Maulid Nabi di Masjid Salman, Penyuluh KUA Medan Amplas Ajak Jamaah Hidupkan Syiar dan Keteladanan Rasulullah

Medan (Humas) — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Salman, Jalan STM, Kecamatan Medan Amplas, menjadi momentum untuk memperkuat syiar Islam sekaligus menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk mengajak masyarakat memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai sarana memperluas edukasi dan penyebaran pesan-pesan keagamaan.

Pesan tersebut disampaikan Dr. Syarto, Lc., M.A., Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Amplas, saat menghadiri undangan Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Salman dalam acara puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu (3/10/2026). Kehadiran Dr. Syarto sekaligus mewakili Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A.

Dalam sambutannya, Syarto menyampaikan bahwa peringatan hari-hari besar Islam hendaknya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Lebih dari itu, setiap momentum keagamaan perlu dimanfaatkan sebagai sarana memperkuat identitas keislaman, memperluas edukasi keagamaan, serta mendorong umat untuk menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

“Peringatan Maulid Nabi hendaknya tidak hanya kita rayakan, tetapi juga kita jadikan momentum untuk kembali belajar dan menghayati keteladanan Rasulullah SAW. Nilai-nilai yang kita dengarkan dalam kegiatan seperti ini harus dapat kita bawa dan kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Syarto.

Ia juga mengajak jamaah untuk melihat perkembangan teknologi sebagai peluang dalam memperluas syiar Islam. Menurutnya, media digital dapat menjadi jembatan yang mempertemukan lembaga keagamaan dengan masyarakat secara lebih luas, terutama generasi muda yang sehari-hari sangat dekat dengan teknologi informasi.

Dalam kesempatan tersebut, Syarto memperkenalkan Podcast IKMA Channel atau Informasi Keagamaan Medan Amplas sebagai salah satu media edukasi keagamaan yang dikembangkan KUA Kecamatan Medan Amplas. Kehadiran kanal tersebut diharapkan dapat menjadi sarana penyampaian informasi sekaligus ruang dialog yang menghadirkan berbagai pembahasan yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

“Di tengah perkembangan teknologi, syiar Islam juga harus mampu memanfaatkan ruang digital. IKMA Channel kita dorong menjadi salah satu sarana edukasi dan komunikasi keagamaan, sehingga informasi dan pesan-pesan positif dapat menjangkau masyarakat lebih luas, termasuk generasi muda,” jelasnya.

Menurut Syarto, konten keagamaan yang disampaikan melalui media digital perlu dikemas secara komunikatif dan edukatif. Tema yang diangkat tidak hanya berkaitan dengan persoalan ibadah, tetapi juga dapat mencakup kehidupan keluarga, sosial kemasyarakatan, kepemudaan, pendidikan, serta berbagai persoalan yang dihadapi umat.

Ia juga mengajak jamaah untuk ikut mendukung penyebarluasan konten-konten positif melalui media digital. Dengan keterlibatan masyarakat, pesan-pesan keagamaan diharapkan tidak hanya berhenti pada satu ruang pertemuan, tetapi dapat diteruskan dan memberikan manfaat kepada lebih banyak orang.

Selain pemanfaatan teknologi, Syarto menekankan pentingnya umat Islam terus menghidupkan berbagai peringatan hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mikraj, dan Tahun Baru Hijriah atau Muharram. Menurutnya, berbagai momentum tersebut memiliki nilai strategis sebagai sarana pendidikan umat dan penguatan syiar Islam di tengah perubahan sosial dan budaya.

“Perayaan hari besar Islam jangan sampai kehilangan makna. Maulid, Isra Mikraj, dan Muharram harus kita jadikan momentum pendidikan umat dan penguatan syiar Islam, khususnya bagi generasi muda,” pesan Syarto.

Ia menjelaskan, semakin hidup kegiatan keagamaan di tengah masyarakat, semakin besar pula ruang yang tersedia bagi generasi muda untuk mengenal sejarah, nilai, dan tradisi keislaman. Karena itu, syiar Islam perlu terus dihadirkan dengan pendekatan yang kreatif, edukatif, dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Hal tersebut dinilai penting di tengah perubahan budaya yang berlangsung cepat, termasuk masuknya berbagai budaya populer dari luar tradisi Islam. Umat, khususnya generasi muda, perlu memiliki fondasi keagamaan yang kuat agar mampu menyaring berbagai pengaruh dan tetap menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Pesan utama lainnya yang disampaikan Syarto adalah pentingnya menjadikan kehidupan Rasulullah SAW sebagai sumber keteladanan. Ia secara khusus mengingatkan jamaah untuk menanamkan empat sifat wajib Rasulullah SAW, yakni shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah dalam kehidupan sehari-hari.

Shiddiq berarti benar atau jujur dan menjadi fondasi dalam membangun kehidupan pribadi maupun sosial yang sehat. Amanah mengajarkan pentingnya menjaga kepercayaan serta melaksanakan setiap tanggung jawab dengan sebaik-baiknya, sedangkan tabligh mengandung keteladanan untuk menyampaikan kebenaran dan kebaikan.

Sementara itu, fathanah menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai persoalan. Keempat sifat tersebut, menurut Syarto, tidak hanya relevan dalam konteks kehidupan Rasulullah SAW, tetapi juga sangat penting diterapkan oleh umat dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan bermasyarakat.

“Kejujuran dibutuhkan dalam keluarga dan pekerjaan, amanah diperlukan dalam menjalankan setiap tanggung jawab, tabligh mengajarkan kita untuk menyampaikan kebaikan, sedangkan fathanah membantu kita mengambil keputusan dengan cerdas dan bijaksana. Empat sifat ini sangat relevan untuk kita teladani dalam kehidupan sekarang,” ungkapnya.

Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya diwujudkan melalui ungkapan atau perayaan Maulid. Kecintaan tersebut perlu dibuktikan dengan kesediaan untuk mempelajari, menghayati, dan meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam tindakan nyata.

Puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Salman kemudian dilanjutkan dengan taushiyah yang disampaikan M. Jamil, M.Pd. Taushiyah menjadi bagian inti kegiatan dalam memperdalam pemahaman jamaah mengenai kehidupan, perjuangan, akhlak, serta keteladanan Rasulullah SAW.

Rangkaian kegiatan tidak berhenti pada penguatan spiritual melalui taushiyah. Setelah kegiatan tersebut, BKM Salman melanjutkan peringatan Maulid dengan memberikan santunan kepada puluhan anak yatim yang tinggal di sekitar Masjid Salman.

Santunan tersebut menjadi wujud kepedulian sosial sekaligus memperlihatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW perlu diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama. Perhatian kepada anak yatim menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana nilai kasih sayang, kepedulian, dan berbagi dapat dihidupkan melalui kegiatan keagamaan.

Rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Salman berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan. Momentum tersebut sekaligus memperlihatkan peran masjid yang tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dapat berkembang sebagai pusat pendidikan, pembinaan umat, penguatan syiar Islam, serta kepedulian sosial.

Bagi KUA Kecamatan Medan Amplas, keterlibatan Penyuluh Agama Islam dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan pelayanan dan bimbingan keagamaan yang prima serta berdampak. Kolaborasi bersama masjid, majelis taklim, dan berbagai elemen umat diharapkan terus diperkuat agar syiar dan pembinaan keagamaan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Melalui momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, masyarakat diharapkan tidak hanya semakin mengenal sosok dan perjuangan Rasulullah SAW, tetapi juga terdorong untuk menghadirkan nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan. Dengan demikian, semangat Maulid dapat terus hidup melalui akhlak, kejujuran, amanah, kepedulian, dan berbagai kebaikan yang dilakukan secara nyata di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *