Penyuluh Agama Katolik KUA Medan Sunggal Laksanakan Pendampingan Katekumen Secara Daring

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Katolik KUA Medan Sunggal, Roni Antonius Sitanggang melaksanakan kegiatan pendampingan katekumen secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting pada pukul 19.00 WIB, Selasa (27/10/2026). Kegiatan ini diikuti oleh Santi Manalu, seorang katekumen yang berasal dari Kabupaten Toba. Materi yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah Sakramen dalam Gereja Katolik, sebagai bagian dari pembinaan iman untuk membantu peserta mengenal dan memahami ajaran dasar Gereja Katolik serta mempersiapkan diri menjadi anggota Gereja.

Dalam pendampingan tersebut, peserta diajak memahami bahwa sakramen merupakan tanda rahmat Allah yang kelihatan, ditetapkan oleh Kristus, dan dipercayakan kepada Gereja. Melalui sakramen, umat beriman memperoleh rahmat Allah untuk menguatkan perjalanan iman dan menjalani kehidupan Kristiani. Oleh karena itu, sakramen tidak hanya dipahami sebagai upacara keagamaan, tetapi juga sebagai perjumpaan dengan Kristus yang menyertai umat dalam berbagai tahap kehidupan.

Materi pendampingan menjelaskan bahwa Gereja Katolik mengenal tujuh sakramen, yaitu Sakramen Baptis, Ekaristi, Krisma, Tobat, Pengurapan Orang Sakit, Perkawinan, dan Tahbisan. Ketujuh sakramen tersebut dikelompokkan ke dalam tiga bagian, yakni sakramen inisiasi, sakramen penyembuhan, serta sakramen pelayanan persekutuan dan perutusan. Pengelompokan ini membantu peserta memahami fungsi dan makna setiap sakramen dalam pertumbuhan iman serta kehidupan menggereja.

Selanjutnya, Santi Manalu diajak mendalami makna masing-masing sakramen dalam kehidupan umat Katolik. Sakramen Baptis menjadi pintu masuk ke dalam kehidupan Kristiani, sedangkan Sakramen Ekaristi merupakan sumber dan puncak kehidupan iman Gereja. Sakramen Krisma menguatkan rahmat Baptis, Sakramen Tobat menghadirkan pengampunan Allah, dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit memberikan kekuatan serta penghiburan bagi mereka yang mengalami sakit berat. Sementara itu, Sakramen Perkawinan dan Tahbisan berkaitan dengan panggilan hidup serta pelayanan bagi Gereja dan sesama.

Melalui pendalaman materi ini, peserta juga diajak memahami bahwa penerimaan sakramen perlu disertai persiapan yang baik, pemahaman iman, dan keterbukaan hati terhadap rahmat Allah. Setiap sakramen memiliki makna dan tujuan tersendiri, tetapi semuanya mengarahkan umat kepada Kristus serta membantu mereka bertumbuh dalam kasih dan kekudusan. Dengan pemahaman tersebut, katekumen diharapkan tidak hanya mengenal nama dan jumlah sakramen, tetapi juga mampu menghayati maknanya dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi kepada Penyuluh Agama Katolik yang senantiasa memberikan pembinaan dan pelayanan kepada masyarakat, baik secara tatap muka maupun melalui sarana daring. Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu upaya untuk memperluas jangkauan pelayanan keagamaan sehingga pembinaan iman dapat menjangkau masyarakat yang berada di luar wilayah Kota Medan.
“Saya sangat mengapresiasi para penyuluh agama yang terus berkomitmen memberikan pembinaan dan pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan tidak hanya dilaksanakan melalui pertemuan tatap muka, tetapi juga dapat dilakukan secara daring. Semoga pembinaan ini memberikan manfaat, menambah wawasan keagamaan, serta semakin memperkuat iman dan ketakwaan peserta sesuai dengan keyakinan masing-masing,” ujar Agus Salim.

Kegiatan pendampingan secara daring ini menjadi salah satu upaya untuk memperluas pelayanan pembinaan iman bagi katekumen, termasuk mereka yang berada di luar wilayah Kota Medan. Melalui pendampingan yang terarah dan berkelanjutan, Santi Manalu diharapkan semakin mengenal ajaran Gereja Katolik, memperdalam iman kepada Yesus Kristus, serta mempersiapkan diri untuk mengambil bagian dalam kehidupan sakramental Gereja.
Dengan adanya pembinaan ini, KUA Medan Sunggal terus mendorong penguatan pelayanan keagamaan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Diharapkan, pendampingan katekumen dapat menjadi bekal bagi peserta untuk bertumbuh sebagai umat Katolik yang dewasa dalam iman serta mampu menjadi saksi kasih Kristus di tengah keluarga dan masyarakat.(RAS/PAI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *