Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal Ajak Pengajian Ash Sholihat Menjadi Pribadi yang Dirindukan Surga

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., memberikan bimbingan keagamaan kepada anggota pengajian ibu-ibu Ash Sholihat dengan tema “Orang-Orang yang Dirindukan Surga”. Kegiatan tersebut berlangsung di rumah Sekretaris Pengajian Ash Sholihat, Nurjanah, Jalan Sei Bilah Nomor 80, Kelurahan Lalang, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Jumat (16/10/2026). Pengajian ini dihadiri Ketua Pengajian Ash Sholihat, Ria Santika, tuan rumah, serta lebih dari 55 anggota pengajian yang mengikuti kegiatan dengan penuh khidmat.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Ketua Pengajian Ash Sholihat, Ria Santika, yang membacakan susunan acara. Selanjutnya, Sekretaris Pengajian Ash Sholihat sekaligus tuan rumah, Nurjanah, menyampaikan sambutan dan hajat keluarga dalam pelaksanaan pengajian tersebut. Ia berharap kegiatan ini menjadi sarana untuk memanjatkan doa keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat bagi keluarganya, sekaligus mendoakan almarhum dan almarhumah orang tua serta keluarga yang telah meninggal dunia. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin, tahtim singkat, dan ceramah agama yang disampaikan oleh Paidi.

Dalam tausiah keagamaannya, Paidi menjelaskan tentang empat golongan yang dirindukan surga sebagaimana hadis yang populer di kalangan umat Islam. Ia mengajak para jamaah untuk tidak hanya memahami ajaran agama secara teori, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Menjadi pribadi yang dirindukan surga bukan sekadar harapan, melainkan harus diwujudkan melalui amal saleh, menjaga akhlak, memperbanyak ibadah, dan memberikan manfaat bagi sesama,” ujar Paidi di hadapan para jamaah.

Paidi menjelaskan, golongan pertama adalah orang-orang yang gemar membaca Al-Qur’an, mempelajari, memahami, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, Al-Qur’an harus menjadi pedoman dalam bersikap, bertutur kata, dan mengambil keputusan. Golongan kedua ialah orang yang mampu menjaga lisannya atau hafizhul lisan, yakni mereka yang senantiasa menghindari gibah, dusta, caci maki, perkataan kotor, serta ucapan yang dapat menyakiti hati orang lain. “Lisan yang terjaga mencerminkan akhlak yang baik. Karena itu, marilah kita membiasakan perkataan yang baik dan menghindari ucapan yang dapat menimbulkan permusuhan,” pesannya.
Golongan ketiga adalah orang yang gemar memberi makan kepada mereka yang membutuhkan atau muth‘imul ji‘an. Paidi mengajak jamaah untuk membiasakan diri bersedekah, berbagi makanan, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, serta peduli terhadap sesama. Ia juga mengaitkan semangat berbagi tersebut dengan nilai kepedulian sosial yang sejalan dengan tujuan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah.

Sementara itu, golongan keempat adalah orang-orang yang menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, disertai kesungguhan dalam menahan diri dari perbuatan dosa. Paidi menegaskan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran, pengendalian diri, dan peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT. Setelah penyampaian ceramah agama, kegiatan dilanjutkan dengan salat Asar berjamaah di rumah tuan rumah.

Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan bimbingan keagamaan yang dilakukan oleh para penyuluh agama Islam, khususnya Paidi, dalam menyampaikan pesan-pesan Al-Qur’an dan hadis kepada masyarakat. “Kami sangat mengapresiasi dedikasi penyuluh agama Islam yang terus hadir di tengah masyarakat untuk memberikan dakwah dan pembinaan keagamaan. Semoga materi yang disampaikan dapat menambah pengetahuan, memperkuat keimanan, serta mendorong jamaah untuk mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Agus Salim.

Melalui kegiatan pengajian ini, diharapkan anggota Pengajian Ash Sholihat semakin termotivasi untuk menjadi pribadi yang mencintai Al-Qur’an, menjaga lisan, gemar berbagi, dan meningkatkan kualitas ibadah. Keempat amalan tersebut menjadi pengingat penting bagi setiap Muslim untuk senantiasa memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia. Dengan demikian, pengajian tidak hanya menjadi sarana mempererat silaturahmi, tetapi juga menjadi wadah pembinaan iman dan akhlak dalam mewujudkan kehidupan yang lebih religius, harmonis, dan penuh kepedulian sosial.(Paidi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *