui kegiatan Bimluh yang dilaksanakan Dr. Syarto, Lc., M.A., di Majelis Taklim (MT) Asy-Sya’adah, Rabu (16/9/2026). Dalam kegiatan tersebut, Dr. Syarto menyampaikan materi aqidah dengan tema “Lima Langkah Menghilangkan Sifat Sombong”. Materi ini mengajak jamaah melakukan introspeksi terhadap penyakit hati yang dapat memengaruhi kualitas hubungan manusia dengan Allah Ta’ālā maupun dengan sesama. Kegiatan dihadiri pengurus MT Asy-Sya’adah, H. Waizul Qarni, M.A., bersama puluhan jamaah.
Dalam penyampaiannya, Dr. Syarto menjelaskan bahwa kesombongan dapat muncul ketika seseorang merasa memiliki kelebihan dibandingkan orang lain, baik dari sisi ilmu, harta, jabatan, keturunan maupun kedudukan sosial. Karena itu, diperlukan kesadaran untuk mengenali dan mengikis sifat tersebut secara bertahap. “Kesombongan perlu dilawan dengan kesadaran bahwa segala kelebihan yang kita miliki pada hakikatnya merupakan amanah dari Allah Ta’ālā. Manusia memiliki keterbatasan, sehingga tidak sepatutnya menjadikan kelebihan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain,” jelas Dr. Syarto.
Langkah pertama yang disampaikan adalah mengenali keagungan Allah Ta’ālā. Menurutnya, kesadaran bahwa Allah adalah Zat Yang Mahabesar dapat menjadi fondasi dalam membangun sikap rendah hati. Langkah kedua adalah membangun kesadaran tentang asal-usul penciptaan manusia. Manusia perlu menyadari bahwa dirinya diciptakan dari sesuatu yang sederhana dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah Ta’ālā. Kesadaran tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat agar seseorang tidak berlebihan dalam membanggakan harta, ilmu, kedudukan, maupun kelebihan yang dimilikinya.
Langkah ketiga adalah mengubah pola pikir mengenai ukuran kemuliaan manusia. Dr. Syarto menjelaskan bahwa kemuliaan tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan, jabatan, keturunan, popularitas, atau kedudukan sosial. Islam menempatkan ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan manusia sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13. “Jangan sampai kita mengukur kemuliaan seseorang hanya berdasarkan apa yang terlihat secara duniawi. Ketakwaan menjadi ukuran yang perlu kita jadikan pegangan dalam memandang diri sendiri maupun orang lain,” ujarnya.
Langkah keempat, lanjut Dr. Syarto, adalah mengikuti dan meneladani akhlak Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menjadi teladan dalam sikap rendah hati, santun, menghargai orang lain, serta tidak membanggakan diri. Keteladanan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Sementara langkah kelima adalah melatih diri untuk menerima kebenaran dan menghormati orang lain. Menurutnya, kesombongan sering kali membuat seseorang sulit menerima nasihat, mengakui kesalahan, atau menerima pendapat yang berbeda.
“Kalau kita ingin menghilangkan sifat sombong, kita harus belajar menerima kebenaran, mau menerima nasihat, menghargai orang lain, dan berani mengakui kekurangan diri,” katanya. Ia menambahkan bahwa sikap tersebut perlu dilatih secara terus-menerus karena kerendahan hati tidak hanya terlihat dari ucapan, tetapi juga dari cara seseorang bersikap ketika berinteraksi dengan keluarga, tetangga, maupun masyarakat.
Pembahasan tentang kesombongan dalam materi aqidah tersebut tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi diarahkan sebagai bahan evaluasi diri. Jamaah diajak melihat kembali sikap dan perilaku masing-masing dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagaimana memperlakukan orang lain ketika memiliki ilmu, harta, jabatan atau kelebihan tertentu. Dengan demikian, penguatan aqidah diharapkan dapat membentuk kesadaran bahwa setiap kelebihan merupakan amanah Allah Ta’ālā yang semestinya digunakan untuk memberikan manfaat.
Kegiatan Bimluh di MT Asy-Sya’adah juga menjadi ruang dialog keagamaan yang dekat dengan kehidupan jamaah. Antusiasme peserta terlihat selama pembinaan berlangsung, terutama ketika materi dikaitkan dengan persoalan yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Pembinaan tersebut diharapkan dapat membantu jamaah menerapkan nilai-nilai kerendahan hati dalam kehidupan keluarga, lingkungan sosial, dan masyarakat secara lebih luas.
Pelaksanaan Bimluh tersebut menjadi salah satu wujud nyata kehadiran KUA Kecamatan Medan Amplas dalam memberikan pembinaan keagamaan kepada masyarakat. Melalui materi aqidah yang menyentuh persoalan akhlak dan penyakit hati, KUA Medan Amplas terus mendorong agar pemahaman agama dapat diterjemahkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan salat Isya berjamaah sebagai bagian dari pembinaan yang memadukan penguatan ilmu, refleksi diri, dan pengamalan ibadah.

