Medan (Humas) – Bimbingan kerohanian (Bimroh) kembali dilaksanakan Penyuluh Agama KUA Kecamatan Medan Sunggal kepada warga binaan korban NAPZA di Rehabilitasi Kiki Alam Jaya, Jalan Seroja Raya, Kelurahan Tanjung Selamat, Kota
Medan, Senin (5/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan penguatan mental dan spiritual bagi warga binaan selama menjalani proses rehabilitasi.
Bimroh dilaksanakan secara terpisah sesuai agama dan keyakinan masing-masing warga binaan. Untuk warga binaan beragama Islam, pembinaan diberikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Drs. H. Fuji, M.A., sedangkan warga binaan beragama Kristen mendapatkan pendampingan dari Penyuluh Agama Kristen KUA Medan Sunggal, Sindar Purba, S.Th., M.Pd., bersama Penyuluh Agama Kristen KUA Medan Perjuangan, Drammas Lumbantobing.
Dalam penyuluhan kepada warga binaan Muslim, Fuji menyampaikan materi tentang pentingnya niat dalam setiap perbuatan. Ia menjelaskan bahwa niat yang tulus dan kuat merupakan penggerak utama yang menentukan nilai, arah, serta keberhasilan suatu amal. “Niat yang tulus dan kuat menjadi penggerak utama yang menentukan nilai dan arah setiap perbuatan. Karena itu, setiap perubahan hendaknya diawali dengan niat yang baik,” ujar Fuji.
Fuji menjelaskan bahwa hakikat niat memiliki beberapa aspek penting. Pertama, niat tempatnya berada di dalam hati sebagai bentuk kesadaran dan kehendak kuat ketika melakukan sesuatu. Kedua, niat menjadi penentu nilai amal dan ibadah, apakah dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT atau karena tujuan lainnya. Ketiga, niat menjadi pembeda antara aktivitas biasa dan aktivitas yang bernilai ibadah serta pahala. “Niat dapat mengubah aktivitas sehari-hari menjadi ibadah apabila dilakukan dengan tujuan yang baik dan karena Allah SWT,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fuji menyampaikan beberapa kekuatan niat yang dapat menjadi bekal bagi warga binaan dalam menjalani proses pemulihan. Menurutnya, niat dapat mengubah kebiasaan menjadi ibadah, menjadi sumber motivasi dan ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan, serta membuka pintu kemudahan dalam menjalani proses perubahan. Penguatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan tekad warga binaan untuk meninggalkan ketergantungan NAPZA dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Kepala KUA Kecamatan Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi kepada para penyuluh agama yang terus aktif memberikan bimbingan kerohanian kepada warga binaan korban NAPZA. “Saya kagum dan mengapresiasi para penyuluh agama KUA Medan Sunggal, baik penyuluh agama Islam maupun penyuluh agama Kristen, yang sampai hari ini tetap aktif memberikan bimbingan kerohanian dan pendampingan kepada warga binaan korban NAPZA,” ungkap Agus Salim. Ia menegaskan bahwa proses pemulihan tidak dapat dilakukan hanya melalui satu kali pertemuan, tetapi membutuhkan pendampingan secara berkelanjutan.
Melalui bimbingan kerohanian yang dilakukan secara rutin dan sesuai dengan agama serta keyakinan warga binaan, diharapkan tumbuh kesadaran spiritual, motivasi, dan kekuatan mental untuk menjalani proses rehabilitasi. Pendampingan penyuluh agama menjadi salah satu bentuk dukungan agar warga binaan mampu meninggalkan ketergantungan NAPZA, memperbaiki diri, dan kembali menjalani kehidupan yang sehat, produktif, serta diterima kembali di tengah keluarga dan masyarakat.(Paidi).

