Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal Bersinergi Dampingi Warga Binaan LRPPN

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., bersinergi dengan penyuluh agama Islam lintas kecamatan dalam memberikan pendampingan rohani kepada warga binaan korban penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) di Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penanggulangan Narkoba (LRPPN) Medan, Kamis (15/10/2026). Kegiatan berlangsung di LRPPN yang beralamat di Jalan Budi Luhur Gang PTP Nomor 8 C, Kelurahan Sei Sikambing C II, Kota Medan. Pendampingan ini bertujuan memberikan motivasi, menumbuhkan semangat pemulihan, serta menanamkan nilai-nilai keagamaan agar warga binaan semakin memperkuat iman dan bertekad melepaskan diri dari ketergantungan narkoba.

Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah penyuluh agama Islam lintas kecamatan, yakni Nurlely, M.Sos., Komala Dewi, M.E dan Heriansyah Harahap, S.Th.I., dari KUA Medan Petisah; Heri Pitrian, M.A., dari KUA Medan Selayang; serta Supriadi, S.Ag., dari KUA Medan Perjuangan. Bimbingan dan penyuluhan diberikan kepada warga binaan yang beragama Islam, sedangkan warga binaan yang menganut agama lain memperoleh pembinaan sesuai dengan keyakinan masing-masing. Sinergi lintas kecamatan ini menjadi wujud kepedulian penyuluh agama dalam menghadirkan pendampingan spiritual yang berkelanjutan bagi mereka yang sedang menjalani proses rehabilitasi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan salat Zuhur berjamaah yang diimami oleh Heri Fitrian. Setelah salat, kegiatan dilanjutkan dengan bimbingan kerohanian yang dipandu oleh Heri Fitrian selaku pembawa acara (MC). Tausiyah pertama disampaikan oleh Heriansyah Harahap yang mengajak warga binaan untuk senantiasa menanamkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari, baik bagi diri sendiri, keluarga, orang tua, masyarakat, maupun bangsa dan negara. Ia menegaskan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan merupakan investasi amal yang akan mendapatkan balasan dari Allah SWT.
“Dalam hidup, kita harus senantiasa berbuat baik kepada diri sendiri, keluarga, orang tua, dan orang lain. Jangan pernah melakukan kezaliman, kejahatan, atau tindakan kriminal terhadap sesama, karena setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Kebaikan akan membawa kebaikan, sedangkan kejahatan dapat mendatangkan keburukan bagi diri sendiri,” ujar Heriansyah Harahap. Pesan tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi warga binaan untuk memperbaiki perilaku, membangun hubungan sosial yang sehat, serta menata kembali kehidupan dengan berlandaskan nilai-nilai moral dan agama.

Tausiyah kedua disampaikan oleh Supriadi dari KUA Medan Perjuangan. Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan pentingnya mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Menurutnya, ketakwaan diwujudkan melalui kesungguhan menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. “Bekal terbaik untuk kembali kepada Allah SWT adalah takwa, yakni mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya,” tutur Supriadi. Ia berharap pesan tersebut dapat mendorong warga binaan untuk menjadikan masa rehabilitasi sebagai kesempatan memperbaiki diri dan memperkuat komitmen menjalani kehidupan yang lebih baik.

Selanjutnya, Paidi penyuluh agama Islam KUA Medan Sunggal, menyampaikan tausiyah mengenai pentingnya segera bertaubat dan tidak menunda-nunda perubahan ke arah yang lebih baik. Ia mengingatkan bahwa usia dan waktu kematian merupakan rahasia Allah SWT sehingga setiap orang perlu memanfaatkan kesempatan hidup untuk memperbaiki diri. “Taubat harus segera dilakukan, tidak boleh ditunda-tunda. Taubat nasuha dilakukan dengan menyesali dosa yang telah diperbuat, berjanji tidak mengulanginya, serta membuktikan kesungguhan perubahan melalui perbuatan baik dan ketaatan kepada Allah SWT,” jelas Paidi. Ia juga mengajak warga binaan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui salat, zikir, sedekah, dan memperbanyak ibadah lainnya.

Selain menekankan pentingnya taubat, Paidi turut mengingatkan warga binaan agar senantiasa menjaga kebersihan dan kesucian diri sebagai bagian dari kehidupan seorang muslim. Menurutnya, kebersihan badan, pakaian, dan tempat ibadah perlu diperhatikan agar pelaksanaan ibadah memenuhi ketentuan agama. Ia berharap pembinaan rohani tersebut tidak hanya meningkatkan pemahaman keagamaan, tetapi juga membentuk kebiasaan hidup bersih, disiplin, dan bertanggung jawab.

Sementara itu, Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas konsistensi para penyuluh agama Islam dalam mendampingi warga binaan LRPPN. “Mereka harus terus kita dampingi dan kita berikan semangat agar merasa memiliki sahabat. Dengan seringnya kita memberikan ilmu agama, kita berharap terbuka peluang bagi mereka untuk memperoleh hidayah dan kembali menjalani kehidupan yang lebih baik,” ungkap Agus Salim.

Melalui kegiatan ini, para penyuluh agama Islam lintas kecamatan berharap pendampingan rohani dapat menjadi salah satu sumber kekuatan bagi warga binaan dalam menjalani proses pemulihan dari ketergantungan narkoba. Sinergi tersebut menegaskan bahwa pembinaan keagamaan tidak hanya berfokus pada peningkatan iman dan ketakwaan, tetapi juga pada pembentukan karakter, perubahan perilaku, serta tumbuhnya harapan untuk menata masa depan. Dengan dukungan spiritual, kepedulian sosial, dan pendampingan yang berkelanjutan, warga binaan diharapkan semakin termotivasi menjalani rehabilitasi, meninggalkan penyalahgunaan narkoba, dan kembali berperan secara positif di tengah keluarga maupun masyarakat.(Paidi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *